Berbagai teh herbal memiliki aroma sedap dan menghangatkan tubuh. Salah satu jenis teh yang digemari para penikmat teh saat bersantai sore adalah teh oolong. Tak hanya nikmat, teh ini juga menawarkan berbagai khasiat untuk kesehatan.
Berbagai teh herbal memiliki aroma sedap dan menghangatkan tubuh. Salah satu jenis teh yang digemari para penikmat teh saat bersantai sore adalah teh oolong. Tak hanya nikmat, teh ini juga menawarkan berbagai khasiat untuk kesehatan.

Teh oolong adalah teh yang dibuat dari daun Camellia sinensis yang dijemur di bawah sinar matahari, lalu dibiarkan teroksidasi sebagian.
Hal tersebutlah yang membuat teh oolong berwarna hitam, tetapi sedikit samar.
Teh ini kaya akan fitonutrien atau senyawa khas tanaman. Berikut berbagai jenis zat gizi yang terkandung.

Berikut sejumlah manfaat yang bisa Anda dapatkan dari teh tradisional Cina ini.
Manfaat teh oolong dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan kognitif otak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kafein dalam jangka panjang memiliki efek perlindungan terhadap risiko mengidap Alzheimer dan Parkinson.
Kafein bisa melindungi sistem saraf pusat dan meningkatkan senyawa penting di otak, seperti serotonin dan asetilkolin.
Kandungan EGCG pada teh pun bisa memengaruhi kadar protein yang menjadi penanda Alzheimer dan Parkinson di otak.
Teh oolong mengandung kafein yang bekerja merangsang kerja sistem saraf pusat otak. Jadi, Anda bisa lebih terjaga dan fokus.
Kafein juga meningkatkan kemampuan kecerdasan yang meliputi pengambilan keputusan dan kreativitas.
Studi terbitan IEEE Xplore (2020) menemukan bahwa jenis teh ini bisa meningkatkan kemampuan berpikir pada lansia saat sedang membaca buku. Manfaat ini berasal dari kandungan gizi theanine.
Rutin mengonsumsi teh oolong memberikan pasokan antioksidan yang baik untuk kesehatan jantung.
Sebuah studi terbitan Journal Of Epidemiology & Community Health (2009) mengamati 76 ribu orang yang mengonsumsi segelas teh atau lebih dalam sehari bisa menurunkan risiko penyakit jantung hingga 61 persen.
Khasiat ini berkaitan dengan kandungan katekin yang membantu mengendalikan tekanan darah dan mengurangi penyumbatan pembuluh darah.
Penyumbatan pembuluh darah dan hipertensi berisiko menimbulkan penyakit jantung, seperti serangan jantung dan penyakit jantung koroner.

Manfaat teh oolong bisa menjaga kesehatan tulang dan gigi.
Sebagai asupan tinggi polifenol, teh ini merangsang sel pembentuk tulang dan menghambat pengeroposan tulang.
Selain itu, teh mengandung katekin yang berpotensi melawan bakteri Porphyromonas gingivalis atau bakteri penyebab infeksi tulang penyangga gigi.
Teh juga mengendalikan kadar keasaman di mulut sehingga gigi tidak mudah berlubang.
Teh oolong kaya akan berbagai senyawa antioksidan yang bisa melindungi kulit dari paparan radikal bebas, seperti paparan sinar matahari.
Studi pun menemukan bahwa mengonsumsi teh meningkatkan kadar kolagen dan elastin, yaitu protein yang membuat kulit kencang dan lentur.
Penelitian lama terbitan Archives of Dermatology (2001) mengamati bahwa konsumsi teh oolong satu liter per hari selama seminggu bisa mengurangi gejala dermatitis alergi. Khasiat ini berasal dari kandungan polifenolnya bersifat antialergi.
Seperti halnya teh hijau, teh oolong mengandung katekin. Kandungan ini berfungsi meningkatkan metabolisme sehingga bisa mengurangi lemak tubuh.
Kandungan kafeinnya juga meningkatkan suhu tubuh saat berolahraga. Alhasil, tubuh pun bisa membakar kalori lebih banyak.
