home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Putus Asa Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Putus Asa Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Setiap orang pada suatu waktu pasti ada saja mengalami masalah yang menghadang. Kadang, masalah yang muncul terasa begitu berat dan sulit menemukan jalan keluarnya, hingga menyebabkan putus asa. Namun, jangan sampai Anda merasakannya berlarut-larut. Pasalnya, keputusasaan yang berlarut-larut bisa menjadi tanda gangguan mental tertentu. Untuk mengantisipasinya, berikut adalah informasi lengkap mengenai putus asa, mulai dari penyebab hingga cara mengatasi yang tepat.

Apa itu putus asa?

Putus asa adalah emosi atau perasaan yang ditandai dengan kurangnya harapan, optimisme, dan gairah. Seseorang yang mengalami kondisi ini seringkali tidak memiliki harapan dalam hidup, atau sudah menyerah dengan keyakinannya untuk berubah menjadi lebih baik atau sukses di masa depan.

Adapun emosi ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain, atau bahkan dunia. Ini pun bisa berpengaruh signifikan pada perilakunya karena pandangan negatifnya tersebut.

Sebagai gambaran, ketika seseorang merasa putus asa dan berpikir tidak punya masa depan, ia enggan untuk melakukan apapun yang bisa keluar dari kondisinya tersebut dan percaya bahwa tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Ia pun kehilangan minat pada objek, aktivitas, peristiwa, atau orang penting di sekitarnya.

Sebaliknya, jika seseorang menemukan jalan menuju masa depan yang cerah, harapan mulai tumbuh dan berkembang, dan ia pun berupaya untuk mencapai masa depannya.

Pada kondisi keputusasaan ini, seseorang akan sulit merasakan kebahagiaan dan cinta, serta tidak dapat membuat keputusan dengan baik. Namun, hal yang paling parah, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan fisik dan kehidupan Anda secara keseluruhan.

Gejala yang mungkin timbul saat putus asa

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah gejala yang mungkin akan terjadi pada Anda jika Anda merasa putus asa:

  • Merasa tidak berharga.
  • Kurangnya motivasi.
  • Kepercayaan diri yang rendah.
  • Kurangnya minat.
  • Kurang energi atau merasa kelelahan.
  • Kekebalan tubuh berkurang.
  • Nafsu makan menurun.
  • Gangguan tidur.
  • Kerap mengabaikan kebersihan dan penampilan.
  • Tidak mampu memenuhi tanggung jawab sehari-hari.
  • Mulai menarik diri dari aktivitas sosial.
  • Melukai diri sendiri.
  • Penyalahgunaan zat.
  • Keinginan dan upaya untuk bunuh diri.

Apa penyebab orang merasa putus asa?

Dilansir dari laman Good Theraphy, putus asa umumnya merupakan gejala dari berbagai masalah perilaku dan kondisi kesehatan mental seseorang. Ini termasuk depresi, gangguan kecemasan (anxiety disorder), gangguan bipolar, gangguan makan, stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD), kecanduan atau ketergantungan zat, dan keinginan untuk bunuh diri.

Oleh karena itu, berbagai penyebab dan faktor risiko dari kondisi-kondisi kesehatan mental tersebut bisa menyebabkan seseorang mengalami putus asa.

Meski demikian, keputusasaan juga bisa timbul ketika seseorang merasa kecil hati karena tidak puas akan suatu pencapaian, sedang berada pada situasi yang sulit, atau mengalami suatu peristiwa yang buruk. Sebagai contoh kehilangan orang tersayang, kehilangan pekerjaan atau pengangguran, masalah finansial, memiliki penyakit kronis, hubungan yang abusive, atau mengalami pelecehan atau kekerasan.

Bagaimana cara mengatasi putus asa?

Jika Anda merasa putus asa, jangan biarkan perasaan tersebut melemahkan Anda. Anda harus segera bangkit dan bangun kembali kekuatan untuk menangkalnya. Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi rasa putus asa:

  • Akui dan pahami perasaan Anda

Sangat penting untuk mengakui perasaan putus asa yang Anda rasakan agar Anda dapat berdamai dengan diri sendiri. Anda pun perlu paham bahwa putus asa itu merupakan perasaan yang bisa dialami oleh siapapun, dan masih akan ada harapan ke depannya.

  • Tenangkan pikiran

cara berhenti memikirkan mantan

Coba juga untuk tenangkan pikiran Anda agar Anda dapat berpikir lebih jernih. Anda bisa melakukannya dengan bicara pada diri sendiri tentang perasaan Anda, misalnya, katakan pada diri Anda bahwa Anda baik-baik saja dan bisa melewati situasi ini.

Anda juga bisa mencobanya dengan berimajinasi membayangkan hal-hal yang Anda sukai, atau sekadar beristirahat dan merilekskan tubuh.

  • Hindari hal-hal yang memperumit keadaan

Setelah diri Anda lebih tenang, hindari pula hal-hal yang justru membuat kondisi Anda semakin parah. Anda bisa mencobanya dengan sekadar jalan-jalan ke luar rumah atau mengobrol dengan kerabat yang Anda percaya untuk melupakan hal-hal yang membuat Anda putus asa.

Selain itu, Anda pun perlu menghindari dan menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang semakin membuat Anda putus harapan. Misalnya, jangan katakan pada diri sendiri bahwa “tidak ada lagi harapan” atau meramalkan hal buruk apa yang akan terjadi pada masa depan. Pemikiran seperti inilah yang justru membuat Anda semakin terpuruk dan sulit untuk terlepas dari rasa keputusasaan.

  • Jangan membanding-bandingkan

Jangan pula Anda membanding-bandingkan situasi Anda saat ini dengan yang lalu atau dengan orang lain. Membanding-bandingkan justru hanya akan membuat Anda sengsara dan Anda pun semakin sulit untuk mendapat kebahagiaan.

  • Berkumpul dengan orang yang positif

Ada yang menyebut bahwa harapan bisa dipinjam atau ditularkan. Mungkin ini benar adanya. Bila Anda sedang merasa putus asa, berkumpullah dengan orang-orang positif yang dipenuhi dengan harapan agar Anda bisa meningkatkan motivasi diri Anda. Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang yang juga putus asa justru akan membuat keputusasaan Anda semakin besar.

  • Beryukur dengan apa yang Anda miliki

Jangan lupa untuk selalu bersyukur dengan apa yang Anda miliki agar lebih menghargai hidup. Bila perlu tulis apa saja kenikmatan yang pernah Anda peroleh dan syukurilah, meski itu hanya hal kecil sekalipun.

  • Bicarakan perasaan Anda dengan teman

memberi dukungan teman yang sakit autoimun

Tidak hanya bergaul dengan orang-orang positif, Anda pun bisa menceritakan perasaan yang sedang Anda alami pada orang tersebut. Pilihlah teman atau anggota keluarga yang Anda percaya, tidak pernah menghakimi Anda, dan selalu mendukung Anda.

  • Rawat diri sendiri

Jangan lupa untuk memperlakukan diri Anda sendiri sebaik mungkin dan memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, meski Anda sedang merasa putus harapan. Anda bisa mempraktikkannya dengan makan secara teratur, menjaga kebersihan diri, serta melakukan aktivitas yang menyenangkan.

  • Identifikasi masalah dan hindari sedapat mungkin

Hal yang tidak kalah penting adalah mencari tahu peristiwa atau kondisi yang menyebabkan Anda merasa putus asa. Lalu, pertimbangkan apakah Anda dapat menghindari pemicu tersebut. Ini bisa menjadi tolak ukur apakah Anda butuh bantuan profesional untuk mengatasi rasa putus asa yang Anda rasakan atau tidak.

  • Bantuan profesional atau psikoterapi

Jika cara-cara di atas tidak membuat Anda lebih baik, Anda bisa mencari bantuan profesional. Segera hubungi ahli kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater, untuk membantu mengatasi keputusasaan Anda.

Seorang ahli kesehatan mental akan membantu Anda mengidentifikasi penyebab serta membantu Anda melewati kondisi tersebut. Anda mungkin perlu menjalani psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif, yang menargetkan pikiran dan asumsi negatif pada pikiran Anda.

https://wp.hellosehat.com/cek-kesehatan/kebutuhan-kalori/

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hopelessness – GoodTherapy.org Therapy Blog. GoodTherapy.org Therapy Blog. (2021). Retrieved 4 February 2021, from https://www.goodtherapy.org/blog/psychpedia/hopelessness.

11 Ways to Shift From Hopeless to Hopeful — RISE News. RISE News. (2021). Retrieved 4 February 2021, from https://www.riseupnews.org/guides/2020/1/2/11-ways-to-shift-from-hopeless-to-hopeful.

Hopeless. iCALL | Free Telephone & Email based Counseling Services. (2021). Retrieved 4 February 2021, from https://icallhelpline.org/hopeless/.

hopelessness. Dictionary.cambridge.org. (2021). Retrieved 4 February 2021, from https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/hopelessness.

Depression. Mental Health Foundation. (2021). Retrieved 4 February 2021, from https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/d/depression.

Depression Symptoms and Warning Signs – HelpGuide.org. Helpguide.org. (2021). Retrieved 4 February 2021, from https://www.helpguide.org/articles/depression/depression-symptoms-and-warning-signs.htm.

Foto Penulis
Ditulis oleh Ihda Fadila pada 04/02/2021
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
x