Kusta (Lepra)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 September 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu kusta (lepra)?

Kusta alias lepra atau penyakit Morbus Hansen adalah infeksi menular kronis yang menyerang sistem saraf, kulit, selaput lendir hidung, dan mata.

Penyakit ini merupakan penyakit tertua di dunia, kemunculannya sudah ada sejak tahun 600 sebelum masehi. Dahulu, penyakit ini dipercaya sebagai kutukan dari Tuhan dan sering dihubungkan dengan dosa.

Karena dapat menyebabkan kecacatan, mutilasi (terputusnya salah satu anggota gerak seperti jari), luka borok, dan kerusakan lainnya,  kusta menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti terutama di zaman kuno.

Padahal, sebenarnya lepra bisa sembuh total jika penderitanya mendapatkan pengobatan yang tepat. Pasien juga bisa menjalankan kembali kehidupan normalnya, seperti bekerja, bersekolah, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya.

Di Indonesia, ada dua jenis penyakit lepra yang umum ditemukan, di antaranya:

  • Kusta kering atau pausi basiler (PB). Penyakit lepra jenis ini ditandai dengan kemunculan sekitar 1-5 bercak putih di kulit. Bercak putih yang muncul tampak mirip sekali dengan panu.
  • Kusta basah atau multi basiler (MB). Gejala yang paling terlihat dari kondisi ini adalah munculnya bercak kemerahan dan disertai penebalan pada kulit yang mirip dengan kadas. Bercak kemerahan ini bisa muncul dan menyebar lebih dari lima buah.

Seberapa umumkah kusta (lepra)?

Setiap dua menit seseorang terdiagnosis penyakit lepra. Menurut laporan WHO, pada akhir tahun 2015, tercatat 176 ribu kasus penyakit kusta di 138 negara termasuk Indonesia.

Kusta termasuk penyakit yang umum di banyak negara, terutama yang beriklim tropis atau subtropis. Penyakit ini dapat dialami oleh semua kalangan, tanpa memandang jenis kelamin maupun usia. 

Silakan bertanya kepada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala kusta (lepra)?

Secara umum, gejala kusta yang paling khas adalah sensasi mati rasa atau baal pada area kulit yang menampakkan bercak. Sensasi mati rasa ini menyebabkan penderitannya tidak bisa merasakan perubahan suhu.

Akibatnya, mereka yang mengalami penyakit ini kehilangan sensasi sentuhan dan rasa sakit pada kulitnya. Hal ini juga yang membuat penderita tidak merasakan sakit sekalipun jari mereka putus.

Selain yang sudah disebutkan di atas, berikut beberapa tanda dan gejala kusta lainnya yang harus Anda wasapdai:

  • Kulit kering dan berisisik
  • Area yang sebelumnya ditumbuhi rambut atau bulu bisa rontok
  • Kelemahan atau kelumpuhan otot di tangan atau kaki
  • Mutilasi, atau sensasi mati rasa yang menyebabkan penderita tidak menyadari ketika memiliki luka di bagian tubuhnya
  • Muncul lepuhan atau ruam kemerahan pada kulit
  • Pembesaran saraf tepi, biasanya di sekitar siku dan lutut
  • Muncul benjolan seperti bisul tapi tidak sakit ketika disentuh
  • Penurunan berat badan secara drastis
  • Ginekomastia (payudara yang tumbuh membesar pada pria), akibat gangguan keseimbangan hormon

Sering kali gejala penyakit ini menyerupai penyakit lain sehingga menyebabkan terlambatnya mendapatkan pengobatan yang tepat. Beberapa penyakit yang gejalanya mirip dengan kusta adalah psoriasis, panu, kadas, vitiligo, dan masih banyak lagi.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda merasa memiliki salah satu atau beberapa gejala kusta seperti yang sudah tercantum di atas, segeralah melakukan konsultasi ke dokter. Ingat, setiap tubuh orang berfungsi berbeda satu sama lain.

Jadi, selalu konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai dengan kondisi yang Anda alami.

Penyebab

Apa penyebab kusta?

Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri basilus, Mycobacterium leprae (M. leprae). Bakteri M. leprae sendiri berkembang biak dengan sangat lambat dan periode inkubasi penyakit diperkirakan sekitar 5 tahun.

Sebenarnya, sampai saat ini para ahli belum begitu mengerti bagaimana kusta menyebar. Namun, para ahli menduga bahwa penyakit dapat ditularkan dari percikan air liur orang yang terinfeksi ketika mereka sedang bersin, batuk, atau berbicara dengan Anda.

Bakteri yang terkandung dalam percikan ini akan masuk ke dalam hidung dan organ pernapasan lainnya. Kemudian, bakteri bergerak masuk ke dalam sel-sel saraf. Karena bakteri senang dengan tempat yang bersuhu dingin, maka bakteri akan masuk ke sel-sel saraf kulit di sekitar selangkangan atau kulit kepala yang bersuhu lebih rendah.

Sel saraf tersebut pun akan menjadi rumah bagi bakteri untuk berkembang biak. Biasanya, bakteri memerlukan waktu 12-14 hari untuk membelah diri. Pada tahap ini, seseorang yang terinfeksi belum memunculkan gejala kusta.

Nantinya, ketika bakteri sudah berkembang semakin banyak, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan sel darah putih untuk melawan bakteri. Barulah tubuh mulai merasakan gejala seperti mati rasa pada kulit.

Meski merupakan penyakit menular kronis, beberapa orang mungkin tidak pernah terkena penyakit ini sekalipun mereka terpapar bakteri. Pasalnya, sekitar 95% populasi dunia memiliki kekebalan alami terhadap kusta.

Faktor risiko

Siapa saja yang berisiko tinggi terkena kusta?

Penyakit ini memang bisa menyerang siapa saja. Namun, faktor risiko terbesar untuk tertular penyakit ini adalah melakukan kontak langsung dalam waktu lama dengan orang yang terinfeksi.

Mereka yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk, seperi rumah yang tidak memadai dan tidak memiliki sumber air bersih juga berisiko terkena penyakit ini.

Selain itu, asupan gizi yang buruk (malnutrisi) serta sistem imun yang lemah akibat kondisi medis tertentu seperti HIV juga bisa meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang perlu diwasapdai?

Lepra yang dibiarkan tanpa pengobatan atau bahkan terlambat terdeksi bisa menyebabkan cacat fisik yang bersifat sementara maupun selamanya.

Menurut Pedoman Nasional program Pengendalian Penyakit Kusta yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan Nasional, cacat fisik akibat penyakit ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Cacat primer. Dapat membuat penderitanya mati rasa. Cacat primer menimbulkan bercak kulit mirip panu yang biasanya muncul dengan cepat dan dalam waktu yang singkat. Bercak dapat meradang, membengkak dan menyebabkan demam. Selain itu, claw hand alias tangan dan jari yang membengkok juga bisa terjadi.
  • Cacat sekunder. Merupakan tahap lanjutan dari cacat primer, jika bakteri yang menyebar sudah mengakibatkan kerusakan saraf. Pasien akan mengalami kelumpuhan di bagian tangan, kaki, jari-jari tangan, atau refleks kedip yang berkurang. Kulit juga bisa menjadi kering dan bersisik.

Selain cacat fisik, orang-orang dengan penyakit ini juga berisiko tinggi terhadap:

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana kusta didiagnosis?

Hal pertama yang bisa dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit ini adalah dengan menanyakan seputar riwayat medis Anda dan mengecek kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh. Pemeriksaan fisik maupun laboratorium juga diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Bila kemungkinan Anda menderita kusta tinggi, dokter akan melakukan pemeriksaan bakterioskopik, di mana sampel jaringan kulit akan diambil dan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat adanya bakteri M. Lepra.

Pemeriksaan lainnya meliputi histopatologis yang bertujuan untuk melihat perubahan jaringan karena infeksi dan pemeriksaan serologis untuk mengetahui reaksi antibodi pada infeksi.

Pada kusta pausibasiler, tidak ada bakteri yang akan terdeteksi. Sebaliknya, bakteri mungkin akan ditemukan di tes hapusan kulit dari orang dengan kusta multibasiler.

Bisakah kusta disembuhkan?

Banyak orang mengira kalau kusta merupakan penyakit kutukan yang tidak bisa diobati. Padahal, seiring dengan kemajuan dunia medis, penyakit ini bisa diobati dan sembuh total. Kuncinya, orang yang terkena penyakit ini harus segera mencari bantuan medis dan disiplin dalam melakukan pengobatan.

Pasalnya, semakin cepat pengobatan dilakukan, maka risiko penderita mengalami kecacatan permanen jadi lebih rendah. Tak hanya itu, pengobatan awal juga dapat mencegah kerusakan jaringan, menghentikan penyebaran penyakit, dan mencegah komplikasi kesehatan serius.

Obat-obatan untuk kusta

Guna mengatasi penyakit lepra, dokter biasanya akan melakukan terapi obat kombinasi  atau multi-drug therapy (MDT). Pengobatan ini umumnya dilakukan dalam kurung waktu enam bulan atau sampai 1-2 tahun bergantung dengan jenis lepra dan keparahan penyakit.

Beberapa obat-obatan yang sering diresepkan dokter dalam melakukan terapi MDT di antaranya:

  • Rifampicin. Antibiotik yang bekerja dengan menghambat pertumbuhan bakteri kusta di dalam tubuh. Obat berbentuk kapsul dan biasanya diminum satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Efek sampingnya berupa perubahan warna urine, sakit perut, demam, dan menggigil.
  • Clofazimine. Obat antibiotik terkadang diresepkan bersama dengan obat lain seperti kortison untuk mengobati luka dari penyakit kusta. Dapat dikonsumsi bersamaan dengan makanan dan penggunaannya harus sesuai dengan resep dokter agar tidak memperparah gejala.
  • Dapsone. Merupakan antibiotik golongan sulfona, obat ini bekerja untuk mengurangi peradangan dan menghentikan pertumbuhan bakteri. Obat biasanya diminum sehari sekali atau sesuai resep dokter. Gunakan secara teratur dan bila perlu pada jam yang sama guna mendapatkan hasil yang optimal.

Dalam kasus tertentu, pembedahan juga bisa dilakukan sebagai proses lanjutan setelah pengobatan antibiotik. Pembedahan ini dilakukan untuk membantu memperbaiki saraf yang rusak atau bentuk tubuh penderita yang cacat, supaya penderita bisa beraktivitas normal seperti sedia kala.

Rutin minum obat kunci kesembuhan pasien lepra

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, lepra adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Dengan catatan, Anda rutin minum obat yang sudah diresepkan dokter.

Tidak disiplin minum obat akan membuat bakteri penyebab lepra menjadi lebih kuat dan kebal terhadap pengobatan saat ini dan selanjutnya. Jika kondisi ini terjadi dalam waktu yang lama, maka gejala yang akan Anda alami pun bisa semakin parah. Pasalnya, bakteri penyebab lepra terus berkembang biak semakin banyak di dalam tubuh Anda.

Tak hanya itu, sering lupa minum obat atau bahkan menghentikan pengobatan secara asal juga dapat meningkatkan risiko penularan bakteri penyebab kusta ke orang lain.

Pada akhirnya, orang-0rang terdekat Andalah yang akan menjadi sasaran penularan penyakit ini. Ya, orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan Anda bisa saja tertular penyakit ini di kemudian hari jika Anda tidak rutin minum obat kusta.

Pengobatan di rumah

Apa saja pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kusta?

Selain harus minum obat secara teratur, orang dengan kusta juga harus memperhatikan asupan nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan kusta. Berikut beberapa pilihan nutrisi yang harus dipenuhi oleh orang dengan penyakit lepra:

  • Vitamin E. Kacang-kacangan dan biji-bijian mentah, seperti almond, kuaci, dan kacang tanah merupakan sumber vitamin E yang baik dikonsumsi orang dengan penyakit kusta.
  • Vitamin A. Anda bisa mendaptkan asupan vitamin A dari worterl, ubi jalar, bayam, pepaya, hati sapi, serta produk olahan susu dan telur.
  • Vitamin D.  Selain dari paparan sinar matahari langsung, Anda juga bisa mendapatkan asupan vitamin ini dari minyak ikan cod, salmon, sarden, makarel, telur, dan sereal yang diperkaya vitamin D.
  • Vitamin C. Vitamin C bisa ditemukan pada buah sitrus (jeruk dan lemon), mangga, stroberi, hingga sayuran seperti tomat, dan brokoli.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Psoriasis Vulgaris

Psoriasis vulgaris atau psoriasis plak adalah jenis psoriasis yang paling umum. Ketahui seperti apa gejala, penyebab, dan pengobatannya di artikel ini!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Kulit, Psoriasis 28 September 2020 . Waktu baca 9 menit

Berbagai Gejala Psoriasis, Baik Secara Umum Maupun Sesuai Jenisnya

Penyakit psoriasis membuat Anda berisiko mengalami serangan jantung dan hipertensi. Kenali ciri-ciri dan gejala psoriasis berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Penyakit Kulit, Psoriasis 24 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Psoriasis

Psoriasis adalah penyakit kulit yang cukup umum terjadi. Apa penyebab, ciri-ciri, dan obat yang sering digunakan untuk mengobati psoriasis?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Penyakit Kulit, Psoriasis 24 September 2020 . Waktu baca 12 menit

Penyebab Penyakit Kulit Beserta Faktor yang Meningkatkan Risikonya

Tiap penyakit kulit punya beragam penyebab. Untuk itu, penting mengetahui penyebab pastinya agar Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Penyakit Kulit 18 September 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Psoriasis eritroderma

Psoriasis Eritroderma (Psoriasis Eritrodermik)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Psoriasis pustulosa atau pustular

Psoriasis Pustulosa (Psoriasis Pustular)

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 10 menit
psoriasis inversa

Psoriasis Inversa

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 8 menit
psoriasis gutata adalah

Psoriasis Gutata

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 8 menit