Jika sedang tidak punya waktu untuk memasak, frozen food (makanan beku) menjadi penyelamat. Anda bahkan dapat memilih berbagai bahan makanan, seperti daging, sayuran, dan makanan olahan. Namun, apa dampak makan frozen food?
Jika sedang tidak punya waktu untuk memasak, frozen food (makanan beku) menjadi penyelamat. Anda bahkan dapat memilih berbagai bahan makanan, seperti daging, sayuran, dan makanan olahan. Namun, apa dampak makan frozen food?

Dari daging, kentang, hingga buah-buahan beraneka warna, Anda kini bisa menjumpai hampir semua bahan makanan dalam bentuk frozen food.
Di balik reputasinya yang tidak sebaik makanan segar, frozen food sebenarnya tidak melulu jahat bagi tubuh.
Esther Ellis, MS, RDN, LDN, seorang ahli gizi perawatan paliatif di AS, menyebutkan bahwa proses pembekuan tidak menjadikan suatu makanan menyehatkan atau tidak.
Hal ini sepenuhnya tergantung pada kandungan gizi bahan makanan itu sendiri.
Bahan makanan pada dasarnya selalu melewati proses yang sama, dari proses panen, penyortiran, pencucian, hingga pengemasan.
Jadi, tidak ada perbedaan nilai gizi antara sayuran beku dan sayuran segar, ataupun daging beku dan daging segar.
Jika Anda khawatir akan dampak makan frozen food, ingat bahwa proses pembekuan justru bisa mempertahankan kesegaran dan kandungan beragam vitamin dari suatu bahan makanan.
Pada kondisi tertentu, frozen food bahkan bisa mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan makanan segar.
Ini karena zat gizi bisa rusak akibat suhu tinggi, cahaya matahari, air, dan faktor-faktor lainnya.
Secara umum, proses pembekuan tidak memengaruhi jumlah kalori total, karbohidrat, protein, serta lemak dalam bahan makanan Anda.
Namun, tekstur dan rasa makanan beku mungkin tidak sebaik makanan segar karena kandungan airnya berkurang.
Meskipun beberapa frozen food memiliki kandungan gizi yang kurang lebih sama dengan makanan segar, tidak berarti Anda bisa mengonsumsinya setiap hari.
Pasalnya, kebanyakan frozen food yang Anda temukan di pasar swalayan merupakan makanan yang sudah diproses secara intensif (ultra-processed food).
Makanan tersebut merupakan makanan olahan yang disajikan dalam bentuk beku, seperti nuget ayam, sosis, bakso, atau kentang siap goreng. Frozen food seperti ini bukanlah makanan segar yang dibekukan.
Di bawah ini sejumlah bahaya frozen food dalam jangka panjang.
Makanan olahan kemasan biasanya tinggi natrium, begitu pun dengan yang dibekukan, contohnya sepotong lasagna beku bisa mengandung 900 miligram natrium.
Asupan natrium lebih dari 2.300 mg per hari merupakan penyebab utama hipertensi.
Makanan kemasan biasanya juga mengandung banyak zat aditif, seperti pengawet makanan, penguat rasa, dan pemanis buatan.
Konsumsi zat aditif yang berlebihan bisa meningkatkan risiko penyakit degeneratif pada kemudian hari.

Salah satu dampak makan frozen food yang paling umum ialah bertambahnya asupan lemak jenuh dan lemak trans.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal jantung.
Selain tinggi lemak, makanan olahan yang dibekukan juga mengandung banyak kalori. Makanan olahan beku juga tidak memberikan rasa kenyang seperti makanan segar.
Akibatnya, Anda jadi sering merasa lapar dan cenderung makan berlebihan.
Tidak semua frozen food diproses dengan cara yang sama. Banyak di antaranya mengandung natrium, gula tambahan, lemak trans, dan zat aditif dalam jumlah yang besar.
Anda perlu cermat memilih demi menghindari dampak negatif makan frozen food bagi kesehatan.
Anda bisa lebih bebas ketika memilih bahan makanan segar yang dibekukan. Saat membeli makanan olahan beku, selalu cermati label informasi nilai gizi pada kemasannya.
Bila perlu, bandingkan nilai gizi suatu produk dengan produk lainnya.
Carilah produk yang tidak banyak mengandung garam (natrium), lemak jenuh, dan gula tambahan.
Bila memungkinkan, pilihlah produk dengan zat aditif yang lebih sedikit, tapi tinggi akan serat, vitamin, dan mineral.
Perlu juga diingat bahwa kebanyakan frozen food dalam kemasan memiliki takaran saji lebih dari satu.
Ini berarti Anda harus mengalikan kalori dan zat gizi yang tertera pada label informasi gizi sesuai takaran sajinya.
Meskipun makan frozen food tidak selalu memberikan dampak negatif, bahan makanan segar tetap lebih baik ketimbang makanan beku.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Frozen Foods: Convenient and Nutritious. (2023). Retrieved 7 August 2024, from https://www.eatright.org/food/planning-and-prep/smart-shopping/frozen-foods-convenient-and-nutritious
Can freezing food cause cancer?. (2021). Retrieved 7 August 2024, from https://www.cancer.org.au/iheard/can-freezing-food-cause-cancer
Shopping for Health: Guide to Frozen Meals. (2021). Retrieved 7 August 2024, from https://edis.ifas.ufl.edu/pdf%5CFS%5CFS18600.pdf
The Pros and Cons of Frozen Foods – Tufts Health & Nutrition Letter. (2019). Retrieved 7 August 2024, from https://www.nutritionletter.tufts.edu/healthy-eating/weight-mgmt/the-pros-and-cons-of-frozen-foods/
The cold, hard facts about frozen foods. (2024). Retrieved 7 August 2024, from https://www.cspinet.org/cspi-news/cold-hard-facts-about-frozen-foods
Frozen Foods: Myth or Fact?: Blog. (n.d.). Retrieved 7 August 2024, from https://northshorehealth.org/frozenfoods/
Alsailawi, H. A., Mudhafar, M., & Abdulrasool, M. M. (2020). Effect of frozen storage on the quality of frozen foods—A review. Journal of Chemistry and Chemical Engineering, 14, 86-96.
Versi Terbaru
12/08/2024
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala