home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Memahami Katabolisme, Cara Kerja Tubuh untuk Mendapatkan Energi

Memahami Katabolisme, Cara Kerja Tubuh untuk Mendapatkan Energi

Metabolisme adalah proses yang tubuh lakukan untuk mendapatkan energi. Pada dasarnya, metabolisme masih terbagi menjadi dua bagian, yakni katabolisme dan anabolisme.

Tubuh perlu melakukan proses katabolisme untuk memecah nutrisi dan menghasilkan energi. Simak fakta unik apa saja yang berkaitan dengan proses katabolisme.

Apa itu katabolisme?

pengertian katabolisme

Katabolisme adalah proses ketika tubuh mencerna makanan menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana untuk digunakan sebagai energi.

Sederhananya, ketika Anda mengonsumsi makanan dan tubuh mengubahnya menjadi energi utama, saat itulah proses katabolisme terjadi.

Selain itu, katabolisme juga dapat diartikan sebagai proses pembentukan energi yang berasal dari penguraian karbohidrat dan lemak yang berasal dari makanan.

Contoh proses katabolisme salah satunya adalah pemecahan karbohidrat, seperti dari nasi, umbi-umbian, dan sejenisnya, yang masuk ke dalam tubuh Anda.

Proses pencernaan karbohidrat mulai berlangsung di dalam mulut ketika enzim ptialin pada air liur memecah karbohidrat menjadi glukosa yang lebih kecil dan sederhana.

Glukosa merupakan bagian terkecil pada katabolisme karbohidrat yang akan terus berlangsung di dalam lambung dan usus Anda.

Selanjutnya, tubuh akan menyerap glukosa melalui usus halus untuk masuk ke dalam aliran darah. Hal inilah yang dapat membuat kadar gula darah naik setelah makan.

Glukosa dalam aliran darah akan mengalir ke seluruh tubuh dan digunakan sebagai energi oleh sel-sel tubuh yang membutuhkannya.

Hormon yang terlibat dalam proses katabolisme

Proses katabolisme membutuhkan bantuan dari hormon tertentu. Berikut ini adalah beberapa hormon yang berperan dalam proses katabolisme.

Adrenalin

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal ini memicu peningkatan detak jantung dan aliran darah yang membuat tubuh mendapat energi ekstra.

Kortisol

Hormon yang dikenal sebagai “hormon stres” punya banyak peran dalam metabolisme, salah satunya mengatur kadar gula darah dan tekanan darah.

Glukagon

Hormon yang diproduksi di dalam pankreas ini memiliki fungsi bersama insulin dalam menjaga kadar gula darah.

Sitokin

Hormon sitokin memiliki fungsi dalam mengatur sistem kekebalan tubuh. Hormon dan enzim akan bekerja sama dalam memengaruhi proses katabolisme, yang mana hal ini juga akan berdampak pada respons tubuh.

Jika beberapa hormon itu terganggu, hal ini akan memengaruhi katabolisme dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Penyebab katabolisme tubuh berjalan lambat

kurang tidur memengaruhi metabolisme

Meski merupakan proses alami yang terjadi dalam tubuh, proses katabolisme bisa saja berjalan lambat. Hal ini bisa Anda rasakan apabila memiliki beberapa faktor seperti berikut ini.

1. Kurang bergerak dan beraktivitas

Proses katabolisme tubuh akan berjalan dengan lambat saat Anda kurang gerak. Energi dari makanan pada dasarnya akan tubuh gunakan untuk beraktivitas.

Namun, tubuh akan lebih sedikit atau lebih lambat dalam membakar karbohidrat saat tidak banyak bergerak. Akibatnya, energi yang tubuh hasilkan akan semakin sedikit.

2. Tubuh kekurangan asupan kalori

Menurunkan berat badan dengan membatasi jumlah makan kadang kurang tepat. Hal ini akan membuat proses katabolisme dan anabolisme menurun sehingga tubuh tidak menghasilkan energi seperti biasanya.

Saat menurunkan total asupan kalori menjadi sangat sedikit, tubuh akan menganggap Anda sedang kelaparan. Dalam kondisi ini, tubuh akan memperlambat pembakaran kalori.

3. Kurang tidur

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat memperlambat metabolisme tubuh Anda, yang mungkin bisa menyebabkan kenaikan berat badan.

Hal ini bisa menurunkan metabolisme istirahat orang dewasa sehat pada pagi hari. Hasilnya, metabolisme karbohidrat terganggu dan menyebabkan kadar gula darah tinggi.

Kadar gula darah yang tinggi menunjukkan bahwa glukosa yang seharusnya tubuh Anda pecah menjadi energi tetap mengalir bebas dalam aliran darah.

4. Stres

Stres dapat meningkatkan produksi hormon kortisol, yang kemudian membuat nafsu makan Anda meningkat dan memicu kenaikan berat badan.

Pasalnya, karbohidrat yang tidak dipecah menjadi energi disimpan sebagai lemak. Kenaikan berat badan inilah yang dapat menyebabkan metabolisme tubuh Anda menurun.

5. Konsumsi obat-obatan tertentu

Efek samping dari obat-obatan tertentu juga dapat memperlambat metabolisme. Beberapa jenis obat tersebut, seperti antidepresan, obat diabetes, steroid, dan terapi hormon.

Salah satu dampak obat terhadap metabolisme tubuh adalah kenaikan badan. Jika kondisi ini sampai mengganggu, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter Anda.

Cara meningkatkan katabolisme

olahraga aerobik

Beberapa makanan dan minuman, seperti teh hijau, kopi, atau minuman energi diklaim dapat meningkatkan metabolisme. Namun, hal ini masih minim bukti ilmiah dan bukanlah solusi jangka panjang yang efektif.

Meski tidak dapat mengendalikan metabolisme secara langsung, tetapi Anda bisa membakar kalori lebih banyak dengan meningkatkan aktivitas fisik, salah satunya dengan olahraga.

Berolahraga dapat membantu proses katabolisme berjalan lebih baik. Olahraga yang dapat meningkatkan proses katabolisme disebut dengan olahraga katabolik atau aerobik.

Olahraga aerobik adalah cara paling efektif untuk membakar kalori.

Menurut studi dalam jurnal American College of Sports Medicine, untuk mendapatkan hasil maksimal Anda perlu 150 menit olahraga intensitas sedang dan 75 menit olahraga intensitas tinggi dalam seminggu.

Sejumlah jenis olahraga aerobik yang bisa Anda lakukan, seperti bersepeda, renang, dan berlari dapat menjadi latihan yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Latihan ini bisa meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Dengan begitu, paru-paru dan jantung juga akan menjadi lebih sehat sekaligus membantu menurunkan berat badan.

Namun, melakukan olahraga katabolik terus-menerus bukanlah tanpa risiko. Hal ini dapat mengurangi massa otot dan membahayakan kesehatan Anda secara keseluruhan.

Cobalah untuk mengimbanginya dengan latihan kekuatan (strength training) yang berfokus pada penguatan otot, seperti kaki, pinggul, punggung, perut, dada, bahu dan lengan.

Beberapa contoh latihan yang bisa Anda lakukan, termasuk angkat beban dan high-intensity interval training (HIIT). Lakukan hal ini setidaknya dua hari atau lebih dalam seminggu.

Jika Anda memiliki riwayat kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya Anda konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum memulai olahraga tersebut.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Catabolism vs. Anabolism: What’s the Difference?. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 3 September 2021, from https://health.clevelandclinic.org/anabolism-vs-catabolism/ 

How can I speed up my metabolism?. NHS. (2020). Retrieved 3 September 2021, from https://www.nhs.uk/live-well/healthy-weight/metabolism-and-weight-loss/ 

Can you boost your metabolism?. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 3 September 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/weight-loss/in-depth/metabolism/art-20046508 

Müller, M., Enderle, J., Pourhassan, M., Braun, W., Eggeling, B., & Lagerpusch, M. et al. (2015). Metabolic adaptation to caloric restriction and subsequent refeeding: the Minnesota Starvation Experiment revisited. The American Journal Of Clinical Nutrition, 102(4), 807-819. https://doi.org/10.3945/ajcn.115.109173 

Shechter, A., O’Keeffe, M., Roberts, A., Zammit, G., RoyChoudhury, A., & St-Onge, M. (2012). Alterations in sleep architecture in response to experimental sleep curtailment are associated with signs of positive energy balance. American Journal Of Physiology-Regulatory, Integrative And Comparative Physiology, 303(9), R883-R889. https://doi.org/10.1152/ajpregu.00222.2012 

Garber, C. E., Blissmer, B., Deschenes, M. R., Franklin, B. A., Lamonte, M. J., Lee, I. M., Nieman, D. C., Swain, D. P., & American College of Sports Medicine (2011). American College of Sports Medicine position stand. Quantity and quality of exercise for developing and maintaining cardiorespiratory, musculoskeletal, and neuromotor fitness in apparently healthy adults: guidance for prescribing exercise. Medicine and science in sports and exercise, 43(7), 1334–1359. https://doi.org/10.1249/MSS.0b013e318213fefb

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui seminggu yang lalu
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x