home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Hati-hati, Jangan Sampai Anda Terkena Bahaya Memendam Emosi

Hati-hati, Jangan Sampai Anda Terkena Bahaya Memendam Emosi

bagian orang mungkin terbiasa untuk memendam emosinya dan tidak mengekspresikannya ke luar. Padahal, terbiasa menyimpan semuanya sendiri dan tidak membagikannya ke orang lain membuat beban pikiran dan mental menjadi bertambah. Hal ini yang kemudian dapat menimbulkan bahaya memedam emosi, sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Berbagai bahaya memendam emosi

Ketika emosi tidak dikeluarkan, energi negatif hasil dari emosi tidak pergi dari tubuh dan akan tertahan dalam tubuh. Energi negatif yang seharusnya dikeluarkan menjadi tersimpan dalam tubuh dan dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak. Berikut ini beberapa bahaya memendam emosi bagi kesehatan:

1. Meningkatkan risiko penyakit dan kematian

Energi akibat dari emosi merupakan energi yang tidak sehat bagi tubuh. Energi dari emosi yang ditekan bisa menjadi penyebab dari tumor, pengerasan arteri, kaku sendi, serta melemahkan tulang, sehingga hal ini dapat berkembang menjadi kanker, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit.

Memendam emosi juga membawa pengaruh buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Penelitian yang diikuti selama 12 tahun menunjukkan, orang yang sering memendam perasaannya memiliki kemungkinan mati muda. Setidaknya 3 kali lebih besar, dibandingkan dengan orang yang terbiasa mengekspresikan perasaannya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychosomatic Research ini menemukan bahwa memendam emosi dapat meningkatkan risiko kematian karena penyakit jantung dan juga kanker. Penelitian ini juga turut membuktikan penelitian sebelumnya yang menghubungkan antara emosi negatif, seperti marah, cemas, dan depresi, dengan pengembangan dari penyakit jantung (Kubzansky dan Kawachi, 2000).

Orang yang terbiasa memendam emosinya akan membawa pikiran negatif dalam tubuh yang dapat mengganggu keseimbangan hormon. Hal ini meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan kerusakan sel, seperti kanker.

Risiko kesehatan meningkat ketika seseorang tidak mempunyai cara mengekspresikan perasaannya. Dalam kasus apapun, para peneliti memperingatkan bahwa emosi yang tertahan dalam tubuh dan pikiran dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang serius dan bahkan kematian dini.

Beberapa ahli menyarankan untuk dapat mengutarakan emosi yang dirasakan, terutama emosi yang menyedihkan, agar kesehatan mental tetap terjaga. Marah dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stres.

2. Rentan terhadap inflamasi (peradangan)

Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi dan kerentanan terhadap inflamasi atau peradangan.

Peneliti Finlandia melaporkan bahwa orang-orang dengan diagnosis ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi, juga dikenal sebagai Alexythymia, memiliki kadar zat kimia inflamasi, seperti protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hs-CRP) dan interleukin (IL-6), yang lebih tinggi dalam tubuh. CRP merupakan penanda inflamasi untuk jantung koroner.

Studi lainnya yang dilakukan oleh Middendorp, et al. (2009) pada penderita rheumatoid arthritis menemukan bahwa orang-orang yang didorong untuk bertukar perasaan dan mengekspresikan emosi akan memiliki kadar penanda inflamasi dalam darah yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memendam perasaan mereka untuk diri mereka sendiri.

Pada tahun 2010 sebuah studi yang dilakukan pada 124 siswa menemukan bahwa situasi sosial di mana orang merasa dihakimi atau ditolak meningkatkan kadar dua bahan kimia pro-inflamasi, yaitu interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha) yang sering ditemukan pada penyakit autoimun.

Hasil sebaliknya ditemukan pada penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang yang bahagia memiliki kadar zat kimia inflamasi yang lebih rendah. Sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam Journal of Association for Psychological Science, menemukan bahwa pendekatan kehidupan dengan sikap positif adalah penawar yang kuat terhadap stres, nyeri, dan penyakit.

Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa memendam emosi dapat memicu penyakit dalam tubuh. Zat penanda inflamasi ditemukan lebih tinggi pada orang-orang yang tidak bisa mengekspresikan emosi mereka. Inflamasi sendiri dapat terjadi di beragam penyakit, seperti penyakit jantung, arthritis, asma, dementia, osteoporosis, irritable bowel syndrome (IBS), dan beberapa jenis kanker. Oleh karena itu, orang yang tidak bisa menyalurkan pikiran dan perasaannya dapat terserang berbagai macam penyakit.

Bagaimana cara berhenti memendam emosi?

Memendam emosi bukanlah jalan keluar untuk masalah Anda. Anda perlu mengeluarkan dan mengekspresikannya untuk mengurangi beban pikiran dan mental Anda. Memendam emosi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan fisik dan mental Anda. Oleh karena itu, Anda harus tahu bagaimana cara menangani emosi dan menghindari bahaya memendam emosi.

Berikut beberapa cara yang dapat Anda lakukan:

  • Jujur pada diri sendiri

Bukan berarti Anda harus mengekspresikan semua perasaan Anda setiap waktu, tetapi dalam berbagai situasi Anda dapat mengatakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya Anda rasakan. Jangan menyembunyikan dan mengelakkan perasaan Anda sendiri.

  • Ketahui apa yang sedang Anda rasakan

Terkadang Anda tidak mengetahui apa yang sedang Anda rasakan. Kenali perasaan yang Anda rasakan pada diri Anda dan renungkan apa yang menyebabkan mereka.

  • Bicarakan perasaan Anda dengan orang lain

Jika Anda sedang emosional, bicarakan apa yang Anda rasakan dan pikirkan dengan orang lain. Hal ini dapat membantu membuat Anda lebih tenang.

  • Jadilah seorang pengamat

Anda harus mengetahui kapan sebaiknya Anda dapat mengeluarkan emosi Anda. Tidak di setiap waktu dan di sembarang tempat Anda bisa mengekspresikan emosi Anda. Terkadang Anda harus menahannya sebentar dan mengeluarkannya di waktu yang tepat. Jika Anda tidak mampu menahannya, tarik napas dalam-dalam dan ubah posisi tubuh Anda. Hal ini dapat membantu menenangkan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

 

  1. http://www.huffingtonpost.ca/timi-gustafson/bottling-up-negative-emotions_b_5056433.html
  2. Chapman, et al. 2013. Emotion suppression and mortality risk over a 12-year follow-up. Journal of Psychosomatic Research Volume 75 (4), 381-385.
  3. Kubzansky, L., dan Kawachi, I. 2000. Going to the heart of the matter: do negative emotions cause coronary heart disease?. Journal of Psychosomatic Research Volume 48 (4-5), 323-337.
  4. https://experiencelife.com/article/bottled-up-emotions/
  5. http://www.dailymail.co.uk/health/article-2414537/Dont-bottle-emotions–itll-knock-years-life-raise-cancer-risk-70-percent.html
  6. http://www.nyrnaturalnews.com/mind-body/2012/02/suppressing-emotions-can-be-bad-for-your-health/

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Arinda Veratamala Diperbarui 28/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan