Kapan Saya Harus Menjalani Operasi Caesar?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Persalinan operasi caesar memiliki manfaat yang besar, salah satunya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau bayi yang dilahirkannya. Namun, sering kali operasi caesar dilakukan tanpa indikasi medis yang jelas, sehingga merugikan ibu, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Maka itu, sebelum memutuskan untuk operasi caesar, sebaiknya Anda ketahui ketengtuan dan syarat dari tindakan medis ini. 

Operasi caesar dianggap lebih baik dari persalinan normal

Sectio caesarea (SC) alias operasi caesar merupakan salah satu teknik persalinan yang banyak digunakan, persentase operasi caesar di dunia semakin meningkat dalam 3 dekade terakhir.

Pada tahun 2001, persentase persalinan operasi caesar di Inggris dan Wales menjadi sebanyak 21%, meningkat 5x lipat dibanding tahun 1971. Peningkatan persalinan operasi caesar ini tidak hanya terjadi di Inggris dan Wales, namun juga terjadi di banyak negara seperti Mesir, negara-negara Arab, Denmark, Swedia, Belanda, Brasil, termasuk Indonesia..

Penelitian yang dilakukan Mackenzie menyatakan permintaan ibu (23%)  adalah satu penyebab utama persalinan operasi caesar dilakukan. Ini disebabkan ibu ingin menghindari persalinan yang menyakitkan dan menjaga kekuatan otot vagina seperti saat sebelum hamil.

Apakah persalinan dengan operasi caesar benar-benar aman?

Menentukan pilihan mengenai teknik persalinan yang akan dilakukan tidaklah mudah. Mereka yang mendukung persalinan operasi caesar menyatakan prosedur ini aman dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang rendah.

Padahal, banyak masalah fatal bisa terjadi saat prosedur dilaksanakan. Peningkatan 4x lipat kematian ibu dihubungkan dengan persalinan operasi caesar. Operasi caesar bisa memberikan komplikasi, baik kepada ibu ataupun bayi.

Komplikasi operasi caesar pada ibu

  • Trauma organ. Operasi caesar menyebabkan peningkatan angka kejadian trauma organ tubuh seperti usus, kandung kemih, dan pembuluh darah.
  • Prosedur operasi caesar mengharuskan dokter membuat insisi untuk membuka rahim, hal ini dapat melemahkan rahim dan menjadi risiko bagi persalinan selanjutnya.
  • Prosedur operasi caesar berisiko menyebabkan plasenta menempel di tempat yang tidak seharusnya pada persalinan selanjutnya
  • Angka kejadian infeksi dan tromboemboli lebih tinggi pada persalinan operasi caesar dibandingkan dengan persalinan lewat vagina.
  • Ibu membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama setelah operasi caesar.
  • Prosedur operasi caesar mengharuskan ibu dibius terlebih dahulu, baik lokal maupun umum. Pada beberapa kasus ibu dapat mengalami komplikasi dari penggunaan obat-obatan anestesi.

Komplikasi operasi caesar pada bayi

  • Trauma. Walaupun jarang terjadi, ada kemungkinan bayi terkena pisau dokter pada saat prosedur dilaksanakan.
  • Sindrom distres pernafasan yang bersifat sementara, karena bayi tidak melewati tekanan di jalan lahir ibu seperti pada persalinan normal yang membantu penyerapan cairan di paru-paru bayi.

Tak semua ibu bisa operasi caesar, ini syarat dan ketentuannya

Persalinan lewat operasi caesar memiliki banyak risiko komplikasi seperti di atas, namun bukan berarti operasi caesar harus benar-benar dihindari. Asalkan dilakukan dengan indikasi yang tepat, operasi caesar justru dapat memberikan manfaat yang besar bagi ibu dan bayi yang dilahirkan.

Menurut WHO, peningkatan angka persalinan operasi caesar sebanyak 10% terbukti menurunkan angka kematian ibu dan janin. Walaupun demikian, peningkatan lebih dari 10% tidak menurunkan angka kematian lebih baik dibanding hanya 10% saja.  Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui apa saja indikasi yang tepat untuk dilakukan operasi caesar.

Indikasi pada ibu yang memerlukan operasi caesar

  • Riwayat persalinan operasi caesar sebelumnya.
  • Adanya kelainan yang menutupi jalan lahir, seperti keganasan, kondiloma masif di jalan lahir, dan lain-lain.
  • Kelainan panggul yang bisa mengganggu penurunan posisi janin pada saat persalinan.

Indikasi pada janin yang memerlukan operasi caesar

  • Kelainan posisi janin, misalnya janin yang letaknya melintang atau pantat terlebih dahulu dilahirkan.
  • Kegawatan janin, kondisi ini bisa diketahui dengan memantau dengan rutin denyut jantung janin pada saat persalinan.
  • Adanya kelainan kongenital pada janin

Indikasi pada ibu dan janin

  • Kelainan letak plasenta (plasenta previa, plasenta akreta)
  • Persalinan dengan kemajuan yang lambat atau tidak ada kemajuan, bisa disebabkan karena bayi yang terlalu besar, kontraksi ibu yang terlalu lemah, atau panggul yang terlalu sempit.
  • Pada kondisi tertentu di mana persalinan lewat vagina tidak direkomendasikan.

Persalinan  operasi caesar bisa memberikan manfaat yang besar bagi ibu dan bayi, tetapi ada beberapa risiko dan komplikasi yang bisa terjadi. Persalinan operasi caesar yang sesuai dengan indikasi merupakan hal yang baik untuk dilakukan, sebaiknya ibu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawat untuk menentukan perlu tidaknya persalinan operasi caesar.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    3 Pengganti Nasi yang Lebih Sehat untuk Ibu Hamil

    Meskipun nasi boleh dimakan saat hamil, namun ada alternatif makanan pengganti nasi sebagai sumber karbohidrat yang jauh lebih sehat untuk ibu hamil.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Nutrisi, Hidup Sehat 14 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Pahami Faktor Penentu Persalinan Caesar sebagai Persiapan Sambut si Kecil

    Apakah Ibu sudah menentukan metode persalinan yang akan dilakukan? Simak tentang persalinan normal, alasan di balik keputusan operasi caesar dan prosesnya.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Konten Bersponsor
    potret pasangan diskusi tentang persalinan normal dan caesar
    Melahirkan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Kenali Gejala dan Bahaya Tekanan Darah Tinggi Setelah Melahirkan

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dikenal dengan istilah postpartum preeklampsia. Apa saja gejala dan bahayanya? Cari tahu di sini.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Hipertensi, Kesehatan Jantung 13 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

    Muncul Garis Hitam di Perut Saat Hamil, Apa Sih Artinya?

    Saat hamil, Anda mungkin akan menemukan garis hitam di perut pada usia kehamilan yang mulai besar. Tapi, tidak semua ibu hamil punya garis ini. Mengapa?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    ibu hamil makan daging kambing

    Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    pekerjaan rumah tangga saat hamil

    Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
    manfaat metode kangguru untuk bayi prematur dan berat lahir rendah

    Metode Kangguru untuk Bayi Prematur atau Berat Lahir Rendah

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 16 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

    Apa yang Terjadi Pada Bayi Jika Ibu Stres Saat Hamil?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 15 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit