Apa Bedanya Gemuk dan Obesitas?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Meskipun sering dikira sama, sebenarnya gemuk dan obesitas adalah dua hal yang berbeda. Secara sederhana, obesitas bersifat lebih parah jika dibandingkan dengan kegemukan. Mereka yang gemuk belum tentu obesitas, tetapi mereka yang obesitas sudah pasti gemuk. Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, dalam setiap kategori usia, persentase mereka yang menderita obesitas lebih banyak jika dibandingkan dengan yang memiliki berat badan berlebih atau gemuk. Wanita juga memiliki persentase lebih tinggi baik dalam kategori berat badan lebih maupun obesitas. Sementara berdasarkan wilayah tempat tinggal, mereka yang tinggal di wilayah perkotaan memiliki persentase gemuk dan obesitas yang lebih tinggi.

Apa perbedaan antara gemuk dan obesitas?

Baik gemuk maupun obesitas, keduanya sama-sama mengindikasikan adanya kelebihan kadar lemak dalam tubuh. Gemuk dan obesitas digunakan untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko tinggi untuk mengalami masalah kesehatan yang diakibatkan kelebihan kadar lemak dalam tubuh. Gemuk dan obesitas biasanya diukur menggunakan IMT atau Indeks Massa Tubuh. Penghitungan indeks massa tubuh ini menggunakan berat badan dan tinggi badan. Caranya yaitu membagi berat badan Anda dalam kilogram dengan hasil kuadrat tinggi badan Anda dalam meter. Sebagai contoh, jika berat badan Anda 58 kg dan tinggi badan Anda 1,6 meter maka penghitungannya adalah 58/1,6 x 1,6 sehingga didapatkan hasil 22,65.

Indeks Masa Tubuh (IMT) inilah yang kemudian digunakan untuk menentukan apakah Anda termasuk gemuk atau obesitas. Pembagian indeks masa tubuh adalah sebagai berikut:

  • <18,5 termasuk kategori kurus atau kurang berat badan.
  • 18,5 hingga <25 termasuk kategori normal.
  • 25 hingga <30 berada pada kategori berat badan berlebih atau gemuk.
  • >30 termasuk kategori obesitas.

Obesitas kemudian masih dibagi lagi menjadi:

  • Obesitas kelas 1: indeks massa tubuh antara 30 hingga <35
  • Obesitas kelas 2: indeks massa tubuh antara 35 hingga <40
  • Obesitas kelas 3; indeks massa tubuh di atas angka 40. Obesitas ini biasanya disebut juga obesitas ekstrem atau obesitas parah.

Apakah pengukuran lemak dengan indeks masa tubuh akurat?

Pengukuran yang menghasilkan gemuk dan obesitas biasanya dilakukan menggunakan indeks massa tubuh. Pada masing-masing individu, indeks massa tubuh merupakan salah satu alat skrining yang cukup baik untuk mendeteksi status gizi, tetapi tidak dapat digunakan untuk mengetahui total jumlah lemak dalam tubuh atau menyatakan status kesehatan seseorang. Maka dari itu, praktisi kesehatan disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut jika ingin mendiagnosis status kesehatan seseorang maupun risiko mengidap penyakit tertentu.

Meskipun indeks massa tubuh tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar lemak dalam tubuh secara langsung, tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa hasil pengukuran indeks massa tubuh tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil pengukuran lemak tubuh secara langsung melalui pengecekan tebal lemak kulit, impedansi biolektrikal, pengukuran berat badan di bawah air, maupun metode pengukuran lemak tubuh lainnya. Lebih jauh lagi, indeks massa tubuh juga berhubungan secara kuat dengan berbagai macam kondisi kesehatan jika dibandingkan dengan pengukuran kadar lemak secara langsung.

Bagaimana pengukuran gemuk dan obesitas pada anak?

Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki metode pengukuran yang berbeda. Anak-anak dan balita akan diukur berat badan dan tinggi badannya lalu hasil pengukuran akan dikonversikan ke dalam nilai terstandar yang disebut Zscore. WHO pada tahun 2005 menerbitkan angka baku untuk menginterpretasikan nilai Zscore ini. Jika anak Anda memilki kartu KMS (Kartu Menuju Sehat), maka akan lebih mudah untuk memantau status gizinya, mintalah tenaga kesehatan tempat Anda memeriksakan Anda untuk senantiasa memeriksa berat dan tinggi badan anak secara rutin dan berkala.

Mana yang lebih berbahaya, gemuk atau obesitas?

Secara keseluruhan, baik gemuk maupun obesitas sama-sama memberikan efek buruk bagi kesehatan Anda, karena keduanya merupakan penanda bahwa Anda mengalami kelebihan lemak. Tetapi jika dihubungkan dengan banyaknya kadar lemak dalam tubuh, maka obesitas sudah pasti lebih berbahaya dibandingkan dengan kegemukan karena lebih tingginya kadar lemak dalam tubuh. Namun coba perhatikan di mana lemak Anda tersimpan. Meskipun Anda belum termasuk obesitas, tetapi jika lemak Anda banyak terdapat pada perut, maka risiko Anda menderita berbagai jenis penyakit degeneratif menjadi lebih besar. Lemak perut lebih berbahaya jika dibandingkan dengan lemak yang terdapat pada pinggul atau bagian tubuh lainnya.

Cara paling mudah untuk mengukur apakah Anda memiliki penumpukan lemak di perut adalah dengan cara mengukur lingkar pinggang Anda. Pada wanita, disarankan lingkar pinggang Anda tidak melebihi 80 cm, sementara pada pria tidak lebih dari 90 cm.

BACA JUGA:

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Olahraga malam hari bisa membantu Anda tidur nyenyak dan menghindarkan diri dari sengatan sinar matahari. Berikut 4 olahraga untuk dilakukan di malam hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Olahraga Lainnya, Kebugaran 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kelopak mata bengkak, apa penyebabnya

Penyebab Kelopak Mata Bengkak dan Cara Tepat Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit