Intoleransi Laktosa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30/04/2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang terjadi ketika usus tidak mampu mencerna laktosa.

Laktosa adalah jenis gula yang banyak terdapat dalam susu hewani dan produk olahannya, seperti keju, es krim, yogurt, dan mentega (butter).

Normalnya, usus kecil butuh enzim yang disebut laktase untuk memecah laktosa menjadi gula dalam bentuk lebih sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa. Tubuh kemudian menyerap gula sederhana ini ke dalam aliran darah untuk dijadikan energi.  

Ketika tidak bisa dicerna dan diserap tubuh, laktosa akhirnya berubah menjadi gas yang menyebabkan munculnya berbagai gejala masalah pencernaan.

Gangguan sistem pencernaan ini berbeda dengan alergi susu, yang berhubungan dengan sistem imun.

Seberapa umumkah intoleransi laktosa?

Menurut Cleveland Clinic, diperkirakan 68% jumlah populasi di dunia mengalami intoleransi pada laktosa.

Kebanyakan orang dengan gangguan sistem pencernaan ini memiliki etnis dan ras, seperti Amerika Latin, Afrika-Amerika, Asia, dan Eropa Timur.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-­tanda dan gejala intoleransi laktosa?

Gejala intoleransi laktosa biasanya dapat mulai muncul dalam waktu 30 menit hingga 2 jam setelah makan hidangan mengandung susu.

Ada beberapa orang yang sangat sensitif terhadap laktosa sehingga gejalanya bisa langsung muncul cepat dan lebih parah.

Namun, ada juga sebagian orang yang masih bisa mengonsumsi laktosa dalam jumlah sedikit, sehingga gejala yang muncul mungkin terasa ringan atau samar.

Gejala intoleransi laktosa yang umumnya muncul, meliputi:

1. Perut sakit, kembung, dan/atau kram

Laktosa susu yang masuk ke dalam tubuh selanjutnya akan dicerna dan difermentasi. Selama proses fermentasi ini, laktosa akan melepaskan asam lemak dan sekumpulan gas berupa hidrogen, metana, dan karbon dioksida.

Kandungan asam dan gas yang berlebihan dapat menyebabkan perut terasa kembung, sakit, dan bahkan kram.

2. Diare

Tubuh yang tidak bisa mencerna laktosa rentan mengalami diare. Diare muncul sebagai reaksi tubuh yang justru meningkatkan volume air di usus besar.

Semakin banyak cairan yang dialirkan ke usus, semakin banyak pula air yang ikut terbawa bersama feses. 

3. Gejala lainnya

Selain tiga gejala di atas, ada beberapa gejala intoleransi laktosa lainnya yang lebih jarang terjadi. Berikut adalah yang harus Anda waspadai:

  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Kehilangan konsentrasi
  • Ada suara gemuruh di perut 

Namun, gejala-gejala ini belum ditetapkan sebagai gejala sebenarnya dari intoleransi laktosa dan mungkin memiliki penyebab lain. 

Sementara itu, gejala intoleransi laktosa pada anak mungkin akan sedikit berbeda, seperti:

  • Diare berbuih
  • Pertumbuhan dan perkembangan yang melambat
  • Kadang-kadang muntah.

Kemungkinan ada tanda-­tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas setelah mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa, baiknya segera konsultasi ke dokter.

Begitu juga jika Anda mengalami gejala yang tidak disebutkan karena tubuh setiap orang memberikan reaksi yang tidak selalu sama.

Penyebab

Apa penyebab intoleransi laktosa?

Penyebab utama dari intoleransi laktosa adalah tubuh yang tidak memiliki cukup enzim laktase untuk mencerna gula di susu. Namun, ada beberapa hal lain yang bisa menyebabkan kondisi ini, yang dibagi berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Intoleransi laktosa primer

Jenis intoleransi ini umumnya dimiliki oleh orang-orang yang sebelumnya pernah dan bisa mengonsumsi produk susu tanpa masalah apa pun.