Meski begitu, Anda tidak bisa mengonsumsi teh saja untuk menurunkan berat badan. Anda tetap perlu mengimbanginya dengan olahraga dan mengurangi asupan kalori.
Teh oolong kaya akan kandungan yang bersifat antioksidan. Hal ini dapat dapat membantu tubuh melawan radikal bebas penyebab kanker.
Teh ini juga mengandung EGCG yang menghambat pertumbuhan, perkembangan, dan pertambahan jumlah sel kanker payudara.
Peneliti pun mengamati bahwa kanker payudara di wilayah produsen teh oolong, Provinsi Fujian, lebih rendah daripada rata-rata total kasus kanker payudara di Cina.
Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa manfaat teh oolong berperan mencegah risiko kanker ovarium.

Kandungan ECGC pada teh berpotensi mengurangi keparahan gejala pada rematik dengan cara menghambat sel pemicu peradangan.
Cara kerja ini membantu menurunkan risiko kerusakan tulang rawan yang lebih parah akibat konsumsi obat penekan imun.
Obat penekan imun juga membuat tubuh rentan mengalami infeksi. Kandungan ECGC juga memperkuat sel imun yang bisa melawan infeksi.
Sebagaimana teh hijau, teh dari daun Camellia sinensis bisa melindungi tubuh dari diabetes dan komplikasinya.
Kandungan katekin mengurangi resistensi insulin, yakni kondisi saat tubuh tak bisa menggunakan hormon insulin untuk mengontrol gula darah.
Katekin juga meningkatkan fungsi hormon insulin supaya bisa mengendalikan gula darah dengan baik.
Kandungan EGCG pada teh oolong memberikan efek antibakteri, artinya bisa melawan bakteri penyebab infeksi.
Studi menemukan bahwa EGCG bisa melawan infeksi bakteri Salmonella, E. coli, Pseudomonas, dan Klebsiella spp.
Selain konsumsi teh ini, Anda bisa mendapatkan manfaat antibakteri yang lebih optimal dari makanan probiotik.
Ada beragam manfaat teh oolong untuk kesehatan. Namun, beberapa khasiat masih perlu diteliti lebih lanjut.
Untuk itu, Anda tidak bisa mengonsumsinya sebagai satu-satunya pengobatan. Konsumsilah teh dengan gula seminim mungkin agar lebih sehat.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Alasmari, F. (2020). Caffeine induces neurobehavioral effects through modulating neurotransmitters. Saudi Pharmaceutical Journal : SPJ, 28(4), 445-451. https://doi.org/10.1016/j.jsps.2020.02.005
Wierzejska, R. (2017). Can coffee consumption lower the risk of Alzheimer’s disease and Parkinson’s disease? A literature review. Archives of Medical Science : AMS, 13(3), 507-514. https://doi.org/10.5114/aoms.2016.63599
Zhang, B., Liu, Y., Wang, X., Deng, Y., & Zheng, X. (2020). Cognition and Brain Activation in Response to Various Doses of Caffeine: A Near-Infrared Spectroscopy Study. Frontiers in Psychology, 11. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01393
R. Chaisricharoen, W. Srimaharaj and S. Manurkar, “Consideration of Oolong Tea Effect on Senior’s Cognitive Performance,” 2020 Joint International Conference on Digital Arts, Media and Technology with ECTI Northern Section Conference on Electrical, Electronics, Computer and Telecommunications Engineering (ECTI DAMT & NCON), Pattaya, Thailand, 2020, pp. 91-94, https://doi.org/10.1109/ECTIDAMTNCON48261.2020.9090704.
