Pradiabetes, Saat Gula Darah Tinggi dan Berisiko Besar Terkena Diabetes

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/08/2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu pradiabetes?

Pradiabetes (prediabetes dalam bahasa Inggris) adalah peningkatan kadar gula darah dari kadar normal tapi belum cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai diabetes tipe 2.

Namun tanpa penanganan medis, pradiabetes berpotensi berkembang menjadi diabetes tipe 2 dalam kurang dari 10 tahun.

Normalnya, kadar gula darah puasa pada orang sehat yaitu kurang dari 100 mg/dl. Pada kondisi pradiabetes kadar gula darah puasa (GDP) tercatat naik di antara 100-125 mg/dL (5.6-7.0 mmol/L).

Sementara seseorang dikatakan memiliki diabetes melitus tipe 2 jika kadar GDP mencapai 126 mg/dL (7.0 mmol/L) atau lebih.

Tahap pradiabetes sebenarnya bisa menandakan penurunan fungsi pankreas untuk memproduksi hormon insulin, terutama setelah makan. Kemungkinan lainnya adalah tubuh mulai kesulitan untuk merespon kerja insulin dengan baik.

Meskipun ditandai dengan kadar gula yang tinggi dan kemungkinan adanya gangguan insulin, pradiabetes masih bisa dicegah untuk berkembang menjadi diabetes melitus.

Dapat dikatakan jika kondisi ini adalah peringatan terhadap munculnya penyakit tersebut sebab orang yang mengalami pradiabetes jauh lebih mudah mengalami diabetes.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Pradiabetes tergolong umum. Kasus kejadiannya paling banyak ditemukan pada pasien dewasa, terutama yang berusia 40 tahun ke atas.

Namun, tidak menutup kemungkinan siapapun dapat menderita prediabetes. Terutama yang memiliki faktor risiko mengalami diabetes melitus, seperti kelebihan berat badan, tidak aktif bergerak, dan memiliki keturunan diabetes.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala pradiabetes?

Dalam kebanyakan kasus, tanda-tanda dan gejala prediabetes umumnya tidak kentara. Kebanyakan orang yang memiliki kondisi ini bahkan tidak mengalami keluhan kesehatan sama sekali.

Namun, banyak orang yang didiagnosis mengalami pradiabetes merasakan tanda-tanda atau gejala berikut:

  • Lebih cepat haus
  • Sering buang air kecil
  • Sering merasa cepat lelah
  • Penglihatan buram
  • Kulit menggelap biasanya di leher, ketiak, siku, lutut dan buku-buku jari.
  • Gejala asam urat seperti nyeri pada sendi, otot, dan tulang atau pembengkakan dan nyeri pada jempol kaki

Dampak lain dari kondisi ini yaitu berisiko merusak jantung dan sistem peredaran darah bahkan jauh sebelum akhirnya mengalami diabetes tipe 2.

Kapan harus pergi ke dokter?

Segera temui dokter bila Anda mengalami gejala pradiabetes di atas dan disertai dengan memiliki kondisi penyebab diabetes ataupun faktor risiko pradiabetes.

Tubuh setiap orang berbeda-beda maka gejala pradiabetes yang dirasakan pun bisa bervariasi.

Jika tidak mengalami gejala pradiabetes sama sekali dan Anda termasuk ke dalam kelompok yang berisiko tinggi terkena diabetes, lakukanlah cek kadar gula darah ke dokter secara rutin.

Penyebab

Apa penyebab pradiabetes?

Hingga saat ini, para ahli masih belum dapat mengetahui apa penyebab pasti dari pradiabetes. Namun menurut studi berjudul Pathophysiology of Type-2 Diabetes, faktor keturunan keluarga dan genetik diyakini berperan besar dalam menyebabkan pradiabetes.

Selain itu, tubuh yang jarang bergerak serta penumpukan lemak di beberapa bagian tertentu dalam tubuh juga dapat meningkatkan risiko untuk kondisi ini.

Terlepas dari kondisi tersebut, para ahli juga menyepakati bahwa pradiabetes dipengaruhi oleh tubuh yang tidak mampu memproses glukosa, yaitu gula hasil pemecahan karbohidrat, secara normal. Akibatnya, glukosa menumpuk di aliran darah.

Glukosa semestinya menjadi sumber energi untuk sel-sel tubuh sehingga dapat menjalankan fungsi organ dengan baik. Dalam proses penyerapan glukosa dari darah menuju sel-sel tubuh diperlukan hormon insulin.

Saat tubuh Anda menunjukkan gejala pradiabetes, proses penyerapan glukosa dengan bantuan insulin ini akan mengalami masalah. Alih-alih menggunakan insulin dengan optimal, sel-sel dalam tubuh malah tidak dapat merespons insulin sebagaimana mestinya.

Akibatnya, gula pun menumpuk di dalam darah. Kondisi di mana sel-sel tubuh tidak mampu merespons hormon insulin dengan baik ini dikenal juga dengan sebutan resistansi insulin.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang meningkatkan risiko terkena pradiabetes?

Pradiabetes adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada siapa saja, terlepas dari berapa usia dan apa kelompok ras penderitanya.

Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pradiabetes pada seseorang.

Berikut adalah faktor-faktor pemicunya:

1. Usia

Kasus kejadian pradiabetes paling banyak ditemukan pada pasien berusia 40 tahun ke atas.

Ini artinya, seiring bertambahnya usia, semakin meningkat pula risiko untuk mengembangkan pradiabetes.

2. Ras

Meskipun alasan pastinya belum diketahui, orang-orang dari golongan ras tertentu, seperti Afrika Amerika, Hispanik, Asia Amerika, dan Kepulauan Pasifik lebih rentan mengalami pradiabetes.

3. Keturunan keluarga

Apabila Anda memiliki anggota keluarga yang menderita kondisi prediabetes atau diabetes tipe 2, Anda memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kondisi yang sama di kemudian hari.

4. Berat badan dan lingkar pinggang

Memiliki berat badan berlebih atau obesitas merupakan faktor risiko utama dari pradiabetes. Semakin banyak jaringan lemak yang terdapat di tubuh Anda, terutama di sekitar perut Anda, semakin tinggi pula risiko Anda untuk menderita prediabetes.

Orang-orang dengan indeks massa tubuh yang melebihi 25 cenderung lebih rentan terkena diabetes. Itu artinya, risiko pradiabetes juga tinggi.

5. Pola makan

Sering mengonsumsi daging merah, daging olahan, dan minum minuman manis juga dapat meningkatkan risiko Anda untuk mengalami pradiabetes.

Ini terjadi karena makanan tersebut tinggi gula dan garam, sehingga bisa memengaruhi kinerja hormon insulin dalam mengatur gula darah.

6. Jarang bergerak

Semakin jarang Anda berolahraga atau aktif secara fisik, semakin besar pula peluang Anda mengalami pradiabetes.

Aktivitas fisik dapat membantu Anda mengontrol berat badan, sehingga glukosa di dalam tubuh akan terpakai sebagai energi tubuh, serta sel-sel tubuh akan lebih peka dalam merespons insulin.

7. Mengalami stres

Apabila Anda mengalami tekanan mental atau stres yang cukup berat, Anda berisiko menderita prediabetes.

Selain meningkatkan risiko mengalami gejala pradiabetes, stres juga dapat memicu masalah lain, seperti penyakit jantung.

8. Mengalami diabetes saat hamil (gestasional)

Diabetes gestasional umumnya dialami wanita saat memasuki masa kehamilan. Jika Anda wanita dan mengalami kondisi ini saat hamil, Anda dan bayi Anda memiliki risiko mengalami pradiabetes yang dapat berlanjut menjadi diabetes.

Jika bayi yang Anda lahirkan memiliki berat lebih dari 4,1 kilogram, kemungkinan untuk terkena pradiabetes juga lebih besar.

9. Menderita sindrom ovarium polikistik

Sindrom ovarium polikistik atau PCOS ini ditandai dengan siklus menstruasi tidak beraturan, rambut tumbuh berlebihan, serta kenaikan berat badan.

Kondisi ini menyebabkan Anda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami pradiabetes dan diabetes.

10. Memiliki gangguan tidur

Sleep apnea adalah kelainan tidur yang menyebabkan pernapasan terganggu berulang kali selama tidur, mengakibatkan kualitas tidur yang buruk.

Tidur yang terganggu ini bisa meningkatkan risiko terjadinya prediabetes. Efeknya sama dengan orang yang jam kerjanya yang berubah yakni lebih aktif di malam hari (shift malam).

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana cara dokter mendiagnosis kondisi ini?

Tiga jenis tes yang dapat mendiagnosis pradiabetes, yakni:

1. Tes HbA1C (tes hemoglobin terglikasi)

Tes HbA1C menunjukkan rata-rata kadar gula darah Anda selama 2-3 bulan terakhir.

Berikut ini hasil tes pradiabetes yang bisa menunjukkan kondisi tubuh Anda.

  • Level HbA1C di bawah 5,7% menunjukkan kondisi yang normal
  • Jika level HbA1C berada di antara 5,7-6,4%, Anda mengalami prediabetes
  • Jika level HbA1C 6,5% atau lebih, ada kemungkinan Anda menderita diabetes tipe 2

2. Tes gula darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO)

Pada tes gula darah ini, dokter akan meminta Anda untuk berpuasa sepanjang malam, biasanya selama 8 jam. Setelah itu, sampel gula darah puasa (GDP) akan diambil.

