Polifagia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . Waktu baca 9 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu polifagia?

Polifagia adalah istilah medis yang menggambarkan rasa lapar berlebihan atau peningkatan nafsu makan lebih dari biasanya.

Rasa lapar sebenarnya adalah hal yang wajar, semua orang pasti pernah merasakannya. Namun, kondisi yang dikenal juga dengan hiperfagia ini jauh lebih ekstrem dari rasa lapar biasa.

Untuk mengatasi rasa lapar berlebihan ini, Anda perlu tahu penyebab yang mendasarinya.

Seberapa umumkah polifagia?

Polifagia adalah kondisi yang menyerang siapa saja, tapi lebih umum pada orang dewasa memiliki masalah kesehatan tertentu. Dibanding laki-laki, perempuan yang sudah pubertas lebih mungkin merasakan kondisi ini lebih sering.

Tanda & Gejala

Apa saja tanda dan gejala polifagia?

Tanda dan gejala utama dari polifagia adalah meningkatnya nafsu makan sehingga membuat Anda makan lebih sering dari biasanya. Hiperfagia juga bisa diartikan Anda jadi sangat cepat lapar.

Gejala lain mungkin akan menyertai namun tergantung dengan penyebab yang mendasarinya.

Gejala lain yang meliputi bisa berupa perasaan kelelahan, susah tidur, sulit konsentrasi, kenaikan atau penurunan berat badan, dan sering buang air kecil.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Rasa lapar adalah bagian dari naluri manusia. Namun, rasa lapar yang muncul lebih intens dari biasanya adalah peringatan dari polifagia.

Jika Anda merasakan rasa lapar yang berlebihan diikuti gejala yang mengganggu, jangan sungkan untuk memeriksakan diri ke dokter; terutama jika Anda terus buang air kecil, berkeringat, dan pernah kejang.

Penyebab

Apa penyebab polifagia?

Ada banyak penyebab hiperfagia, bisa disebabkan oleh gaya hidup yang buruk atau masalah medis tertentu. Penyebab polifagia yang perlu Anda ketahui adalah:

Pola makan yang buruk

Penyebab polifagia yang paling umum adalah pola makan yang buruk, yaitu terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, contohnya makanan cepat saji. Kurangnya serat dan protein inilah membuat Anda kembali lapar.

Selain nafsu makan yang besar, Anda juga akan mengalami kelelahan, rambut rontok, gusi berdarah, atau kenaikan berat badan.

Diabetes melitus

Diabetes melitus menyebabkan gula darah tinggi ini bisa menjadi penyebab meningkatkan nafsu makan. Pasalnya, polifagia adalah salah satu dari gejala diabetes yang umum terjadi, yang menandakan telah telah terjadinya hiperglikemia (tekanan gula darah tinggi).

Gula (glukosa) dalam darah adalah sumber energi bagi tubuh. Pada pasien diabetes, tubuh tidak dapat menggunakan gula dalam darah dengan baik. Akibatnya, tubuh merasa kekurangan sumber energi yang sebenarnya tersedia. Tubuh lantas memberikan sinyal pada otak, bahwa pasien diabetes merasa lapar.

Menurut American Diabetes Association, polifagia adalah tanda dan gejala diabetes bila disertai dengan gejala lain, seperti polidipsia (cepat haus) atau poliuria (sering buang air kecil). Gejala tersebut akan muncul ketika gula darah berada di atas 180 hingga 200 mg/dL.

Pasien diabetes yang mengalami polifagia akibat hiperglikemia adalah mereka yang melewatkan obat diabetes atau waktu makan.

Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah penyebab polifagia yang terjadi karena kadar gula darah yang rendah. Kondisi ini umum terjadi pada penderita diabetes. Namun, bisa juga terjadi pada orang tanpa diabetes, seperti kelebihan dosis obat malaria (quinine), minum alkohol berlebihan, atau punya penyakit hepatitis.

Selain nafsu makan yang berlebihan, gejala lain yang menandakan polifagia adalah sakit kepala, gemetar, berkeringat, dan sulit untuk memusatkan perhatian. Kondisi ini dikatakan kritis jika sudah menimbulkan kekejangan dan penglihatan kabur.

Hipertiroid

Penyebab lain dari polifagia adalah hipertiroid. Kondisi ini menandakan bahwa tiroid bekerja terlalu aktif. Akibatnya, kadar hormon tiroid akan berlebihan mengganggu metabolisme, salah satunya meningkatkan nafsu makan lebih dari biasanya.

Selain rasa lapar berlebihan, gejala lain dari hipertiroid yang menyertai adalah tubuh berkeringat, cemas, rambut rontok, susah tidur, dan berat badan turun tanpa penyebab yang jelas.

Premenstrual syndrome (PMS)

Nafsu makan yang berlebihan disebut sering menyerang wanita karena disebabkan oleh PMS. Itu artinya, polifagia adalah bagian dari gejala PMS yang bisa terjadi setiap bulan pada wanita yang berisiko mengalami PMS saat haid.

Kondisi ini terjadi akibat meningkatnya hormon estrogen dan progesteron tapi serotonin menurun. Akibatnya, tubuh menimbulkan gejala ingin makan makanan yang tinggi gula dan lemak,

Selain polifagia, gejala lain yang umumnya mengiringi PMS adalah perut kembuh, lekas marah, lelah, dan diare.

Stres dan depresi

Stres dan depresi yang parah bisa juga menjadi penyebab polifagia. Hal ini terjadi karena kedua kondisi tersebut dapat memicu tinggi kadar hormon stres, yakni kortisol.

Polifagia yang muncul akibat stres maupun depresi ini adalah bagian dari respons emosional, yaitu mengalihkan diri dari emosi negatif baik secara sadar atau tidak. Selain nafsu makan yang tinggi, orang yang stres atau depresi juga akan merasakan nyeri otot, sakit perut, susah tidur, dan lemas.

Gangguan tidur

Gangguan tidur seperti sleep apnea atau insomnia, dapat membuat tubuh kesulitan mengontrol hormon yang mengatur rasa lapar. Jadi, kurang tidur adalah penyebab polifagia yang umum terjadi pada orang yang memiliki gangguan tidur.

Penyebab lainnya

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang, binge eating disorder, gangguan kecemasan, bulimia adalah penyebab polifagia. Selain itu, beberapa penyakit langka sindrom Kleine-Levin and sindrom Prader-Will juga bisa memicu nafsu makan yang besar.

Faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena polifagia?

Berkaitan dengan penyebabnya, faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya polifagia adalah:

  • Menerapkan pola makan yang buruk
  • Memiliki diabetes namun tidak menjalankan pengobatan dan perawatan sesuai anjuran dokter
  • Kualitas tidur buruk terutama karena gangguan tidur
  • Memiliki masalah kesehatan yang berkaitan dengan kelenjar tiroid dan hormon yang mengatur nafsu makan, atau menggunakan obat kortikosteroid tanpa pengawasan dokter

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk polifagia?

Pada kebanyakan kasus, polifagia adalah kondisi yang membutuhkan penanganan dokter. Untuk mencari tahu penyebabnya, dokter akan lebih dahulu menegakkan diagnosis.

Dokter umumnya akan lebih dahulu melihat riwayat kesehatan Anda secara terperinci, kemudian mengamati berbagai hal, seperti

  • Kebiasaan makan
  • Gejala lain yang menyertai
  • Lamanya kondisi ini terjadi
  • Riwayat kesehatan keluarga

Selain itu, tes kesehatan lain mungkin diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya, seperti tes gula darah atau tes fungsi tiroid.

Apa saja pilihan obat untuk polifagia?

Tidak seperti lapar biasa yang akan hilang dengan menyegerakan diri untuk makan, pengobatan hiperfagia harus disesuaikan dengan pengobatan yang mendasarinya.

Pasien diabetes yang mengalami polifagia, pengobatannya adalah minum obat diabetes dan suntik insulin jika dibutuhkan. Sementara, pasien dengan gangguan tiroid akan diresepkan obat-obatan yang mengontrol kerja kelenjar tiroid.

Bagi pasien yang stres, depresi, atau gangguan kecemasan yang mengalami polifagia, pengobatannya adalah minum obat antidepresan, mengikuti konseling dan terapi perilaku bila dibutuhkan.

Hiperfagia pada wanita yang PMS, tidak memerlukan obat khusus. Dokter mungkin lebih mengarahkan pasien untuk mengendalikan diri dari keinginan untuk makan makanan yang tidak sehat.

Tidak hanya itu, dokter akan meminta pasien untuk mengubah gaya hidup jadi lebih sehat karena ini sangat berpengaruh pada kadar gula darah, tingkat stres, dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Pengobatan Rumahan

Apa saja pengobatan rumahan dan perubahan gaya hidup yang dapat dilakukan untuk mengatasi polifagia?

Selain minum obat, orang yang mengalami nafsu makan yang besar ini juga perlu melakukan perawatan di rumah. Perawatan untuk polifagia di rumah adalah:

Menjaga pola makan sehat

Pola makan yang sehat meliputi pilihan makan bergizi dengan porsi dan waktu yang tepat. Ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuh sekaligus menjaga kadar gula darah tetap sehat.

Terpenuhinya kebutuhan nutrisi bisa menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Namun, pola makan harus disesuaikan untuk pasien diabetes, depresi, maupun orang dengan hipertiroid. Konsultasikan lebih lanjut pada dokter.

Olahraga rutin

Perawatan di rumah untuk polifagia selain pola makan sehat adalah olahraga. Tidak hanya mengendalikan kadar gula darah tetap normal, aktivitas fisik ini juga bisa membantu mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur.

Tahu cara mengurangi stres

Stres adalah salah satu pemicu polifagia karena berhubungan dengan perilaku makan. Selain olahraga, stres bisa diatasi dengan berbagai cara.

Anda bisa meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan yang disukai (hobi), latihan pernapasan, seperti meditasi, membaca atau menonton film yang membuat Anda senang.

Cukup tidur

Kualitas tidur yang buruk bisa diatasi dengan mengatur kembali kebiasaan tidur. Cobalah untuk tidur lebih dan bangun lebih awal di jam yang sama.

Lakukan hal yang menenangkan pikiran sebelum tidur, seperti berendam air hangat. Kemudian, hindari kebiasaan yang mengganggu tidur, yakni bermain ponsel, menonton tv, atau makan besar.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah polifagia?

Cara ampuh untuk mencegah polifagia adalah menjaga pola hidup tetap sehat. Terapkan kebiasaan makan sehat yang sesuai porsi dan waktunya. Kemudian, lakukan olahraga secara rutin dan istirahat yang cukup.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

    Saat lapar, rasanya hanya ingin marah sampai Anda mendapat yang Anda mau. Tapi, kok bisa begitu, ya? Kenapa kita mudah marah saat kelaparan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hari Raya, Ramadan 10/05/2020 . Waktu baca 4 menit

    Tunda Dulu ke Rumah Sakit Selama Wabah, Ini Tips untuk Diabetesi Selama di Rumah

    Diabetesi termasuk golongan yang rentan terjangkit virus COVID-19. Selain lakukan upaya pencegahan, jaga juga kadar gula darah di rumah dengan tips berikut.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Coronavirus, COVID-19 30/04/2020 . Waktu baca 4 menit

    6 Manfaat Jalan Kaki untuk Penderita Diabetes

    Penderita diabetes perlu mengontrol diabetesnya. Salah satu yang bisa dilakukan, yaitu jalan kaki. Apa manfaat jalan kaki bagi penderita diabetes?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Diabetes, Health Centers 26/04/2020 . Waktu baca 4 menit

    Apa Saja Camilan yang Boleh Dimakan Penderita Diabetes dalam Sehari?

    Memilih camilan untuk penderita diabetes tidak boleh sembarangan. Selain perlu memperhatikan kandungan nutrisinya, jumlahnya pun tidak kalah penting.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Diabetes, Health Centers 24/04/2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    False Hunger: Membedakan Lapar Asli dan Lapar Palsu

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    tidak cepat lapar

    10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . Waktu baca 5 menit
    penyakit kulit diabetes

    5 Penyakit Kulit yang Umum Menyerang Pasien Diabetes

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha
    Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    mengembalikan nafsu makan anak

    Tips Jitu Mengembalikan Nafsu Makan Anak Setelah Sakit

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020 . Waktu baca 4 menit