Hampir setiap tubuh orang yang lahir ke dunia akan menghasilkan cukup laktase untuk mencerna laktosa dalam ASI dan susu formula untuk bayi. Namun bagi beberapa orang, intoleransi laktosa dapat berkembang seiring bertambahnya umur.

Umumnya setelah konsumsi susu sempat lama dihentikan, usus halus akan memproduksi lebih sedikit enzim laktase. Perubahan ini membuat mereka lebih rentan mengalami intoleransi seiring waktu.

2. Intoleransi laktosa sekunder

Jenis intoleransi laktosa ini terjadi sementara akibat pengaruh penyakit di sistem pencernaan, efek samping operasi, atau selama mengonsumsi obat tertentu.

Salah satu penyakit yang sering menyebabkan orang menjadi intoleran terhadap susu adalah muntaber (gastroenteritis) akut. Infeksi ini menyebabkan kerusakan sementara pada lapisan usus selama masih sakit.

Orang yang terkena muntaber cenderung akan mengalami mual, muntah, dan diare saat mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa. Namun setelah sembuh, tubuhnya kembali bisa mencerna laktosa seperti biasa.

3. Intoleransi laktosa bawaan

Seseorang dikatakan mengalami intoleransi ini jika tubuhnya sama sekali tidak dapat menghasilkan enzim laktase sejak lahir.

Penyebabnya adalah kelainan genetik yang diturunkan. Namun, kedua sisi orangtua harus sama-sama memiliki gen mutasi untuk dapat menurunkan kondisi ini kepada sang bayi.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk intoleransi laktosa?

Faktor-faktor tertentu yang meningkatkan risiko Anda mengalami intoleransi laktosa, yaitu:

  • Usia. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, tapi gejalanya cenderun lebih tampak jelas seiring bertambahnya usia.
  • Lahir prematur. Bayi yang lahir prematur dapat mengalami kekurangan laktase karena usus kecilnya belum terbentuk sempurna. Usus bayi belum membentuk sel-sel yang menghasilkan laktase sampai akhir trimester ketiga.
  • Penyakit tertentu. Memiliki penyakit yang menyerang usus kecil dapat mengganggu jumlah enzim di usus, termasuk enzim laktase, seperti penyakit Celiac atau Crohn.
  • Pengobatan. Orang yang menjalani perawatan kanker tertentu, seperti terapi radiasi atau kemoterapi yang terfokus pada bagian perut (usus khususnya).

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang bisa terjadi akibat intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa mengharuskan Anda menghindari asupan susu dan produk susu lainnya.

Laktosa pada dasarnya berfungsi membantu pencernaan untuk menyerap zat gizi lain dalam makanan. Sementara itu, semua hidangan yang berbahan susu umumnya mengandung kalsium, magnesium, seng, protein, serta vitamin A, vitamin B12, dan vitamin D.

Semua mineral dan vitamin ini penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Kalsium, magnesium, dan seng, contohnya, penting untuk perkembangan tulang yang kuat dan sehat.

Jika tubuh tidak dapat menyerap laktosa, Anda akan berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan gizi maupun beberapa kondisi berikut:

  • Osteopenia adalah kepadatan tulang yang sangat rendah.
  • Osteoporosis adalah kondisi tulang yang sudah keropos dan sangat berisiko patah tulang.

Apabila Anda intoleran terhadap laktosa dan khawatir tentang komplikasi yang mungkin ditimbulkannya, berkonsultasilah dengan ahli gizi.

Spesialis gizi dapat merancang rencana saran untuk menyesuaikan pola makan Anda, atau menyarankan Anda menambah asupan gizi lewat suplemen untuk mencegah dampak dari intoleransi laktosa.

Diagnosis

Bagaimana cara dokter mendiagnosis kondisi ini?

Ada tiga tes yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis intoleransi laktosa, yaitu tes toleransi laktosa, tes napas hidrogen dan tes keasaman tinja.

1. Tes intoleransi laktosa

Tes ini dapat digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa. Anda biasanya akan diminta untuk puasa makan dan minum apa pun selama beberapa jam sebelum tes dimulai. Kemudian, darah Anda akan untuk dicek berapa kadar glukosa darah saat ini. 

Selanjutnya, Anda akan diminta minum cairan yang mengandung  50 gram laktosa. Sampel darah yang kedua akan diambil untuk melihat apakah ada perubahan pada kadar glukosa darah. 

Jika laktosa bisa dicerna oleh tubuh, kadar glukosa darah akan naik. Jika kadar glukosa terbukti tidak naik, ini menandakan bahwa laktosa tidak dipecah karena Anda memiliki intoleransi laktosa.

2. Tes napas hidrogen

Prosedur tes ini sangat mirip dengan tes intoleransi laktosa. Setelah berpuasa beberapa jam, Anda akan diminta menghembuskan napas ke corong yang terhubung ke kantong foil seperti balon.

Selanjutnya, pasien akan minum cairan yang dapat mengandung hingga 50 gram laktosa. Proses ini kemungkinan akan diulang terus beberapa kali secara bertahap dalam kurun waktu 6 jam.

Normalnya, napas tidak mengandung hidrogen. Jika setelah diperiksa ternyata napas Anda mengandung hidrogen, dokter dapat mendiagnosis kemungkinan penyebabnya adalah intoleransi laktosa.

Hidrogen hadir dalam napas ketika usus tidak bisa mencerna dan mengolah laktosa sebagai energi.

3. Tes keasaman feses

Tes ini biasanya dilakukan pada bayi dan anak kecil. Sampel feses nantinya akan dikumpulkan dan diuji dengan asam laktat, glukosa, dan asam lemak rantai pendek lainnya.

Jika dari hasilnya ditemukan laktosa yang tidak tercerna oleh tubuh, dokter dapat memastikan penyebabnya adalah intoleransi.

Tes ini terbilang cukup aman tanpa menimbulkan masalah seperti dehidrasi akibat diare, karena menelan laktosa dalam jumlah besar. 

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dikendalikan gejala dan faktor pemicunya. Kebanyakan orang dapat mengatasi gejalanya dengan mengubah pola makan dan membatasi jumlah laktosa yang mereka konsumsi.

Beberapa orang melakukan lebih baik dengan mengurangi asupan laktosa dari diet mereka sama sekali.

1. Makan makanan yang bergizi seimbang

Membatasi minum atau makan produk yang terbuat dari susu tidak berarti Anda tidak bisa mendapatkan cukup kalsium. Ada banyak makanan yang mengandung kalsium namun tergolong bebas laktosa, seperti:

  • Brokoli
  • Produk yang diperkaya kalsium, seperti roti dan jus
  • Ikan salmon
  • Alternatif susu lain, seperti susu kedelai dan susu beras
  • Jeruk
  • Bayam

Pastikan juga Anda mendapat cukup vitamin D, yang biasanya ada di dalam susu. Anda bisa mengonsumsi, telur, hati, dan yogurt yang mengandung vitamin D. Tubuh secara alami juga dapat menghasilkan vitamin D saat Anda terkena sinar matahari.

Anda juga bisa konsultasi dan minta dokter meresepkan suplemen kalsium atau yang mengandung vitamin D

2. Batasi produk susu

Mencegah munculnya gejala sekaligus keparahan intoleransi laktosa mengharuskan Anda membatasi konsumsi produk susu, seperti:

  • Susu, milkshakes, smoothies yang dibuat dengan susu atau yogurt, dan minuman berbahan dasar susu hewani lainnya
  • Whipped cream (krim kocok) dan krimer dairy 
  • Es krim, es susu, gelato, yogurt, puding susu, atau camilan dingin apa pun yang mengandung susu
  • Keju atau mentega
  • Sup krim atau saus dan krim dari susu (misalnya saus pasta carbonara)
  • Makanan-makanan lainnya yang dibuat dari susu

Makanan lain nono-susu yang mungkin mengandung laktosa dalam jumlah sedikit yaitu:

  • Roti dan kue-kue kering
  • Permen cokelat
  • Salad dressing dan saus
  • Sereal dan produk kreasinya
  • Daging
  • Permen dan makanan ringan
  • Adonan pancake dan biskuit
  • Margarin
  • Jeroan, (seperti hati)
  • Gula bit, kacang polong, dan kacang lima

Anda bisa membatasi mengonsumsi produk susu berlebih saat mengalami intoleransi laktosa dengan langkah berikut ini:

  • Batasi minum susu, maksimal 118 ml saja. Semakin kecil jumlah banyak susunya, semakin kecil kemungkinan menyebabkan masalah pencernaan.
  • Coba minum susu dengan makanan lain. Ini dapat memperlambat proses pencernaan dan dapat mengurangi gejala intoleransi laktosa
  • Pilih produk susu yang bebas laktosa atau produk susu yang mengandung laktosa rendah, misalnya seperti keju cheddar dan yoghurt. 
  • Beli produk atau bahan makanan yang jumlah laktosanya sedikit atau bahkan bebas laktosa. 
  • Mengonsumsi tablet atau tetes obat yang mengandung enzim laktase yang dapat membantu Anda mencerna produk susu. Anda bisa minum tablet sebelum makan atau ngemil. Namun, tidak semua orang dengan intoleransi laktosa bisa terbantu oleh produk-produk ini.

3. Mengonsumsi probiotik

Probiotik adalah bakteri baik yang dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan. Probiotik dapat meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus untuk membantu meredakan gejala intoleransi. 

Probiotik biasanya banyak terkandung dalam yogurt. namun, Anda bisa mengonsumsi versi yang lebih amannya dari tempe atau suplemen probiotik.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi intoleransi laktosa?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi sekaligus mencegah penyakit bertambah parah. 

  • Konsumsilah cukup kalsium dan vitamin D dari makanan atau suplemen. 
  • Beritahu dokter Anda tentang semua obat-obatan yang Anda gunakan. 
  • Pertimbangkan lagi jika ingin menyusui bayi Anda dengan susu formula, jika Anda memiliki riwayat keluarga yang mengalami intoleransi laktosa. 
  • Konsumsi susu formula berbahan dasar kedelai atau susu bebas laktosa. 
  • Hubungi dokter jika diet bebas susu tidak membantu menghilangkan gejala. 
  • Hubungi dokter jika berat badan anak Anda tidak bertambah atau anak Anda menolak makanan atau susu formula.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

9 Makanan yang Ampuh Mengusir Perut Kembung

Perut kembung atau begah pasti sangat mengganggu. Untuk segera meredakan rasa tidak nyaman, siapkan berbagai makanan berikut untuk mengusir perut kembung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Apa Beda Sakit Maag, Dispepsia, dan GERD?

Ada beberapa macam sakit lambung yang masing-masingnya memiliki gejala tertentu. Maka itu, ketahui perbedaan antara maag, dispepsia, dan GERD.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Konten Bersponsor
perbedaan maag dan gerd
Gangguan Pencernaan, Health Centers 18/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Begini Cara Akar Manis Membantu Melindungi Lambung

Akar manis berguna untuk lambung dalam banyak cara. Yuk, luangkan waktu membaca penyebab lambung bermasalah dan manfaat licorice bagi lambung.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
gambar akar manis alias licorice yang bermanfaat untuk lambung
Gangguan Pencernaan, Health Centers 18/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Sindrom Usus Bocor, Masalah Pencernaan yang Misterius dan Memicu Banyak Penyakit

Sindrom usus bocor adalah kondisi saat bakteri dari saluran cerna memasuki darah lewat celah dinding usus. Uniknya, kondisi ini belum diakui dunia medis.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Gangguan Pencernaan, Health Centers 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makan tidak teratur

6 Dampak Buruk Akibat Makan Tidak Teratur

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 03/08/2020 . Waktu baca 4 menit
Konten Bersponsor
tanda cacingan

Perlu Tahu! Segudang Tanda Cacingan yang Sering Diabaikan

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
bahan kimia alat masak celiac

Bahan Kimia pada Alat Masak Antilengket Tingkatkan Risiko Penyakit Celiac

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
bahagia mencegah masalah pencernaan

Merasa Bahagia Melalui Hormon Ternyata Bisa Mencegah Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . Waktu baca 4 menit