home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

Zat Aditif pada Makanan Ternyata Tak Selalu Berbahaya

Zat aditif adalah bahan yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk meningkatkan kualitas makanan. Bisa berupa ditambah pewarna supaya warnanya lebih menarik, bisa ditambahkan perasa supaya rasa makanan lebih enak, atau ditambahkan bahan lainnya dengan tujuan tertentu.

Untuk mengetahuinya lebih lanjut, mari simak ulasan berikut ini.

Apa itu zat aditif?

apa itu zat aditif

Zat aditif atau bahan tambahan pangan yaitu bahan kimia yang ditambahkan ke dalam makanan dengan tujuan agar makanan tetap segar atau untuk meningkatkan warna, rasa, atau tekstur makanan.

Zat aditif terdapat dalam bentuk alami maupun buatan. Macam-macam zat aditif adalah pewarna makanan, pemanis, penguat rasa (seperti MSG), bahan pengawet, pengemulsi, dan masih banyak lagi.

Namun, berdasarkan Food and Drug Regulations, bahan tambahan pangan tidak termasuk:

  • bahan-bahan dalam makanan, seperti garam, gula, dan pati,
  • vitamin, mineral, dan asam amino,
  • bumbu, rempah-rempah, atau penyedap,
  • bahan kimia pertanian,
  • obat hewan, serta
  • bahan kemasan makanan.

Jika Anda berbelanja makanan kemasan di supermarket, Anda dapat melihat bahan tambahan pangan apa saja yang terkandung dalam makanan kemasan tersebut di kolom komposisi bahan.

Mungkin Anda tidak mengetahui komposisi yang mana yang dikatakan sebagai zat aditif karena biasanya dicantumkan dalam bentuk kode, tetapi beberapa juga dicantumkan namanya.

Apa saja fungsi zat aditif?

Bahan tambahan pangan sengaja ditambahkan dalam makanan untuk memberikan fungsi tertentu pada makanan. Beberapa fungsi utama dari bahan tambahan pangan adalah sebagai berikut.

Memberikan tekstur yang halus dan konsisten

Fungsi ini dapat ditemui dalam zat aditif berupa:

  • pengemulsi: untuk menyatukan beberapa tekstur bahan makanan berbeda menjadi satu,
  • stabilisator dan pengental: untuk memberikan tekstur yang lebih pada makanan, serta
  • agen anti-kempal: agar makanan tidak menggumpal.

Mempertahankan kegunaan dari makanan

Zat aditif yang berfungsi untuk mempertahankan kegunaan makanan adalah pengawet. Pengawet dapat menghambat pertumbuhan kuman pada makanan, sehingga makanan tidak cepat busuk.

Pengawet tertentu juga dapat mempertahankan rasa pada makanan yang dipanggang dengan mencegah lemak dan minyak menjadi buruk.

Mengontrol keseimbangan asam-basa dalam makanan

Zat aditif tertentu dapat membantu mengubah keseimbangan asam-basa dalam makanan untuk mendapatkan rasa atau warna tertentu, seperti pengatur keasaman.

Penambahan pengembang dalam makanan juga dapat melepaskan asam, sehingga bila makanan dipanaskan, maka dapat membuat makanan, seperti biskuit, kue, dan makanan yang dipanggang lainnya menjadi mengembang.

Memberikan warna dan meningkatkan rasa

Pewarna yang sengaja ditambahan pada makanan tertentu dapat membuat warna makanan menjadi menarik. Sedangkan, perasa juga bisa ditambahkan ke dalam makanan untuk menghasilkan rasa yang kuat pada makanan tersebut.

Fungsi bahan tambahan pangan lainnya yaitu:

  1. mencegah kerusakan oksidatif makanan (antioksidan),
  2. menambah rasa manis yang tersedia dalam makanan tanpa menambah kalorinya (pemanis),
  3. meningkatkan kekentalan makan (pengental),
  4. mengurangi hilangnya kelembapan pada makanan (humektan), dan
  5. masih banyak lagi bahan tambahan pangan lainnya.

Apakah zat aditif aman?

Banyak zat tambahan yang digunakan oleh industri makanan juga ditemukan dalam makanan tertentu sebagai bahan alami yang terkandung di dalamnya.

Misalnya saja MSG, yang ditemukan secara alami dalam keju parmesan, sarden, dan tomat dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan MSG yang ditemukan sebagai bahan tambahan pangan dalam makanan.

Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa semua bahan tambahan pangan berbahaya, tetapi itu tidak benar. Zat aditif dinyatakan aman untuk dikonsumsi dalam jumlah tertentu.

Di Indonesia sendiri, penggunan zat aditif telah diatur oleh BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan). BPOM menjamin bahan tambahan pangan aman digunakan dalam makanan.

Beberapa orang mungkin sensitif terhadap bahan tambahan pangan tertentu, ia bisa saja memunculkan reaksi alergi, seperti gatal pada kulit atau diare. Namun, ini tidak bisa digeneralisasikan untuk semua bahan tambahan pangan.

Beberapa bahan tambahan makanan yang mungkin dapat menyebabkan masalah pada beberapa orang adalah sebagai berikut.

  • Penambah rasa, seperti monosodium glutamat (MSG) 621
  • Pewarna makanan, seperti tartrazine 102, yellow 2G107, sunset yellow FCF110, cochineal 120
  • Pengawet, seperti benzoat 210, 211, 212, dan 213, nitrat 249, 250, 251, 252, sulfit 220, 221, 222, 223, 224, 225, dan 228
  • Pemanis buatan, seperti aspartam 951

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Better Health Channel. Food Additives. Retrieved from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/food-additives. Accessed January 15, 2021.

Henochowicz, Stuart I. 2016. Food Additives. Medline Plus. Retrieved from https://medlineplus.gov/ency/article/002435.htm. Accessed January 15, 2021.

Food Standards Australia New Zealand. 2016. What Do Food Additives Do? Retrieved from http://www.foodstandards.gov.au/consumer/additives/additiveinfo/pages/default.aspx. Accessed January 15, 2021.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Arinda Veratamala
Tanggal diperbarui 15/01/2021
x