home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hati-hati, Pemanis Buatan Juga Bisa Bikin Anda Gemuk

Hati-hati, Pemanis Buatan Juga Bisa Bikin Anda Gemuk

Pemanis buatan sebagai pengganti gula saat ini sangat diminati oleh banyak orang, karena dianggap lebih menyehatkan daripada gula pasir atau gula merah. Namun, penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi pemanis rendah kalori dalam jumlah banyak justru dapat merangsang pembentukan lemak, terutama bagi individu yang mengalami obesitas.

Menurut penelitian, pemanis buatan justru mendorong produksi lemak

Menurut Badan Pengawas Obat dan Minuman (BPOM), pemanis buatan adalah jenis pemanis yang bahan bakunya tidak dapat ditemukan di alam dan dihasilkan melalui proses kimiawi. Contoh dari pemanis yang disebut juga dengan pemanis rendah kalori ini adalah aspartam, siklamat, sukralosa, dan sakarin. Jenis pemanis rendah kalori ini biasa digunakan pada makanan olahan seperti sirup, soda, selai, hingga makanan khusus yang ditujukan bagi penderita diabetes atau makanan khusus diet.

Para peneliti di Universitas Washington, meneliti mengenai efek sukralosa (salah satu jenis pemanis buatan) pada sel induk yang berasal dari jaringan lemak manusia dan sampel lemak perut.

Penelitian ini menemukan bahwa sel-sel induk menunjukkan peningkatan suatu gen yang merupakan indikator produksi lemak. Selain itu, sel-sel induk menunjukkan peningkatan akumulasi lemak, terutama ketika terkena dosis sukralosa yang lebih tinggi.

Penelitian ini selanjutnya melibatkan delapan orang yang akan melakukan biopsi lemak perut. Delapan orang ini aktif mengonsumsi pemanis buatan, terutama sukralosa dan aspartam. Empat orang diantaranya menderita obesitas, dan empat lainnya dalam kondisi sehat, dan tidak memiliki kondisi medis tertentu.

Sampel dari delapan orang ini, kemudian dibandingkan dengan sampel yang diambil dari orang yang tidak mengonsumsi pemanis buatan. Hasilnya, sampel dari delapan orang yang aktif mengonsumsi pemanis rendah kalori ini tidak hanya menunjukkan peningkatan transportasi glukosa ke dalam sel, tetapi mereka juga menunjukkan peningkatan pada gen yang terkait dengan produksi lemak. Sementara sampel orang yang tidak mengonsumsi pemanis buatan tidak menghasilkan hasil yang sama dengan orang yang mengonsumsi pemanis buatan.

Bagaimana cara aman konsumsi pemanis buatan agar tidak gemuk?

Aspartam dan sukralosa keduanya disetujui oleh FDA untuk konsumsi manusia, namun FDA juga menetapkan batas konsumsi harian untuk setiap pemanis buatan, yang merupakan jumlah maksimum dianggap aman untuk dikonsumsi setiap hari selama seumur hidup.

Untuk aspartam sendiri, FDA telah menetapkan jumlah maksimum sebanyak 50 mg per kilogram (mg/kg) berat badan. Maka jika Anda memiliki berat badan 50 kg, konsumsi aspartam maksimal per hari adalah 2.500 mg.

Menurut ahli gizi dan pangan Jennifer McDaniel mengatakan, walau satu kaleng minuman soda umumnya hanya mengandung 200 mg aspartam, Anda tetap harus mempertimbangkan untuk membatasi asupannya. Mengapa?

Karena, aspartam memiliki rasa manis 200 kali lipat ketimbang gula, sehingga menyebabkan Anda ingin terus mengonsumsi minuman manis dan meningkatkan keinginan makanan olahan lebih banyak.

Meskipun FDA menyatakan pemanis rendah kalori ini aman untuk dikonsumsi, nyatanya belum ada penelitian yang sepenuhnya mengetahui efek jangka panjang bagi kesehatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Yuliati Iswandiari
Tanggal diperbarui 15/05/2017
x