Hipogonadisme

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 September 2020 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu hipogonadisme?

Hipogonadisme adalah suatu kondisi di mana kelenjar seks menghasilkan hormon dalam jumlah yang sangat sedikit, atau tidak sama sekali. Kelenjar seks, atau yang juga bisa disebut dengan gonad, biasanya berupa testis pada pria dan ovarium pada wanita.

Hormon seks adalah hormon yang membantu mengendalikan perubahan fisik pada laki-laki dan perempuan, seperti saat memasuki masa pubertas. Hormon ini juga berperan dalam memproduksi sperma pada pria dan siklus menstruasi pada wanita.

Dikutip dari Mayo Clinic, secara umum hipogonadisme dibagi menjadi dua, yaitu hipogonadisme primer dan sekunder.

Hipogonadisme primer

Kondisi ini terjadi akibat adanya masalah pada kelenjar seks atau organ seks. Otak masih memberikan sinyal ke gonad untuk memproduksi hormon, tetapi testis atau ovarium tidak dapat melakukannya.

Hipogonadisme sekunder (sentral)

Pada hipogonadisme sekunder atau sentral, otak gagal memberikan sinyal ke kelenjar seks untuk memproduksi hormon. Kesalahan terletak pada bagian hipotalamus dan kelenjar pituitari yang ada di otak.

Seberapa umumkah hipogonadisme?

Hipogonadisme adalah kondisi yang lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita. Kasus penyakit ini yang diderita oleh pria adalah sebanyak 1 dari 500-1.000 orang, dibanding wanita dengan angka 1 per 2500 hingga 10.000 orang.

Selain itu, jenis primer lebih sering terjadi dibanding jenis sekunder.

Hipogonadisme dapat menyerang pada usia berapa pun, tapi gejala dan konsekuensi yang diderita oleh masing-masing kelompok umur berbeda.

Misalnya, apabila kondisi ini terjadi saat sebelum lahir, bayi akan terlahir dengan jenis kelamin yang bermasalah.

Jika kondisi ini terjadi setelah masa pubertas, penderitanya akan mengalami masalah kesuburan, disfungsi seksual, dan kemandulan.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja gejala hipogonadisme?

Penyakit ini merupakan suatu kondisi yang bisa dimulai selama masa perkembangan janin, sebelum pubertas, atau selama usia dewasa. Tanda dan gejala tergantung kapan kondisi berkembang.

Pada pria, gejala utama terjadinya hipogonadisme adalah gangguan hormon testosteron pada pria. Kondisi ini dapat didiagnosis saat testosteron tergolong rendah, kelelahan, energi semakin berkurang, serta dorongan seksual yang juga berkurang.

Lalu, gejala lainnya adalah masalah kesuburan atau infertilitas pada pria. Maka dari itu, hal ini bisa menjadi salah satu hambatan ketika Anda dan pasangan ingin melakukan program hamil. Hal ini karena kadar sperma yang sedikit di dalam tubuh.

Gejala yang mungkin memengaruhi pria termasuk:

  • Fungsi dan fisik alat kelamin tidak normal
  • Berkurangnya massa otot
  • Gangguan pertumbuhan bulu tubuh
  • Gangguan pertumbuhan penis dan testis
  • Perkembangan jaringan payudara (ginekomastia)
  • Disfungsi ereksi
  • Kemandulan
  • Kehilangan massa tulang (osteoporosis)

Gejala yang mungkin mempengaruhi wanita termasuk:

  • Berhenti menstruasi
  • Gairah seksual berkurang
  • Pertumbuhan payudara berkurang
  • Mengeluarkan cairan seperti susu dari payudara (dari prolaktinoma)
  • Merasa panas
  • Perubahan energi dan suasana hati

Mungkin masih terdapat beberapa gejala yang tidak tercantum di atas. Jika ingin bertanya tentang gejala, konsultasikan kepada dokter.

Kapan harus pergi ke dokter?

Temui dokter jika memiliki gejala hipogonadisme di atas atau ingin bertanya lebih lanjut. Selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik bagi kondisi Anda.

Penyebab

Apa penyebab hipogonadisme?

Ada dua jenis hipogonadisme, yaitu primer dan sekunder.

Penyebab umum hipogonadisme primer meliputi:

  • Kelainan autoimun tertentu macam penyakit Addison dan hipoparatiroidisme
  • Kelainan genetik seperti sindrom Turner (pada wanita) dan sindrom Klinefelter (pada pria)
  • Infeksi
  • Penyakit hati dan ginjal
  • Radiasi
  • Operasi
  • Kelebihan zat besi (hemokromatosis)

Penyebab umum hipogonadisme sekunder termasuk:

  • Anorexia nervosa
  • Pendarahan di area pituitari
  • Minum obat seperti glucocorticoid dan opiates
  • Menghentikan penggunaan anabolic steroid
  • Gangguan genetik termasuk sindrom Kallmann
  • Infeksi
  • Kekurangan gizi
  • Radiasi
  • Kehilangan berat badan yang drastis (termasuk kehilangan berat badan setelah operasi bariatric
  • Operasi
  • Tumor
  • HIV / AIDS

Namun, secara garis besar penyakit ini disebabkan oleh tiga hal utama, yaitu:

1. Bawaan lahir

Kondisi ini kemungkinan bisa muncul sejak bayi masih di dalam kandungan. Beberapa penyakit yang dapat memicu terjadinya kondisi ini adalah:

2. Muncul saat dewasa

Hipogonadisme juga bisa saja terjadi tanpa diturunkan dan terjadi akibat faktor dari luar, seperti:

  • Infeksi
  • Radiasi
  • Zat-zat beracun dari alam
  • Agen alkilasi
  • Obat ketoconazole
  • Obat glucocorticoids
  • Penggunaan obat steroid berlebihan
  • Penyakit sistem imun lemah

3. Idiopatik

Tidak hanya dari penyebab yang sudah dijelaskan di atas, ada kemungkinan kondisi hipogonadisme terjadi pada Anda tetapi tidak diketahui apa penyebab pastinya.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana cara dokter mendiagnosis hipogonadisme?

Ketika mendiagnosis kelainan ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Seluruh bagian tubuh akan diperiksa, apakah perkembangannya sesuai dengan usia atau tidak. Dokter mungkin akan mengecek massa otot, rambut di seluruh tubuh, dan organ reproduksi Anda.

Kemudian, apabila diperlukan, dokter akan menyarankan Anda melakukan beberapa tes tambahan, seperti:

1. Tes hormon

Apabila dokter menduga Anda mengidap hipogonadisme, pemeriksaan yang akan dilakukan berikutnya adalah mengecek kadar hormon di dalam tubuh.

Darah akan dicek untuk mengetahui kadar hormon follicle-stimulating (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kelenjar pituitari di dalam tubuh Anda yang berperan dalam produksi hormon tersebut.

Apabila Anda perempuan, dokter akan mengukur kadar hormon estrogen. Pada laki-laki, yang diukur adalah kadar hormon testosteron. Tes ini biasanya dilakukan di pagi hari, saat kadar hormon sedang mencapai puncaknya.

2. Tes sperma

Tes jumlah sperma biasanya juga akan dilakukan oleh dokter ke pasien laki-laki. Hal ini karena hipogonadisme dapat mengurangi jumlah sperma di dalam tubuh.

3. Tes zat besi, prolaktin, dan tiroid

Dokter mungkin juga akan mengecek kadar zat besi di dalam darah karena zat besi dapat memengaruhi produksi hormon seks manusia.

Beberapa dokter juga akan mengecek kadar prolaktin dan hormon tiroid Anda. Prolaktin adalah hormon yang berperan dalam pertumbuhan payudara dan ASI.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan hormon ini ditemukan di kedua jenis kelamin.

Sedangkan tiroid yang bermasalah biasanya menunjukkan gejala yang menyerupai hipogonadisme.

4. Tes pencitraan

Sejumlah tes gambaran dibutuhkan, misalnya sonogram ovarium atau testis. Jika penyakit pituitari terdeteksi, MRI atau CT scan otak mungkin dilakukan.

Cara mengobati hipogonadisme

Anda mungkin perlu menggunakan obat-obatan berbentuk pila atau skin patch berdasarkan kebutuhan hormon.

Testosteron berguna untuk anak laki-laki dan pria. Obat dapat diberikan sebagai skin patch, gel kulit, larutan yang dioleskan ke ketiak, patch yang dipasang di gusi atas, atau melalui suntikan.

Tidak hanya hal di atas, ada dua pengobatan yang bisa dilakukan oleh pria, seperti:

  • Penggantian hormon testosteron

Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan pria sebelum memutuskan untuk terapi penggantian testosteron sebagai pengobatan hipogonadisme. Lalu, pengobatan ini juga mempunyai efek samping seperti penurunan produksi sperma

  • Menambah kesuburan

Pada penderita hipogonadisme sekunder, testis dapat dirangsang untuk menghasilkan hormon testosteron dan sperma. Hal ini dilakukan dengan cara menyuntikkan obat yang dapat meniru sinyal gonadotropin dari otak.

Anda perlu minum obat atau menjalani hal ini selama berbulan-bulan karena dibutuhkan waktu hingga tiga bulan agar sperma matang.

Bagi wanita yang rahimnya belum diangkat, perawatan kombinasi dengan estrogen dan progesteron mungkin mengurangi peluang berkembangnya kanker endometri.

Wanita dengan hipogonadisme yang gairah seksualnya menurun mungkin juga diresepkan testosteron dosis rendah.

Pada beberapa wanita, suntikan atau pil mungkin berguna untuk merangsang pembuahan. Suntikan hormon pituitari mungkin berguna utnuk membantu pria menghasilkan sperma.

Lalu, pada beberapa kondisi orang lain pun mungkin memerlukan operasi dan terapi radiasi.

Gambaran jangka panjang

Hipogonadisme adalah kondisi kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Ketika kadar hormon berkurang, diperlukan peningkatan sinyal agar tetap memproduksi testosteron juga sperma.

Hal ini tidak menutup kemungkinan kadar hormon seks Anda akan berkurang jika menghentikan pengobatan.

Pencegahan & Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pencegahan yang dapat dilakukan?

Hingga saat ini, belum ada cara pasti untuk mencegah hipogonadisme. Namun, Anda bisa melakukan beberapa hal seperti perubahan gaya hidup.

Seperti mempertahankan berat badan normal dengan olahraga atau mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang baik untuk tubuh. Lalu, sebaiknya hindari terlebih dahulu akohol dan obat-obatan secara berlebihan untuk membantu menjaga kadar testosteron tetap normal.

Bila ada pertanyaan lebih lanjut, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Kapan Masa Subur Pria dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Mengetahui kapan saat masa subur pria dapat meningkatkan kemungkinan hamil. Ketahui cara menghitung masa subur pria dalam artikel berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 5 November 2019 . Waktu baca 7 menit

6 Pilihan Pengobatan Bagi Pengidap PCOS

Sindrom ovarium polikistik (PCOS) dapat membuat wanita sulit hamil. Enam jenis pengobatan ini paling direkomendasikan untuk wanita pengidap PCOS.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesuburan, Kehamilan 4 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit

Sulit Punya Anak, Mungkin Anda Memiliki Varikokel

Varikokel disebut-sebut sebagai salah satu penyebab seorang pria menjadi tidak subur. Lantas, apa seorang pria dengan varikokel masih bisa memiliki anak?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Jessica Yulianti
Kesuburan, Kehamilan 14 April 2019 . Waktu baca 4 menit

Azoospermia, Ketika Air Mani Pria Tidak Mengandung Sperma

Sekiranya 15% pria yang tidak subur disebabkan oleh azoospermia. Jika Anda belum juga punya momongan setelah tahunan berusaha, bisa jadi ini penyebabnya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Hidup Sehat, Fakta Unik 23 Februari 2019 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makan toge

Makan Taoge Bikin Pria Lebih Subur, Fakta atau Mitos?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 3 September 2020 . Waktu baca 3 menit
hormon gnrh dengan kesuburan

Mengenal Fungsi Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) bagi Kesuburan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 24 Mei 2020 . Waktu baca 5 menit
ciri-ciri pria tidak subur

6 Faktor yang Dapat Menjadi Penyebab Pria Tidak Subur

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 11 April 2020 . Waktu baca 9 menit
masalah tiroid dan mood

Benarkah Masalah Tiroid Bisa Memengaruhi Mood Seseorang?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 14 November 2019 . Waktu baca 3 menit