Periode Perkembangan

Apa Akibatnya Jika Ibu Mengandung Bayi Besar?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Mungkin Anda sudah mengetahui bahwa bayi yang lahir dengan berat rendah dapat meningkatkan risikonya untuk terkena berbagai penyakit saat ia besar nanti. Lalu, bagaimana dengan bayi yang mempunyai berat badan lebih dari normal saat lahir?

Bayi dikatakan besar atau mempunyai berat badan berlebih jika beratnya sudah mencapai lebih dari 4000 gram. Bayi ini biasanya disebut dengan bayi besar atau makrosomia. Hal yang menyebabkan bayi besar biasanya adalah karena ibu menderita diabetes gestasional, ibu mengalami obesitas, kelebihan kenaikan berat badan saat hamil, atau bayi lahir pada waktu kelahiran yang sudah sangat lewat.

Tentu, bayi dengan berat badan berlebih juga mempunyai masalah tersendiri, mulai dari proses melahirkan sampai masalah kesehatan yang menghantuinya setelah lahir ke dunia.

Bagaimana cara melahirkan bayi besar?

Tantangan awal saat mempunyai bayi yang kelebihan berat badan sejak dalam kandungan adalah proses kelahirannya. Melahirkan bayi dengan berat badan normal saja tidak mudah, apalagi bayi dengan berat badan berlebih. Tentu, ini menjadi kesulitan sendiri bagi ibu dan dokter yang menangani kelahirannya, tetapi masih bisa untuk melahirkan normal.

Butuh waktu yang lebih lama untuk dapat melahirkan bayi besar. Risiko mengalami perdarahan yang lebih banyak dan luka perineum yang lebih parah juga bisa terjadi selama proses kelahiran. Jika bayi Anda mempunyai berat lebih dari 4500 gram, bayi Anda akan mengalami distosia bahu selama proses kelahiran dengan kemungkinan sebesar 1/13.

Distosia bahu adalah sebuah kondisi di mana bahu terjebak di dalam setelah dokter berhasil menarik kepalanya keluar. Kemungkinan hal ini terjadi lebih besar pada bayi dengan berat badan yang lebih besar. Ini merupakan situasi yang jarang terjadi, tapi sangat serius karena dapat menyebabkan cedera parah bahkan kematian. Penanganan yang baik dapat membuat bayi Anda berhasil keluar dari tubuh Anda dengan selamat, ini membutuhan teknik tertentu.

Jika melahirkan normal terasa sangat sulit dan mempunyai banyak risiko, Anda dapat melahirkannya dengan cara operasi caesar. Bagi Anda yang mempunyai diabetes saat hamil (sehingga bayi Anda besar), Anda mungkin akan disarankan untuk melahirkan dengan cara operasi caesar. Atau, mungkin dokter Anda akan menginduksi persalinan lebih awal setelah usia kandungan mencapai 38 minggu. Namun, menginduksi persalinan lebih awal tidak menunjukkan manfaat apapun, menurut American College of Obstetrics and Gynecologists. Sebaiknya diskusikan dengan dokter Anda dan rencanakan dengan baik persalinan Anda sebelum hari kelahiran.

Apa ada risiko kesehatan pada bayi besar?

Kesulitan saat persalinan membawa risiko kesehatan pada bayi. Bahu bayi yang terjebak di bawah tulang panggul ibu selama persalinan dapat menyebabkan kerusakan saraf pada bahu, lengan, dan leher bayi. Kerusakan saraf terjadi pada 2-16% bayi yang memiliki distosia bahu. Ini lebih mungkin terjadi jika bayi Anda sangat besar. Namun, juga dapat disebabkan oleh tekanan dari kontraksi yang sangat kuat. Jika bayi Anda memiliki beberapa kerusakan saraf atau tulang leher bayi rusak karena proses persalinan, ia masih dapat pulih sepenuhnya.

Selain kerusakan saraf, kesulitan saat melahirkan bayi besar juga dapat mengakibatkan bayi memerlukan bantuan pernapasan setelah persalinan dan memiliki kelainan otot-otot jantung yang lebih tebal.

Komplikasi lain yang dapat terjadi jika bayi Anda terlalu besar adalah:

1. Kadar gula darah lebih rendah

Bayi yang didiagnosis dengan makrosomia (bayi besar) lebih mungkin mempunyai kadar gula darah yang lebih rendah dari normal. Bayi besar biasanya dilahirkan dari seorang ibu yang menderita diabetes saat kehamilan (diabetes gestasional). Ibu dengan diabetes yang mengalami peningkatan kadar gula darah lebih mungkin untuk mempunyai bayi besar karena zat gizi utama yang mengontrol pertumbuhan bayi adalah gula. Kelebihan gula darah dan produksi insulin dapat menyebabkan kelebihan pertumbuhan dan penyimpanan lemak, sehingga membuat bayi menjadi besar.

Di dalam rahim, bayi-bayi ini terbiasa dengan kadar gula darah yang tinggi, tetapi ketika mereka lahir, sumber makanan bayi ini terputus. Akibatnya, bayi besar cenderung memiliki gula darah rendah dan perlu dimonitor setelah lahir.

2. Bayi obesitas

Penelitian menunjukkan bahwa risiko obesitas meningkat karena berat bayi lahir juga meningkat. Bayi besar atau obesitas biasanya berasal dari ibu yang juga obesitas. Ibu obesitas memiliki risiko dua atau tiga kali lebih tinggi untuk mengalami diabetes gestasional selama kehamilan dibandingkan dengan wanita yang tidak obesitas. Ibu obesitas sebaiknya menghindari kenaikan berat badan yang berlebihan saat kehamilan sebagai upaya untuk menurunkan risiko diabetes gestasional dan melahirkan bayi besar.

3. Sindrom metabolik

Jika bayi Anda didiagnosis dengan makrosomia, ia berisiko mengembangkan sindrom metabolik selama masa kanak-kanak. Sindrom metabolik merupakan sekelompok kondisi  yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, tingginya kadar gula darah, kelebihan lemak tubuh di sekitar pinggang, atau kadar kolesterol tidak normal. Sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

 Menurut Dr. Kristin Atkins, spesialis ibu dan bayi di University of Maryland School of Medicine, cara terbaik bagi perempuan untuk mencegah bayi besar adalah untuk memantau apa yang mereka makan dan mengendalikan diabetes jika mereka didiagnosis dengan diabetes saat kehamilan, seperti dilansir dari Live Science.

BACA JUGA

Sumber
Yang juga perlu Anda baca