Mineharu, Y., Koizumi, A., Wada, Y., Iso, H., Watanabe, Y., & Date, C. et al. (2009). Coffee, green tea, black tea and oolong tea consumption and risk of mortality from cardiovascular disease in Japanese men and women. Journal of Epidemiology & Community Health, 65(3), 230-240. https://doi.org/10.1136/jech.2009.097311
Mangels, D. R., & Mohler III, E. R. (2017). Catechins as potential mediators of cardiovascular health. Arteriosclerosis, thrombosis, and vascular biology, 37(5), 757-763. https://doi.org/10.1161/ATVBAHA.117.309048
Sun, K., Wang, L., Ma, Q., Cui, Q., Lv, Q., Zhang, W., & Li, X. (2017). Association between tea consumption and osteoporosis: A meta-analysis. Medicine, 96(49). https://doi.org/10.1097/MD.0000000000009034
Balappanavar, A. (2020). Tea and Oral Health. Tea – Chemistry And Pharmacology. https://doi.org/10.5772/intechopen.80998
Prasanth, M. I., Sivamaruthi, B. S., Chaiyasut, C., & Tencomnao, T. (2019). A Review of the Role of Green Tea (Camellia sinensis) in Antiphotoaging, Stress Resistance, Neuroprotection, and Autophagy. Nutrients, 11(2). https://doi.org/10.3390/nu11020474
Uehara M, Sugiura H, Sakurai K. A trial of oolong tea in the management of recalcitrant atopic dermatitis. Arch Dermatol. 2001 Jan;137(1):42-3. https://doi.org/10.1001/archderm.137.1.42. PMID: 11176659.
Lee AH, Su D, Pasalich M, Binns CW. Tea consumption reduces ovarian cancer risk. Cancer Epidemiol. 2013 Feb;37(1):54-9. https://doi.org/10.1016/j.canep.2012.10.003. Epub 2012 Oct 26. PMID: 23107758.
SHI, H., LIU, J., TU, Y., FRETER, C., & HUANG, C. (2018). Oolong Tea Extract Induces DNA Damage and Cleavage and Inhibits Breast Cancer Cell Growth and Tumorigenesis. Anticancer Research, 38(11), 6217-6223. https://doi.org/10.21873/anticanres.12976
Hodgson, A. B., Randell, R. K., & Jeukendrup, A. E. (2013). The Effect of Green Tea Extract on Fat Oxidation at Rest and during Exercise: Evidence of Efficacy and Proposed Mechanisms. Advances in Nutrition, 4(2), 129-140. https://doi.org/10.3945/an.112.003269
Clark, K. S., Coleman, C., Shelton, R., Heemstra, L. A., & Novak, C. M. (2019). Caffeine enhances activity thermogenesis and energy expenditure in rats. Clinical and experimental pharmacology & physiology, 46(5), 475. https://doi.org/10.1111/1440-1681.13065
Fight Inflammation With a Cup of Tea – Living With Arthritis. (2016). Retrieved 2 February 2023, from http://blog.arthritis.org/living-with-arthritis/health-benefits-of-tea/
Nie, J., Yu, C., Guo, Y., Pei, P., Chen, L., Pang, Y., Du, H., Yang, L., Chen, Y., Yan, S., Chen, J., Chen, Z., Lv, J., & Li, L. (2021). Tea consumption and long-term risk of type 2 diabetes and diabetic complications: A cohort study of 0.5 million Chinese adults. The American Journal of Clinical Nutrition, 114(1), 194-202. https://doi.org/10.1093/ajcn/nqab006
Gopal, J., Muthu, M., Paul, D. et al. Bactericidal activity of green tea extracts: the importance of catechin containing nano particles. Sci Rep 6, 19710 (2016). https://doi.org/10.1038/srep19710
Sakil Munna, M. (2018). Demonstration of Antimicrobial Activity of Commercial Oolong Tea and Green Tea Against Pathogenic Bacteria. American Journal Of Plant Biology, 3(1), 8. https://doi.org/10.11648/j.ajpb.20180301.12
Caffeine: How much is too much?. (2023). Retrieved 2 February 2023, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/caffeine/art-20045678
P camellia sinensis (Theaceae) pdf. Dr. Duke’s Phytochemical and Ethnobotanical Databases at NAL. (n.d.). Retrieved February 2, 2023, from https://phytochem.nal.usda.gov/phytochem/plants/show/322?qlookup=camelia%2Bsinensis&offset=0&max=20&et=
Versi Terbaru
11/07/2023
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Abduraafi Andrian
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)