Setelah nilai GDP diketahui, dokter akan meminta Anda meminum cairan glukosa 75 gram. Sampel kembali diambil 2 jam setelahnya. Tes kedua ini bertujuan mengukur nilai toleransi glukosa oral (TTGO).

Pada orang normal, kadar GDP seharusnya tidak melebihi 100 mg/dL, serta kadar TTGO kurang dari 140 mg/dL.

Apabila kadar GDP Anda normal dengan TTGO berada di kisaran 140-199 mg/dL, terdapat kemungkinan Anda terkena prediabetes.

Hal yang sama juga berlaku apabila kadar TTGO Anda normal, tapi hasil tes GDP Anda berada di kisaran 100-125 mg/dL.

Untuk hasil tes pradiabetes ini juga berlaku kemungkinan seperti semakin tinggi kadar gula darah, semakin besar risiko berkembangnya pradiabetes menjadi diabetes tipe 2 di masa depan.

Hasil pembacaan pemeriksaan gula darah yang menunjukan kondisi pradiabetes, diabetes, dan gula darah normal dapat dirangkum seperti dalam laporan PERKENI berikut ini.

Sumber: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), 2015

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati pradiabetes?

Pradiabetes belum resmi dikatakan sebagai diabetes sehingga masih bisa disembuhkan.

Perawatan pertama untuk mencegah berkembangnya pradiabetes menjadi diabetes adalah dengan menerapkan gaya hidup guna mengontrol kadar gula darah. Caranya adalah:

1. Menjaga berat badan ideal

Jika Anda memiliki berat badan yang melebihi batas normal, ada baiknya Anda menurunkan sebanyak 5-7% dari berat badan Anda untuk mencegah prediabetes sekaligus diabetes.

2. Rutin berolahraga

Olahraga adalah hal terpenting yang perlu Anda lakukan dalam mencegah pradiabetes. Sebaiknya, lakukan olahraga ringan selama 30 menit sebanyak 5 kali seminggu.

Beberapa pilihan aktivitas yang dapat Anda coba adalah berjalan kaki, bersepeda, atau berenang.

3. Menjalani pola makan yang sehat

Selain berolahraga, Anda juga wajib memperhatikan asupan makanan.

Hindari makanan yang dapat meningkatkan gula darah seperti makanan kaleng, fast food, gorengan atau makanan yang tinggi gula. Kurangi pula minuman yang manis dan bersoda.

4. Berhenti merokok dan hindari minuman beralkohol

Sebaiknya Anda mulai mengurangi atau bahkan berhenti merokok sama sekali. Anda juga sebaiknya menghindari konsumsi minuman berakohol terlalu sering. Keduanya dapat menyebabkan peradangan yang memicu  terjadinya diabetes.

5. Obat penurun gula darah

Sementara jika hasil tes gula darah tinggi dan perubahan gaya hidup tidak cukup efektif menurunkan gula darah, Anda mungkin membutuhkan konsumsi obat diabetes. Obat yang paling umum diresepkan untuk mengatasi kondisi ini adalah metformin (Glucophage).

Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai kondisi pradiabetes, konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan pemahaman dan solusi kesehatan yang terbaik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tunda Dulu ke Rumah Sakit Selama Wabah, Ini Tips untuk Diabetesi Selama di Rumah

Diabetesi termasuk golongan yang rentan terjangkit virus COVID-19. Selain lakukan upaya pencegahan, jaga juga kadar gula darah di rumah dengan tips berikut.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
diabetesi
Coronavirus, COVID-19 30/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Kopi Filter Berpotensi Mengurangi Risiko Diabetes Tipe 2

Jenis kopi apa yang Anda suka? Jenis kopi filter bisa mengurangi risiko terhadap diabetes. Simak penjelasan ilmiahnya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Diabetes, Health Centers 29/04/2020 . Waktu baca 4 menit

6 Manfaat Jalan Kaki untuk Penderita Diabetes

Penderita diabetes perlu mengontrol diabetesnya. Salah satu yang bisa dilakukan, yaitu jalan kaki. Apa manfaat jalan kaki bagi penderita diabetes?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Diabetes, Health Centers 26/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Saja Camilan yang Boleh Dimakan Penderita Diabetes dalam Sehari?

Memilih camilan untuk penderita diabetes tidak boleh sembarangan. Selain perlu memperhatikan kandungan nutrisinya, jumlahnya pun tidak kalah penting.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
camilan untuk penderita diabetes
Diabetes, Health Centers 24/04/2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

diabetes insipidus adalah

Diabetes Insipidus

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 12 menit
sering buang air kecil

8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
prostatitis

Prostatitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 10 menit
penyakit kulit diabetes

5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit