Jumlah Sperma Rendah (Oligospermia)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu jumlah sperma rendah (oligospermia)?

Jumlah sperma rendah berarti cairan (air mani) yang diejakulasi (dikeluarkan) ketika orgasme mengandung lebih sedikit sperma dari jumlah normalnya. Kondisi ini disebut juga sebagai oligospermia.

Jumlah sperma sedikit, atau dianggap lebih rendah dari normal, apabila hanya berjumlah kurang dari 15 juta sperma per milliliter air mani. Ketika sama sekali tak ada kandungan sperma di dalam air mani, kondisi ini disebut azoospermia.

Memiliki jumlah sperma sedikit dapat mengurangi kemungkinan Anda untuk dapat membuahi sel telur pasangan hingga terjadi kehamilan. Meski begitu, banyak pria yang memiliki jumlah sperma sedikit masih bisa menjadi ayah bagi seorang anak.

Seberapa umumkah jumlah sperma rendah?

Jumlah sperma rendah alias oligospermia sangatlah umum terjadi. Ini dapat mengenai pasien pada usia berapa pun. Oligospermia dapat diatasi dengan mengurangi faktor pemicu. Diskusikanlah dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-Tanda dan Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala oligospermia (jumlah sperma sedikit)?

Gejala umum dari oligospermia adalah:

  • Masalah fungsi seksual — misalnya, dorongan seks rendah atau kesulitan mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi)
  • Nyeri, bengkak, atau benjolan pada area testis
  • Berkurangnya rambut wajah atau tubuh, tanda-tanda lainnya yang menandakan adanya kelainan kromosom atau hormon

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah pada dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter jika Anda memiliki yang berikut:

  • Masalah ereksi atau ejakulasi, dorongan seksual rendah, atau masalah lain terkait fungsi seksual
  • Nyeri, ketidaknyamanan, benjolan atau bengkak di area testis
  • Riwayat masalah testis, prostat atau seksual
  • Operasi selangkangan, testis, penis, atau skrotum

Penyebab

Apa penyebab oligospermia (jumlah sperma rendah)?

Produksi sperma adalah suatu proses yang kompleks. Proses ini membutuhkan fungsi testis yang normal, begitu juga dengan hipotalamus dan kelenjar hipofisis (organ dalam otak yang memproduksi hormon pemicu produksi sperma). Setelah sperma diproduksi di testis, saluran yang sangat kecil akan mengangkutnya hingga sperma bercampur dengan air mani dan diejakulasikan ke luar penis.

Ketika ada salah satu bagian dari sistem tersebut yang terganggu, produksi sperma akan terganggu. Selain itu, bisa jadi ada masalah bentuk abnormal sperma (morfologi), pergerakan (motilitas), atau fungsi sperma.

Jumlah sperma rendah dapat disebabkan oleh sejumlah masalah kesehatan dan pengobatan medis. Beberapa meliputi:

  • Varikokel. Varikokel adalah pembengkakan pembuluh darah yang mengeringkan testis. Ini adalah penyebab paling umum dari ketidaksuburan laki-laki. Varikokel akan berdampak pada penurunan kualitas sperma.
  • Infeksi. Beberapa infeksi dapat mengganggu produksi sperma atau kesehatan sperma. Kondisi ini kadang juga dapat menyebabkan luka parut yang menyumbat jalan sperma.
  • Masalah ejakulasi. Ejakulasi retrogard terjadi ketika air mani masuk ke kandung kemih selama orgasme, bukannya muncul dan keluar dari ujung penis. Berbagai kondisi kesehatan dapat menyebabkan ejakulasi terbalik atau kurangnya ejakulasi, termasuk diabetes, cedera tulang belakang, dan operasi kandung kemih, prostat, atau uretra
  • Beberapa obat juga dapat menyebabkan masalah ejakulasi, seperti obat tekanan darah yang disebut alpha blocker.
  • Antibodi dapat menyerang sperma. Antibodi anti-sperma adalah sel-sel sistem imun yang keliru mengidentifikasi sperma sebagai zat asing dan berupaya untuk menghancurkannya.
  • Tumor. Kanker dan tumor jinak dapat memengaruhi organ reproduksi pria secara langsung dan berpengaruh pada kondisi jumlah sperma sedikit. Operasi, radiasi, atau kemoterapi untuk mengobati tumor juga dapat memengaruhi kesuburan pria.
  • Testis tidak turun. Selama perkembangan janin, satu atau kedua testis terkadang gagal untuk turun dari perut ke dalam kantung yang biasanya menampung testis (skrotum). Penurunan kesuburan lebih mungkin terjadi pada pria penderita kondisi ini.
  • Ketidakseimbangan hormon. Hipotalamus, hipofisis, dan testis memproduksi hormon-hormon yang penting untuk membentuk sperma. Perubahan pada hormon-hormon ini, serta yang berasal dari sistem lain seperti kelenjar tiroid dan adrenal, dapat menggaggu produksi sperma. Akibatnya, jumlah sperma sedikit.
  • Cacat pada tubulus yang mengangkut sperma. Banyak saluran berbeda yang mengangkut sperma. Saluran-saluran ini dapat tersumbat akibat penyebab-penyebab lainnya, termasuk cedera yang tidak disengaja dari operasi, infeksi sebelumnya, trauma atau perkembangan abrnormal, seperti cystic fibrosis atau sindrom serupa yang diwariskan.
  • Cacat kromosom. Kelainan bawaan seperti cystic fibrosis, sindrom Klinefelter, sindrom Kallman, dan sindrom Kartagener berkaitan dengan ketidaksuburan.
  • Penyakit celiac. Kondisi ini merupakan gangguan pencernaan yang disebabkan oleh sensitivitas terhadap gluten. Penyakit celiac dapat menyebabkan ketidaksuburan pria. Kesuburan dapat meningkat setelah menjalani diet bebas gluten.
  • Obat-obatan tertentu. Terapi pengganti testosteron, penggunaan steroid anabolik untuk waktu yang lama, obat-obatan kanker (kemoterapi), beberapa obat antijamur dan antibiotik, beebrapa obat tukak dan obat lainnya dapat mengganggu produksi sperma dan menurunkan kesuburan pria.
  • Operasi sebelumnya. Operasi tertentu dapat mencegah Anda menghasilkan sperma ketika berejakulasi, termasuk vasektomi, perbaikan hernia inguinal, operasi skrotum atau testis, operasi prostat, dan operasi perut besar yang dilakukan untuk kanker testis dan rektum.

Kondisi oligospermia juga dapat dipengaruhi oleh paparan berlebih terhadap unsur lingkungan tertentu, termasuk:

  • Bahan kimia industri. Paparan berkepanjangan terhadap benzene, toluene, xilena, herbisida, pestisida, pelarut organik, bahan cat dan timah dapat berkontribusi terhadap jumlah sperma rendah.
  • Paparan logam berat. Paparan terhadap timah atau logam berat lainnya juga dapat menyebabkan ketidaksuburan.
  • Radiasi atau X-ray. Paparan terhadap radiasi dapat mengurangi produksi sperma. Mungkin diiperlukan waktu beberapa tahun agar produksi sperma kembali normal. Dengan dosis tinggi radiasi, produksi sperma dapat berkurang secara permanen.
  • Testis terlalu panas. Suhu yang tinggi dapat mengganggu produksi dan fungsi sperma. Hal ini bisa saja membuat jumlah sperma sedikit. Meskipun studi terbatas dan tidak dapat disimpulkan, sering menggunakan sauna atau hot tub dapat merusak jumlah sperma untuk sementara.
  • Duduk untuk waktu yang lama, mengenakan pakaian ketat atau bekerja dengan memangku laptop pada waktu yang lama juga dapat meningkatkan suhu pada skrotum dan memengaruhi produksi sperma.

