home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pengapuran Plasenta, Seberapa Berbahaya Kondisi Ini Selama Kehamilan?

Pengapuran Plasenta, Seberapa Berbahaya Kondisi Ini Selama Kehamilan?
Apa itu pengapuran plasenta?|Apa gejala pengapuran plasenta?|Apa penyebab pengapuran plasenta?|Di usia kehamilan berapa bulan kondisi ini rentan terjadi?|Apa risiko kesehatan akibat pengapuran plasenta?|Adakah cara untuk mencegah hal ini?

Pernahkah Anda mendengar mengenai kondisi pengapuran plasenta? Pengapuran plasenta bisa dikatakan sebagai satu dari banyaknya komplikasi kehamilan. Seperti apa gejala saat ibu hamil mengalami pengapuran plasenta dan apa penyebab utamanya? Berikut ulasan selengkapnya.

Apa itu pengapuran plasenta?

hormon ibu hamil dan autisme

Pengapuran plasenta adalah kondisi penuaan plasenta akibat adanya penumpukan kalsium.

Plasenta adalah organ berbentuk kantung yang berfungsi sebagai rumah bagi janin untuk tumbuh dan berkembang selama berada di dalam perut ibu.

Plasenta bertugas menyediakan oksigen dan nutrisi sebagai makanan bayi selama berada di dalam kandungan.

Selain itu, plasenta juga berfungsi melindungi bayi agar senantiasa sehat dan bebas dari serangan virus maupun kuman yang mungkin ada dalam tubuh ibu.

Itu sebabnya, kesehatan plasenta tentu penting dan berpengaruh bagi janin. Plasenta yang mengalami gangguan saat kehamilan tentu berisiko membawa dampak buruk terhadap tumbuh kembang bayi.

Selain pengapuran plasenta, ada berbagai masalah plasenta yang mungkin terjadi saat hamil di antaranya plasenta previa dan solusio plasenta.

Apa gejala pengapuran plasenta?

USG kehamilan

Pengapuran plasenta ditandai dengan kemunculan bintik-bintik putih yang menyebar dari bagian dasar plasenta sampai ke permukaannya.

Bintik-bintik putih tanda pengapuran umumnya terlihat saat pemeriksaan USG selama kehamilan.

Dokter biasanya akan menyampaikan kondisi bayi sekaligus masalah lain yang mungkin terjadi pada kehamilan Anda melalui hasil USG.

Biasanya, seiring bertambahnya usia kehamilan, plasenta akan mengalami perubahan agar mampu mendukung tumbuh kembang bayi dari waktu ke waktu.

Selama perubahan plasenta di masa kehamilan inilah risiko pengapuran bisa terjadi.

Apa penyebab pengapuran plasenta?

hamil lagi setelah plasenta previa

Penyebab pengapuran plasenta belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Keturunan hingga kondisi lingkungan seperti radiasi, frekuensi suara rendah, dan reaksi terhadap obat-obatan tertentu merupakan faktor risiko kondisi ini.

Infeksi bakteri juga diperkirakan bisa menjadi penyebab pengapuran.

Di usia kehamilan berapa bulan kondisi ini rentan terjadi?

plasenta previa adalah

Plasenta sudah mulai terbentuk begitu usia kehamilan menginjak 12 minggu. Kemudian plasenta akan terus mengalami perubahan seiring masa kehamilan.

Menurut laman Baby Center, kondisi medis yang satu ini dapat dibagi menjadi beberapa tahap mulai dari skor 0 (tidak matang) sampai skor 3 (sangat matang).

Berikut pengelompokan pengapuran plasenta pada ibu hamil:

  • Tahap 0: Sebelum usia kehamilan 18 minggu
  • Tahap I: Saat usia kehamilan antara 18-29 minggu
  • Tahap II: Saat usia kehamilan antara 30-38 minggu
  • Tahap III: Saat usia kehamilan sekitar 39 minggu

Pengapuran dinilai lebih berisiko pada kondisi sebagai berikut:

Perlu diketahui bahwa perubahan plasenta yang terjadi di akhir masa kehamilan sebenarnya merupakan hal normal dan tidak perlu dikhawatirkan.

Akan tetapi, bila masalah pada plasenta ini terjadi saat usia kehamilan masih terlalu muda, kemungkinan besar ada komplikasi pada kehamilan.

Apa risiko kesehatan akibat pengapuran plasenta?

nyeri ulu hati pada ibu hamil

Meski pengapuran dinilai sebagai kondisi yang wajar terjadi selama kehamilan, hal ini juga bisa menandakan adanya gangguan kesehatan yang dialami bayi di dalam kandungan.

Risiko dari pengapuran pun beragam tergantung pada waktu mulai terjadi selama kehamilan dan bagaimana kondisi kesehatan Anda saat hamil.

Pada umumnya, semakin awal pengapuran terjadi, maka semakin tinggi risiko bahaya yang mungkin ditimbulkan.

Berikut berbagai masalah yang mungkin terjadi akibat pengapuran plasenta sesuai usia kehamilan:

1. Usia kehamilan 28-36 minggu

Pengapuran pada masa awal hingga pertengahan kehamilan tergolong dalam kehamilan risiko tinggi, termasuk di minggu 28-36 ini.

Pengapuran yang terjadi sebelum usia kehamilan menginjak 32 minggu disebut sebagai pengapuran atau kalsifikasi plasenta prematur dini.

Hal ini dikarenakan pengapuran plasenta sekitar usia 32 minggu berisiko menyebabkan berbagai komplikasi.

Komplikasi yang mungkin terjadi yaitu perdarahan saat persalinan, solusio plasenta, dan bayi lahir prematur.

Bahkan, APGAR skor bayi bisa rendah dan berisiko meninggal saat masih di dalam kandungan (stillbirth).

Langkah pertolongan medis yang dilakukan untuk menghadapi kondisi ini akan tergantung dengan risiko yang ditimbulkan dan tingkat keparahannya.

Bagi Anda yang mengalami risiko tinggi kehamilan seperti punya plasenta previa, diabetes gestasional, tekanan darah tinggi, maupun anemia pada ibu hamil dianjurkan untuk mengonsultasikan kehamilan secara rutin.

2. Usia kehamilan 36 minggu

Jika pengapuran terjadi saat usia kehamilan 36 minggu, Anda berisiko mengalami hipertensi pada kehamilan dan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Dokter dapat membantu mendeteksi kemungkinan adanya risiko tinggi kehamilan dengan melakukan pemeriksaan USG saat usia kehamilan 36 minggu.

3. Usia kehamilan 37-42 minggu

Sekitar 20-40 persen kehamilan normal di usia 37 minggu dapat mengalami pengapuran plasenta. Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir karena kondisi ini dinilai tidak membahayakan.

Namun, menurut penelitian pada jurnal Placenta, pengapuran yang terjadi pada tahap III berisiko menyebabkan bayi lahir mati.

Adakah cara untuk mencegah hal ini?

sarapan ibu hamil

Risiko kesehatan atau dampak yang mungkin ditimbulkan dari pengapuran tidak selalu sama pada setiap ibu hamil.

Perbedaan dampak yang dialami ibu hamil akibat pengapuran tergantung dari tingkat keparahan, seberapa cepat terjadi, kondisi kehamilan yang berisiko atau tidak, dan penanganannya.

Plasenta memiliki peran penting dalam melindungi kesehatan dan keselamatan janin selama masa kehamilan.

Akan tetapi, karena penyebab pengapuran plasenta sampai saat ini masih belum diketahui pasti, sulit untuk menentukan langkah pencegahannya yang spesifik.

Secara umum, menjaga kesehatan ibu hamil merupakan cara terbaik untuk menghindari gangguan plasenta dan komplikasi kehamilan.

Usahakan untuk berhenti merokok saat hamil, jalani gaya hidup sehat dengan makan seimbang, dan rajin melakukan olahraga untuk ibu hamil.

Anda bisa memenuhi kebutuhan nutrisi saat hamil dengan makan makanan untuk ibu hamil.

Olahraga yang aman bagi ibu hamil bisa meliputi jalan santai, bersepeda, berenang saat hamil, hingga senam hamil.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ageing or Calcification of the Placenta. Retrieved 15 December 2020, from https://www.babycenter.in/a25015099/ageing-or-calcification-of-the-placenta

C. Wallingford, M., Benson, C., W. Chavkin, N., T. Chin, M., & G. Frasch, M. (2018). Placental Vascular Calcification and Cardiovascular Health: It Is Time to Determine How Much of Maternal and Offspring Health Is Written in Stone. Front. Physiol. doi: https://doi.org/10.3389/fphys.2018.01044

Kuo-Hu Chen., Kok-Min Seow., & Li-Ru Chen. (2015). The Role of Preterm Placental Calcification on Assessing Risks of Stillbirth. Placenta. 36(9):1039-44. doi: 10.1016/j.placenta.2015.06.015

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Tanggal diperbarui 01/11/2017
x