Ada beberapa orang yang memiliki obsesi berlebihan terhadap orang lain sehingga dirinya ingin mengontrol kehidupan orang tersebut. Kondisi ini disebut obsessive love disorder. Kenali ciri-ciri, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.
Ada beberapa orang yang memiliki obsesi berlebihan terhadap orang lain sehingga dirinya ingin mengontrol kehidupan orang tersebut. Kondisi ini disebut obsessive love disorder. Kenali ciri-ciri, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Obsessive love disorder atau juga dikenal sebagai penyakit OLD adalah kondisi psikologis saat seseorang terobsesi dalam mencintai orang lain.
Obsesi ini melibatkan keinginan kuat untuk mengendalikan atau mempunyai orang yang dicintai sepenuhnya sehingga sering kali mengorbankan kebahagiaan orang tersebut.
Pada dasarnya, cinta yang sehat melibatkan rasa saling menghormati dan memahami di antara dua individu yang menjalin hubungan asmara.
Hal tersebut berbeda dengan cinta obsesif yang biasanya bersifat posesif dan penuh kecemburuan.
Walau kriterianya tidak dijelaskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V), OLD sering kali berkaitan dengan gangguan mental lain.
Penting untuk memahami perbedaan cinta dan obsesi agar Anda dapat mengenali tanda-tanda obsessive love disorder.
Cinta yang sehat melibatkan rasa saling mendukung antarindividu. Sementara itu, obsesi mengedepankan kepentingan pribadi untuk mengendalikan dan menguasai orang lain.
Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang mungkin diperlihatkan oleh orang-orang dengan OLD.

Tidak diketahui penyebab pasti dari penyakit OLD. Namun, kondisi psikologis ini kerap dikaitkan dengan gangguan mental berikut ini.
Orang-orang dengan gangguan obsesif kompulsif atau obsessive-compulsive disorder (OCD) bisa memiliki pola pikir obsesif yang sulit untuk dikendalikan.
Mereka mungkin terobsesi untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari pasangannya. Selain itu, mereka akan merasa cemas bila ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD) membuat seseorang mengalami perubahan emosi yang ekstrem sehingga bisa menimbulkan penyakit OLD.
Pengidap BPD kerap merasa kesusahan untuk mempertahankan hubungan yang stabil. Mereka pun cenderung bergantung secara emosional pada pasangannya.
Gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) mungkin juga menjadi akar permasalahan dari obsessive love disorder.
Ketakutan akan kehilangan atau pengkhianatan dari hubungan sebelumnya dapat menimbulkan keinginan kuat untuk memiliki dan memegang kendali terhadap pasangan.
Artikel terkait
Gangguan keterikatan atau attachment disorder yang berkembang sejak masa kecil berpotensi memengaruhi cara seseorang dalam menjalin hubungan.
Pengidap gangguan ini kerap merasa tidak nyaman, takut ditinggalkan, dan cenderung menjadi obsesif terhadap pasangannya untuk menghindari perasaan kehilangan.
Erotomania adalah gangguan mental yang membuat seseorang percaya bahwa ada orang lain yang mencintainya, padahal hal ini tidak pernah terjadi.
Gangguan ini akan memicu perilaku terkait obsessive love disorder, misalnya terus-menerus mengirim pesan atau memantau media sosial orang lain yang dianggap mencintainya.
Apabila diri Anda, pasangan Anda, atau orang terdekat Anda menunjukkan ciri-ciri yang dicurigai sebagai OLD, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau psikiater.
Meski kondisi psikologis ini tidak disebutkan kriterianya pada DSM-V, psikolog atau psikiater dapat melakukan evaluasi berdasarkan gejala dan pola perilaku pasien.
Psikolog dan psikiater juga dapat melakukan wawancara dan pemeriksaan riwayat medis pasien bila diperlukan.
Hasil evaluasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah terdapat gangguan mental yang mungkin menyebabkan perilaku tersebut, seperti gangguan obsesif kompulsif (OCD).

Penanganan bertujuan untuk membantu pasien mengelola obsesinya dan membangun hubungan yang lebih sehat, terutama dengan orang yang dicintainya.
Ada dua cara mengatasi obsessive love disorder, yakni melalui pemberian obat-obatan dan terapi psikologi.
Psikiater dapat meresepkan obat-obatan untuk mengelola gejala gangguan mental yang terkait dengan obsessive love disorder.
Berikut adalah beberapa jenis obat yang mungkin diresepkan.
Kinerja obat-obatan tersebut mungkin baru akan terlihat dalam beberapa minggu. Dokter mungkin juga akan meresepkan berbagai jenis obat hingga menemukan yang cocok untuk Anda.
Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah jenis terapi psikologi atau psikoterapi yang bisa dilakukan untuk menangani obsessive love disorder.
Pada terapi ini, Anda akan diajarkan cara untuk mengenali dan mengubah pola pikir yang tidak sehat, kemudian belajar mengelola emosi dalam membangun hubungan.
Terapi ini juga membantu Anda untuk memahami perbedaan cinta dan obsesi sehingga Anda mampu membangun hubungan yang lebih baik di kemudian hari.
Beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah OLD adalah sebagai berikut.
Jika Anda merasa memiliki pola pikir obsesif, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mencegah perilaku negatif ini berkembang lebih lanjut.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Obsessive-compulsive disorder: When unwanted thoughts or repetitive behaviors take over. (2023). National Institute of Mental Health. Retrieved November 25, 2024, from https://www.nimh.nih.gov/health/publications/obsessive-compulsive-disorder-when-unwanted-thoughts-or-repetitive-behaviors-take-over
Borderline personality disorder. (2024). National Institute of Mental Health. Retrieved November 25, 2024, from https://www.nimh.nih.gov/health/topics/borderline-personality-disorder
What is posttraumatic stress disorder (PTSD)? (2022). American Psychiatric Association. Retrieved November 25, 2024, from https://www.psychiatry.org/patients-families/ptsd/what-is-ptsd
Attachment disorders. (2017). American Academy of Child & Adolescent Psychiatry. Retrieved November 25, 2024, from https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Attachment-Disorders-085.aspx
Faden, J., Levin, J., Mistry, R., & Wang, J. (2017). Delusional disorder, Erotomanic type, exacerbated by social media use. Case Reports in Psychiatry, 2017, 1-2. https://doi.org/10.1155/2017/8652524
Almeida Leite, R., Conde, E., Queirós Santos, T., Almeida, M., Azevedo Santos, T., & Mesquita Figueiredo, A. (2016). Obsessive versus delusional jealousy: Destruction in a form of creation – A review. European Psychiatry, 33(S1), S531-S531. https://doi.org/10.1016/j.eurpsy.2016.01.1966
Ahmadi, V., Davoudi, I., Ghazaei, M., Mardani, M., & Seifi, S. (2013). Prevalence of obsessive love and its association with attachment styles. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 84, 696-700. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.06.629
Bogerts B. (2005). Liebe und Eifersucht bis zum Wahn gesteigert. Wenn der Lebensgefährte plötzlich den Othello gibt [Delusional jealousy and obsessive love-causes and forms]. MMW Fortschritte der Medizin, 147(6), 26–29. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15757223/
American Psychiatric Association. DSM-5 Task Force. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-5.
Versi Terbaru
05/12/2024
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko
Ditinjau secara medis oleh dr. Gloria Permata Usodo
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari
Ditinjau secara medis oleh
dr. Gloria Permata Usodo
General Practitioner · Rumah Sakit Ibu dan Anak SamMarie Wijaya