Disfungsi Simfisis Pubis

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Klinik Chika Medika


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 05/02/2023

Disfungsi Simfisis Pubis

Perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dapat menimbulkan keluhan pada ibu hamil, salah satunya disfungsi simfisis pubis. Simak pembahasan mengenai gejala, penyebab, dan cara mengatasi gangguan ini sebagai berikut.

Apa itu disfungsi simfisis pubis?

Disfungsi simfisis pubis atau symphysis pubis dysfunction (SPD) adalah kumpulan gejala yang menyebabkan nyeri panggul selama masa kehamilan.

SPD pada ibu hamil ini juga dikenal sebagai nyeri korset panggul atau pelvic girdle pain (PGP).

Simfisis pubis merupakan sendi yang berada di tengah tulang panggul dan menghubungkan tulang kemaluan atau pubis. Persendian ini terletak tepat di atas organ intim wanita.

Selama kehamilan, ligamen atau jaringan ikat dalam sendi simfisis pubis akan jadi lebih lentur dan elastis. Hal ini bertujuan agar bayi bisa melewati panggul saat persalinan.

Namun, bila ligamen jadi terlalu elastis sebelum waktunya tiba, kondisi ini dapat mengganggu kestabilan sendi panggul dan memicu rasa sakit pada ibu hamil.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Sebuah studi dalam Journal of the Canadian Chiropractic Association (2012) menemukan ada 31,7% wanita hamil yang melaporkan gejala terkait dengan disfungsi simfisis pubis. Jumlah kasus SPD selama kehamilan mungkin meningkat karena makin banyak orang yang tahu tentang gangguan ini.

Tanda dan gejala disfungsi simfisis pubis

nyeri panggul saat hamil

Rasa sakit akibat disfungsi simfisis pubis dapat Anda alami pada bagian depan atau belakang panggul. Nyeri yang diakibatkannya cenderung bervariasi, dari ringan hingga berat.

Beberapa ibu hamil menggambarkan SPD sebagai nyeri yang tajam dan menusuk. Umumnya, nyeri datang tiba-tiba dan bahkan disertai bunyi “klik” pada area sekitar panggul.

Selanjutnya, nyeri ini akan menjalar ke seluruh perut bagian bawah, punggung, selangkangan, bagian antara anus dan vagina (perineum), paha, hingga kaki.

Dikutip dari National Health Service (NHS) UK, keluhan nyeri panggul pada ibu hamil ini bisa terasa lebih buruk saat:

  • berjalan kaki,
  • naik atau turun tangga,
  • membungkukkan tubuh ke depan,
  • mengangkat tubuh di kursi atau tempat tidur,
  • berdiri dengan satu kaki, misalnya saat berpakaian, dan
  • menggerakkan kaki secara terpisah, misalnya saat keluar dari mobil.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat, terlebih bila kondisi ini sampai mengganggu aktivitas selama masa kehamilan.

Penyebab disfungsi simfisis pubis

Kehamilan bisa dikatakan sebagai salah satu penyebab umum dari nyeri panggul pada wanita.

Selama masa kehamilan, tubuh akan memproduksi hormon yang disebut relaksin. Hormon ini umumnya mulai dilepaskan sejak usia kehamilan 10 minggu.

Hormon relaksin bertugas membuat ligamen pada sendi antara tulang panggul kiri dan kanan menjadi rileks dan mudah meregang.

Meski hal ini bermanfaat untuk membantu kelahiran bayi Anda, ligamen yang meregang terlalu jauh atau terlalu awal bisa memicu disfungsi simfisis pubis.

Sementara itu, SPD selama kehamilan juga lebih berisiko terjadi bila ibu:

  • mengalami SPD pada kehamilan sebelumnya,
  • pernah atau sedang mengalami kehamilan kembar,
  • memiliki riwayat trauma atau cedera, seperti akibat kecelakaan kendaraan bermotor yang melibatkan panggul,
  • kelebihan berat badan atau obesitas sebelum hamil, dan
  • sedang mengandung bayi yang sangat besar (makrosomia).

Nyeri panggul pada ibu hamil mungkin terasa lebih buruk pada malam hari. Gangguan ini juga lebih mungkin terjadi bila Anda terlalu banyak beraktivitas sebelumnya.

Berat dan posisi janin juga memengaruhi kondisi nyeri panggul ini. Gejala biasanya memburuk seiring bertambahnya usia kehamilan Anda.

Komplikasi disfungsi simfisis pubis

symphysis pubis dysfunction adalah

Disfungsi simfisis pubis tidak menimbulkan komplikasi kehamilan yang membahayakan janin. Kebanyakan ibu hamil yang mengalami SPD masih bisa melahirkan secara normal.

Nyeri dan ketidakstabilan panggul bisa memengaruhi keseluruhan tubuh ibu hamil, misalnya mengubah cara mereka berjalan dan bergerak saat melakukan aktivitas.

Rasa sakit akibat masalah ini juga memengaruhi kesehatan mental ibu hamil. Bahkan, hal ini bisa menjadi salah satu pemicu depresi setelah kelahiran (depresi postpartum).

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Midwifery (2018) menunjukkan bahwa SPD berkaitan dengan meningkatnya rasa marah, frustrasi, dan emosi negatif pada ibu hamil.

Hal inilah yang akan berdampak pada buah hati, baik ketika masih berada dalam kandungan maupun begitu lahir nantinya.

Diagnosis disfungsi simfisis pubis

Mendapatkan diagnosis sedini mungkin membantu meminimalkan rasa sakit dan menghindari ketidaknyamanan akibat disfungsi simfisis pubis dalam jangka panjang.

Dokter akan mendiagnosis SPD setelah melakukan pemeriksaan fisik serta melihat gejala dan riwayat medis pengidapnya.

Untuk menyingkirkan penyebab lain, dokter akan memeriksa lebih dekat kondisi sendi panggul Anda melalui pemeriksaan ultrasound (USG).

Dokter tidak menyarankan pemeriksaan dengan rontgen saat hamil. Hal ini karena radiasi sinar X dikhawatirkan berdampak buruk pada rahim dan janin.

Pengobatan disfungsi simfisis pubis

Pengobatan medis dan rumahan dapat membantu meredakan gejala akibat disfungsi simfisis pubis.

Dokter Anda akan menyarankan perawatan yang tepat sebagai berikut agar tidak membahayakan ibu dan janin.

1. Fisioterapi

Fisioterapi bertujuan meredakan rasa sakit, meningkatkan fungsi otot, serta memperbaiki posisi dan stabilitas sendi panggul Anda.

Seorang fisioterapis mungkin dapat merekomendasikan latihan penguatan otot dasar panggul, punggung, perut, dan pinggul dengan melakukan senam Kegel.

2. Kompres dingin atau hangat

Dokter juga menyarankan untuk mengompres bagian panggul yang terasa nyeri. Kompres bisa Anda lakukan dengan metode dingin maupun hangat,

Cobalah untuk meletakkan handuk bersih yang telah direndam air dingin atau hangat di depan tulang kemaluan Anda. Lakukan beberapa kali sesuai kebutuhan selama 10–15 menit.

3. Korset dan bantal ibu hamil

Penggunaan korset kehamilan membantu menopang bagian bawah punggung serta perut saat hamil. Korset juga membantu mengurangi rasa sakit akibat disfungsi simfisis pubis.

Agar posisi tidur lebih nyaman, sebaiknya gunakan bantal hamil. Sebagai alternatif, Anda juga bisa menyelipkan bantal di antara lutut untuk menghindari tekanan panggul.

4. Akupuntur

Penelitan menemukan bahwa akunpuntur bisa membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pada ibu hamil dengan nyeri panggul.

Meski tidak memiliki pengaruh buruk pada bayi baru lahir, selalu pastikan untuk memilih terapis akupuntur yang berpengalaman dalam menangani ibu hamil.

5. Obat-obatan

Obat pereda nyeri yang dijual bebas atau dengan resep membantu meredakan SPD pada ibu hamil. Meski begitu, tidak semua obat pereda nyeri aman selama kehamilan.

Tanyakan terlebih dahulu pada dokter Anda untuk mengetahui obat mana yang paling aman dan berapa banyak dosis yang dibutuhkan.

Nyeri akibat disfungsi simfisis pubis biasanya hilang beberapa bulan setelah bayi Anda lahir.

Begitu tubuh berhenti memproduksi hormon relaksin, ligamen penghubung tulang kemaluan akan menegang kembali sehingga rasa sakit bisa berkurang.

Jika nyeri tidak kunjung membaik, ada baiknya untuk segera konsultasi dengan dokter Anda.

Kesimpulan

  • Disfungsi simfisis pubis atau symphysis pubis dysfunction (SPD) adalah kumpulan gejala yang menimbulkan nyeri panggul selama kehamilan.
  • Kondisi ini juga dikenal sebagai nyeri korset panggul atau pelvic girdle pain (PGP).
  • Peningkatan hormon relaksin saat hamil membuat ligamen pada sendi tulang kemaluan wanita meregang dan memicu nyeri.
  • SPD tidak secara memengaruhi janin, tetapi membuat kehamilan yang lebih sulit karena mengganggu aktivitas sehari-hari ibu hamil.
  • Sebaiknya segera konsultasi dengan dokter bila mencurigai diri Anda mengalami gejala disfungsi simfisis pubis.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Klinik Chika Medika


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 05/02/2023

Iklan
Iklan
Iklan