home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Risiko Kesehatan dari Kebiasaan Makan Terlalu Banyak

Risiko Kesehatan dari Kebiasaan Makan Terlalu Banyak

Ketika disuguhkan makanan lezat yang berlimpah, sangat mudah bagi seseorang untuk makan berlebihan. Contoh yang paling umum yaitu saat Anda makan di restoran all you can eat. Padahal, makan terlalu banyak tentu memiliki efek negatif bagi tubuh.

Efek langsung yang akan Anda rasakan yakni perut begah akibat kekenyangan. Akan tetapi, ini baru contoh kecilnya.

Dalam jangka panjang, kebiasaan makan berlebihan bisa saja menimbulkan banyak gangguan kesehatan.

Efek jangka pendek makan terlalu banyak

efek makan terlalu banyak jangka pendek

Otak butuh waktu sekitar 20 menit untuk mengirimkan sinyal kenyang ke lambung.

Jika dalam 20 menit Anda terus makan, tanpa sadar Anda akan makan secara berlebihan begitu sinyal kenyang mencapai lambung.

Makan berlebihan menyebabkan lambung membesar melebihi ukuran normalnya untuk menyesuaikan jumlah makanan yang masuk.

Lambung yang membesar ini menekan organ-organ lain sehingga Anda merasa tidak nyaman.

Makan terlalu banyak juga menimbulkan efek pada kerja organ tubuh. Organ-organ Anda bekerja lebih keras dari biasanya untuk mencerna makanan.

Pankreas dan usus juga menghasilkan lebih banyak enzim pencernaan untuk membantu proses ini.

Agar makanan lebih mudah dicerna, dinding lambung juga memproduksi lebih banyak asam klorida (HCl).

Jika Anda makan banyak, asam lambung dapat naik ke kerongkongan dan menyebabkan panas atau rasa tidak nyaman di ulu hati (heartburn).

Pada saat yang sama, lambung menghasilkan banyak gas yang membuat perut semakin terasa penuh.

Kombinasi rasa tidak nyaman dan bertambah kerasnya kerja organ akhirnya memberikan efek lesu dan mengantuk setelah makan terlalu banyak.

Efek jangka panjang makan terlalu banyak

Tubuh Anda sudah selesai mencerna makanan dan kini terasa lebih nyaman. Namun, apakah ini berarti efek makan berlebihan sudah selesai?

Ternyata tidak, ada sejumlah efek jangka panjang yang bisa terjadi bila Anda sering melakukan kebiasaan ini.

1. Bertambahnya berat badan dan risiko obesitas

Artikel Kesehatan Seputar Masalah Obesitas

Tubuh mengubah sebagian kalori dalam makanan yang Anda konsumsi menjadi energi. Sementara itu, sisanya disimpan dalam bentuk lemak.

Jika kalori yang masuk ke tubuh lebih banyak dari yang keluar, Anda akan mengalami kenaikan berat badan.

Menambah berat badan sebenarnya tidak buruk bila Anda melakukannya dengan cara yang sehat.

Namun, kenaikan berat badan akibat kebiasaan makan berlebihan bisa menyebabkan kelebihan berat badan (overweight) atau bahkan obesitas.

2. Meningkatkan risiko diabetes tipe 2

Menurut sebuah penelitian dalam Journal of Eating Disorders, makan terlalu banyak memiliki efek dalam meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

Awalnya, kebiasaan ini dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam perut (lemak viseral) Anda.

Begitu lemak perut menumpuk, tubuh jadi lebih mudah mengalami peradangan. Kondisi ini lalu berujung menjadi resistensi insulin.

Pada kondisi resistensi insulin, insulin yang diproduksi pankreas tidak mampu menurunkan gula darah sehingga kadarnya selalu tinggi.

3. Meningkatkan risiko penyakit jantung

kardiomiopati

Makan secara berlebihan bisa menyebabkan kelebihan berat badan dan ini merupakan faktor risiko dari banyak penyakit.

Anda akan lebih rentan terkena hipertensi, kolesterol tinggi, dan faktor-faktor lainnya yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Efek negatif ini akan semakin besar bila Anda terlalu banyak makan junk food, seperti gorengan, minuman manis, dan daging olahan.

Pasalnya, junk food merupakan sumber lemak trans, gula tambahan, dan natrium dalam jumlah yang besar.

4. Mengganggu proses biologis tubuh

Makan berlebihan bisa membuat tubuh Anda “kewalahan”. Awalnya, organ pencernaan mengeluarkan banyak hormon dan enzim untuk mencerna makanan.

Pankreas kemudian melepaskan banyak insulin yang malah membuat gula darah menjadi rendah.

Gula darah yang rendah membuat tubuh mengira bahwa Anda kekurangan energi. Hal ini membuat Anda ingin makan lebih banyak lagi.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Anda bisa terjebak dalam siklus makan berlebihan yang tiada habisnya.

5. Penyakit kantong empedu

komplikasi batu empedu

Makan terlalu banyak juga menimbulkan efek negatif pada kantong empedu, terutama bila pola makan Anda didominasi oleh makanan berminyak dan tinggi lemak. Ini karena fungsi utama empedu ialah menguraikan lemak agar lebih mudah dicerna.

Saat Anda makan berlebihan, kantong empedu bekerja lebih keras untuk memproduksi cukup empedu.

Namun, empedu yang berlebih dapat mengeras, membentuk batu, dan menyumbat saluran empedu. Akibatnya, terjadilah penyakit kantong empedu.

Ada banyak alasan seseorang makan berlebihan, entah karena sekadar menyukainya, sebagai pelampiasan dari stres (emotional eating), maupun faktor lainnya.

Apa pun itu, makan terlalu banyak menimbulkan efek negatif pada berbagai mekanisme tubuh.

Dalam menjalani pola makan sehat, aturlah porsi makan Anda agar bisa mencukupi kebutuhan tapi tidak berlebihan.

Jika Anda memang mudah merasa lapar, siapkan camilan sehat dan tinggi serat yang bisa membuat Anda kenyang lebih lama.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What happens when you overeat?. (2021). Retrieved 8 December 2021, from https://www.mdanderson.org/publications/focused-on-health/What-happens-when-you-overeat.h23Z1592202.html

5 Very Real Dangers of Binge Eating | Keck Medicine of USC. (2018). Retrieved 8 December 2021, from https://www.keckmedicine.org/5-very-real-dangers-of-binge-eating/

Gut Reaction: Overeating Can Impair Body Function. (2021). Retrieved 8 December 2021, from https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=99074990

Diabetes and Obesity. (2019). Retrieved 8 December 2021, from https://www.diabetes.co.uk/diabetes-and-obesity.html

Raevuori, A., Suokas, J., Haukka, J., Gissler, M., Linna, M., Grainger, M., & Suvisaari, J. (2014). Highly increased risk of type 2 diabetes in patients with binge eating disorder and bulimia nervosa. International Journal Of Eating Disorders, 48(6), 555-562. doi: 10.1002/eat.22334

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 17/12/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro