Periode Perkembangan

4 Hal yang Perlu Anda Ketahui Seputar Plasenta (Ari-Ari Bayi)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: Hello Sehat Medical Review Team.

Ari-ari bayi atau plasenta bayi yang dikeluarkan setelah bayi lahir mempunyai manfaat yang sangat banyak bagi bayi. Bahkan plasenta sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan. Plasenta yang mengalami gangguan saat kehamilan dapat membawa dampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi, bahkan bisa menyebabkan kematian bayi dalam kandungan. Sebenarnya, apa itu plasenta?

Apa itu plasenta?

Plasenta adalah organ yang menyediakan oksigen dan nutrisi bagi bayi untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangan dalam kandungan. Oksigen dan nutrisi yang dibawa melalui aliran darah ibu kemudian menembus plasenta. Dari sini, tali pusar yang terhubung ke bayi membawa oksigen dan nutrisi tersebut untuk bayi. Hal inilah yang kemudian mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi. Melalui plasenta, nutrisi baik yang ibu konsumsi dapat ditransfer ke bayi, begitu juga dengan nutrisi buruk yang ibu konsumsi juga dapat diterima bayi, seperti alkohol dan obat.

Melalui plasenta juga, bayi dapat membuang zat-zat buangan yang tidak ia perlukan, seperti karbon dioksida, yang kemudian diteruskan ke aliran darah ibu untuk kemudian dibuang oleh sistem dalam tubuh ibu.

Selain itu, plasenta juga sebagai pelindung bayi terhadap kuman dan bakteri yang ada dalam tubuh ibu sehingga bayi dalam kandungan tetap dalam keadaan sehat. Plasenta jugalah yang menjadi penghalang agar sel-sel bayi tidak masuk ke dalam aliran darah ibu, sehingga bayi tidak disangka sebagai sel asing oleh tubuh Anda.

Plasenta juga menjadi organ yang menghasilkan hormon yang diperlukan oleh Anda dan bayi selama dalam kandungan. Beberapa hormon yang dihasilkan plasenta adalah hormon human placental lactogen (HPL), relaksin, oksitosin, progesteron, dan estrogen.

Menuju waktu akhir kehamilan, plasenta melepaskan antibodi dari ibu untuk diberikan ke bayi, sehigga bayi mempunyai kekebalan tubuh sekitar 3 bulan setelah kelahirannya ke dunia.

Bagaimana plasenta terbentuk?

Saat usia kehamilan 3 minggu, folikel yang ada dalam indung telur (bernama korpus luteum) meluruh, kemudian mulai memproduksi hormon progesteron dan menyediakan nutrisi untuk janin selama trimester pertama kehamilan.

Pada usia kehamilan 4 minggu, massa sel menempel di dinding rahim. Beberapa sel memisahkan diri, menggali lebih dalam ke dinding rahim. Salah satu dari massa sel ini bertugas untuk membentuk plasenta (berbentuk cakram yang penuh akan pembuluh darah) yang kemudian akan mengambil alih tugas korpus luteum pada trimester kedua kehamilan.

Dua bulan berikutnya, plasenta berkembang dan menjadi lebih besar. Sehingga, mampu memberikan oksigen dan nutrisi yang lebih banyak untuk bayi Anda bertumbuh. Pada kehamilan minggu ke-12, plasenta telah mempunyai struktur yang lengkap dan akan terus bertambah besar mengikuti pertumbuhan bayi Anda.

Bagaimana  plasenta dikeluarkan tubuh ibu?

Setelah bayi lahir dan tali pusar dipotong, plasenta juga akan “dilahirkan” oleh tubuh Anda karena sudah tidak diperlukan. Tubuh Anda masih akan melakukan kontraksi sesaat setelah bayi lahir yang bertujuan untuk mendorong plasenta keluar dari tubuh Anda. Jika tubuh Anda tidak melakukan kontraksi setelah bayi lahir, mungkin bidan atau dokter akan memberikan obat untuk merangsang kontraksi dan membantu plasenta keluar. Merangsang kontraksi dengan menggunakan obat juga dapat mencegah perdarahan berat pada ibu. Menyusui bayi Anda segera setelah bayi lahir juga dapat membantu menimbulkan kontraksi pada rahim Anda, sehingga dapat membantu mendorong plasenta keluar.

Jika Anda melahirkan dengan cara operasi caesar, dokter juga akan mengeluarkan plasenta dari tubuh Anda setelah bayi lahir. Setelah plasenta keluar dari tubuh Anda, dokter atau bidan akan memeriksa apakah plasenta dan membran sudah keluar semua dari tubuh Anda, sehingga tidak ada yang tertinggal dan rahim Anda kembali bersih.

Apa saja yang dapat mempengaruhi kesehatan plasenta?

Plasenta merupakan penunjang kehidupan bayi saat berada dalam kandungan, sehingga kesehatan bayi juga bergantung pada kesehatan plasenta. Beberapa masalah dapat dialami oleh plasenta, misalnya abrupsio plasenta, plasenta previa, plasenta accreta, dan retensio plasenta (plasenta tertahan). Oleh karena itu, Anda sebagai ibu hamil juga harus menjamin bahwa Anda memiliki plasenta yang sehat.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan plasenta selama kehamilan, seperti:

  • Usia ibu saat hamil. Biasanya ibu yang berusia di atas 40 tahun saat kehamilan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami masalah plasenta.
  • Membran meluruh sebelum waktunya. Selama dalam kandungan, bayi dikelilingi membran yang dipenuhi cairan (kantung ketuban). Jika kantung ketuban pecah sebelum kelahiran bayi, risiko mengalami masalah plasenta dapat meningkat.
  • Tekanan darah tinggi.
  • Kehamilan kembar. Kehamilan lebih dari satu dapat meningkatkan risiko masalah pada plasenta.
  • Gangguan penggumpalan darah. Kondisi yang mengganggu kemampuan darah untuk menggumpal atau kondisi yang meningkatkan kemungkinan darah untuk menggumpal dapat meningkatkan risiko masalah pada plasenta.
  • Pernah mengalami operasi di rahim. Pengalaman menjalani operasi pada rahim, seperti operasi caesar, dapat meningkatkan kemungkinan Anda mempunyai masalah pada plasenta.
  • Pernah mengalami masalah pada plasenta.
  • Penyalahgunaan zat, seperti merokok atau penyalahgunaan obat-obatan selama kehamilan.
  • Trauma abdomen (perut). Jika Anda pernah mengalami trauma di perut Anda, seperti karena jatuh atau pernah mengalami pukulan di perut Anda, ini akan meningkatkan risiko Anda mengalami masalah pada plasenta.

BACA JUGA

Sumber
Yang juga perlu Anda baca