Penyebab lain dari jumlah sperma rendah, meliputi:

  • Penggunaan obat. Steroid anabolic yang digunakan untuk merangsang kekuatan dan pertumbuhan otot dapat menyebabkan testis menyusut dan produksi sperma menurun. Penggunaan kokain atau ganja juga dapat mengurangi jumlah dan kualitas sperma.
  • Penggunaan alkohol. Minum alkohol dapat mengurangi kadar testosteron dan menyebabkan penurunan produksi sperma.
  • Pekerjaan. Pekerjaan tertentu dapat dikaitkan dengan risiko ketidaksuburan, termasuk pengelasan atau yang terkait dengan duduk berkepanjangan, seperti mengemudi truk. Namun, data yang mendukung kaitan ini tidaklah konsisten.
  • Merokok tembakau. Pria yang merokok bisa jadi memiliki jumlah sperma yang lebih rendah daripada yang tidak merokok.
  • Stres emosional. Stres emosional yang parah atau berkepanjangan, termasuk stres terkait kesuburan, dapat merusak hormon yang diperlukan untuk memproduksi sperma.
  • Berat badan. Obesitas dapat merusak kesuburan melalui beberapa cara, termasuk secara langsung memengaruhi sperma dan dengan menyebabkan perubahan hormon yang menurunkan kesuburan pria.

Faktor Pemicu

Apa yang meningkatkan risiko seseorang memiliki kondisi oligospermia?

Ada banyak faktor risiko untuk jumlah sperma rendah, seperti:

  • Merokok tembakau
  • Minum alkohol
  • Menggunakan narkoba tertentu
  • Kelebihan berat badan
  • Memiliki infeksi tertentu di masa lalu atau di saat ini
  • Terpapar zat racun
  • Testis terlalu panas
  • Mengalami trauma pada testis
  • Terlahir dengan gangguan kesuburan atau memiliki riwayat keluarga yang menderita gangguan kesuburan
  • Memiliki kondisi medis tertentu, termasuk tumor dan penyakit kronis
  • Menjalani pengobatan kanker, seperti radiasi
  • Menggunakan obat-obatan tertentu
  • Sebelumnya menjalani vasektomi atau operasi perut besar atau panggul
  • Memiliki riwayat testis tidak turun

Diagnosis dan Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Bagaimana dokter bisa mendiagnosis jumlah sperma sedikit?

Ketika Anda menemui dokter karena mengalami kesulitan untuk membuat pasangan hamil, ia akan mencoba menentukan penyebab yang mendasarinya. Bahkan jika dokter berpikir bahwa jumlah sperma rendah adalah masalahnya, dianjurkan supaya pasangan Anda dievaluasi untuk mengeliminasi potensi faktor yang berkontribusi dan menentukan apakah teknik reproduksi yang dibantu diperlukan.

Tes dan diagnosis dapat meliputi yang berikut:

Pemeriksaan fisik umum dan riwayat medis

Pemeriksaan ini melibatkan pemeriksaan alat kelamin dan menanyakan setiap kondisi yang diturunkan, masalah kesehatan kronis, penyakit, cedera atau operasi yang dapat memengaruhi kesuburan. Dokter mungkin juga akan menanyakan mengenai kebiasaan seksual dan perkembangan seksual Anda.

Analisis air mani

Jumlah sperma rendah didiagnosis sebagai bagian dari tes analisis air mani. Jumlah sperma secara umum ditentukan dengan memeriksa air mani dengan mikroskop untuk melihat berapa banyak sperma yang muncul dalam kotak pada pola grid. Dalam kebanyakan kasus, komputer dapat digunakan untuk mengukur jumlah sperma.

Tergantung pada temuan awal, dokter mungkin akan menganjurkan tes tambahan untuk mencari penyebab jumlah sperma rendah dan kemungkinan penyebab ketidaksuburan lainnya pada pria. Beberapa tes tambahan untuk mendiagnosis oligospermia ini dapat meliputi:

  • USG skrotum. Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk melihat testis dan struktur penyokongnya.
  • Tes hormon. Dokter dapat menganjurkan tes darah untuk menentukan kadar hormon yang diproduksi kelenjar hipofisis dan testis, yang berperan penting dalam perkembangan seksual dan produksi sperma.
  • Urinalisis pasca ejakulasi. Sperma dalam urin dapat mengindikasikan bahwa sperma Anda telah bergerak kembali ke dalam kandung kemih, bukannya keluar lewat penis sewaktu berejakulasi (ejakulasi retrograd).
  • Tes genetik. Ketika konsentrasi sperma sangat rendah, penyebab genetik bisa jadi terlibat. Tes darah dapat mengungkap apakah ada sedikit perubahan pada kromosom Y—tanda-tanda kelainan genetik. Tes genetik juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis berbagai sindrom bawaan atau diwariskan.
  • Biopsi testis. Tes ini melibatkan pengambilan sampel dari testis dengan jarum. Hasil dari biopsi testis dapat mengungkap apakah produksi sperma normal atau Anda memiliki jumlah sperma sedikit. Jika normal, masalah kemungkinan disebabkan oleh penyumbatan atau masalah lain terkait pengangkutan sperma. Namun, tes ini biasanya hanya digunakan dalam situasi tertentu dan tidak biasa digunakan untuk mendiagnosis penyebab ketidaksuburan.
  • Tes antibodi anti-sperma. Tes ini, yang digunakan untuk memeriksa sel-sel imun (antibodi) yang menyerang sperma dan memengaruhi kemampuannya untuk berfungsi, tidaklah umum.
  • Tes fungsi sperma yang khusus. Sejumlah tes dapat digunakan untuk memeriksa seberapa baik sperma Anda dapat bertahan setelah ejakulasi, seberapa baik sperma dapat menembus sel telur dan apakah mereka kesulitan untuk menempel pada sel telur. Umumnya, tes ini jarang dilakukan dan sering kali tidak dengan signifikan mengubah anjuran pengobatan.
  • USG transrektal. Tongkat kecil yang dilumasi dimasukkan ke dalam rektum untuk memeriksa prostat dan penyumbatan saluran yang mengangkut air mani (saliran ejakulasi dan vesikula seminalis).

Apa saja pengobatan untuk jumlah sperma rendah (oligospermia)?

  • Operasi. Misalnya, varikokel sering kali dapat diperbaiki melalui pembedahan atau penyumbatan vas deferens diperbaiki. Vasektomi yang telah Anda lakukan di masa lalu bisa juga dikembalikan seperti semula. Dalam kasus tidak adanya sperma saat ejakulasi, sperma sering kali dapat diambil langsung dari testis atau epididimis menggunakan teknik pengambilan sperma.
  • Mengobati infeksi. Antibiotik dapat menyembuhkan infeksi saluran reproduksi, tetapi ini tidak selalu mengembalikan kesuburan.
  • Pengobatan untuk masalah hubungan seksual. Obat-obatan atau konseling dapat membantu memperbaiki kesuburan dalam kondisi seperti disfungsi ereksi atau ejakulasi prematur.
  • Terapi dan obat hormon. Dokter mungkin menganjurkan penggantian atau obat-obatan hormon apabila ketidaksuburan (jumlah sperma sedikit) disebabkan oleh kadar hormon tertentu yang terlalu tinggi atau rendah, atau masalah tubuh dalam menggunakan hormon.
  • Teknologi reproduksi bantuan (ART). Pengobatan ART melibatkan pengambilan sperma melalui ejakulasi normal, ekstraksi bedah atau dari individu donor, bergantung pada kasus dan keinginan spesifik Anda. Sperma tersebut kemudian dimasukkan ke dalam saluran kelamin wanita, atau digunakan dalam pembuahan in vitro atau injeksi sperma intracytoplasmic.

Pencegahan

Apa saja yang bisa saya lakukan untuk mencegah dan mengobati oligospermia (jumlah sperma sedikit)?

Gaya hidup dan pengobatan di rumah berikut dapat membantu Anda mengatasi jumlah sperma rendah (oligospermia) untuk meningkatkan potensi kehamilan, yaitu:

  • Meningkatkan frekuensi seks. Melakukan hubungan seksual setiap hari atau dua hari sekali sejak (minimal) empat hari sebelum ovulasi dapat meningkatkan kesempatan Anda untuk membuat pasangan hamil.
  • Melakukan hubungan seks saat pembuahan adalah hal yang mungkin. Seorang wanita lebih mungkin untuk hamil selama ovulasi—yang terjadi di tengah-tengah siklus menstruasi. Ketika Anda melakukannya, sperma yang dapat hidup selama beberapa hari di dalam rahim, memiliki kemungkinan untuk bertemu dengan sel telur lebih besar.
  • Hindari pelumas. Beberapa produk seperti Astroglide atau K-Y jelly, lotion, dan air liur dapat mengganggu gerakan dan fungsi sperma. Tanyakan pada dokter mengenai pelumas yang aman bagi sperma.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikanlah pada dokter untuk memahami solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Yang juga perlu Anda baca