Kehamilan Ektopik, Ketika Janin Tumbuh di Luar Rahim

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Apa itu kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan)?

Kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan adalah termasuk ke dalam komplikasi kehamilan.

Kondisi ini terjadi saat sel telur yang dibuahi tidak berpindah ke rahim, melainkan menempel dan bertumbuh di tuba falopi.

Dilansir dari laman Ectopic, dalam beberapa kondisi yang langka, sel telur bisa menempel di tempat lain seperti ovarium, di serviks, dan rongga perut. Kehamilan ektopik sering terjadi pada beberapa minggu pertama kehamilan.

Kehamilan ini dikatakan serius dan sangat mungkin membahayakan nyawa ibu. Pasalnya, sel telur yang tumbuh di luar rahim tidak dapat bertahan hidup.

Setelahnya, sel telur akan menempel di jaringan di mana ia menempel dan menghancurkan jaringan tersebut. Hal ini bisa menyebabkan perdarahan internal dan infeksi.

Tidak mudah untuk mempertahankan bayi pada kehamilan ektopik. Kemungkinan besar, bayi harus digugurkan (aborsi).

Seberapa umum kondisi hamil di luar kandungan?

Kehamilan ektopik cukup umum terjadi. Diperkirakan dari setiap 100 kehamilan setidaknya ada 2 ibu yang hamil ektopik.

Kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Apa perbedaan hamil ektopik dan hamil anggur?

Hamil anggur dan hamil di luar kandungan adalah dua kondisi berbeda yang umum dialami wanita hamil.

Hamil anggur atau mola hidatidosa, terjadi saat telur yang dibuahi yang seharusnya tumbuh menjadi janin, tumbuh menjadi sel abnormal.

Sel tersebut berkembang menjadi gelembung putih berisi cairan yang menyerupai anggur.

Tanda-tanda dan gejala hamil di luar kandungan

Melansir dari Planned Parenthood, salah satu tanda dan gejala hamil ektopik yaitu perdarahan yang keluar dari vagina.

Perdarahan disebabkan karena jaringan tuba yang meluruh atau infeksi sehingga mengeluarkan darah.

Umumnya kondisi ini bisa menimbulkan nyeri pada perut dan ingin buang air besar terus menerus.

Berikut adalah beberapa gejala lainnya dari hamil ektopik yang harus diwaspadai:

  • Mual dan muntah
  • Nyeri pada perut bawah
  • Nyeri panggul
  • Kram perut
  • Nyeri pada satu sisi tubuh
  • Pusing atau lemah
  • Nyeri pada pundak, leher, atau rektum
  • Pingsan (jarang terjadi)

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, segera konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Tubuh masing-masing orang berbeda. Jika merasakan beberapa gejala ektopik seperti yang telah disebutkan, segera lakukan pemeriksaan kehamilan. Dokter akan membantu memeriksa kondisi Anda lebih lanjut.

Penyebab kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan)

Penyebab pasti dari kehamilan ektopik belum diketahui, tapi dapat terjadi karena kerusakan pada tuba falopi.

Tuba falopi sendiri fungsinya adalah sebagai saluran yang mengantarkan sel telur hasil pembuahan. Sel telur nantinya akan bergerak menuju dan berkembang di  dalam rahim.

Berikut adalah beberapa faktor yang diduga jadi penyebab kehamilan ektopik:

  • Pernah mengalami kondisi ini sebelumnya
  • Infeksi atau peradangan (infeksi tuba falopi, rahim, indung telur, klamidia)
  • Kerusakan pada organ reproduksi
  • Mengonsumsi obat kesuburan
  • Peradangan dan jaringan parut pada tuba falopi dari kondisi medis sebelumnya, infeksi, atau akibat tindakan bedah
  • Faktor hormon
  • Kelainan genetik (bawaan)
  • Cacat lahir, mungkin disebabkan oleh gangguan pertumbuhan ketika masih menjadi janin dalam kandungan
  • Pernah melakukan operasi di bagian perut (usus buntu atau operasi caesar) yang bisa merusak tuba falopi
  • Punya endometriosis (kondisi yang menyebabkan jaringan parut di tuba falopi)
  • Sedang memakai kontrasepsi

Apabila mengalami gejala kehamilan saat sedang memakai kontrasepsi, kemungkinan besar itu adalah kehamilan ektopik.

Faktor risiko kehamilan ektopik

Ada banyak faktor risiko wanita mengalami hamil ektopik, yaitu:

  • Hamil di usia 34-44 tahun
  • Menggunakan intrauterine device (IUD) sebagai kontrasepsi
  • Pernah mengalami penyakit seksual menular, seperti klamidia dan gonore
  • Memiliki riwayat salpingitis, penyakit peradangan pelvis
  • Gangguan pada tuba falopi kongenital
  • Luka dari endometriosis
  • Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya
  • Sejarah ligasi tuba (tubektomi) yang gagal
  • Menggunakan obat-obat penyubur kandungan, umumnya obat untuk prosedur in vitro fertilization (IVF)
  • Merokok sebelum hamil
  • Penggunaan diethylstilbestrol selama kehamilan

Anda perlu waspada bila memiliki faktor risiko di atas.

Bagaimana kehamilan ektopik didiagnosis?

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Hamil ektopik dapat didiagnosis dengan beberapa metode berikut:

1. Pemeriksaan panggul

Dokter dapat mendiagnosis adanya gumpalan atau pertumbuhan abnormal pada tuba falopi. Ini karena pertumbuhan massa abnormal tersebut bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami kehamilan ektopik.

Tes pemeriksaan panggul juga dilakukan untuk memeriksa ukuran rahim Anda. Pada kehamilan normal, ukuran rahim akan membesar. Sementara pada kondisi hamil di luar kandungan, ukuran rahim tidak membesar.

2. Ultrasonografi

Ultrasonografi atau biasa disingkat sebagai tes USG dapat melihat kondisi rahim dan tuba falopi. Selain melihat kondisi kehamilan, tes USG juga efektif mendeteksi masalah kesehatan lain, termasuk kehamilan ektopik di tahap awal.

3. Tes darah untuk memeriksa kadar hormon

Pada tanda-tanda kehamilan normal, pada darah ibu umumnya ditemukan hormon human chorionic gonadotropin atau hCG. Hormon ini akan meningkat setiap harinya.

Apabila tidak ditemukan atau pada hormon HCG terdapat kelainan, maka bisa menandakan bahwa Anda mengalami kehamilan ektopik atau keguguran.

Pengobatan untuk kehamilan ektopik

Hamil ektopik dapat diobati dan ditangani dengan tepat. Namun ini tergantung pada seberapa cepat kehamilan ektopik yang terdeteksi dan bagaimana kondisi kesehatan wanita.

Apabila kehamilan ektopik dapat didiagnosis secara dini, Anda dapat menghindari risiko pecahnya tuba fallopi. Pada kasus ini, ada beberapa pilihan penanganan:

1. Pakai obat-obatan

Jika dokter mendiagnosis adanya tanda hamil di luar kandungan, dokter akan menguji tingkat hormon kehamilan.

Setelah itu, diperiksa juga ada atau tidaknya detak jantung janin di dalam rahim, serta memeriksa gejala kehamilan lainnya.

Jika tidak ditemukan adanya pembuahan yang berhasil di dalam rahim, dokter akan menyuntikkan obat metotreksat.

Obat ini dapat menghentikan dan menghambat kehamilan saat itu.  Obat metotreksat memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan efek samping yang risikonya kecil.

2. Operasi laparoskopi

Operasi laparoskopi adalah cara yang dilakukan untuk mengangkat embrio dan memperbaiki kerusakan akibat perdarahan pada kondisi kehamilan ektopik.

Operasi ini dilakukan dengan membuat sayatan kecil dibuat di perut. Letak sayatannya di dekat pusar.

Selanjutnya, dokter kandungan akan menggunakan tabung tipis yang dilengkapi dengan lensa kamera dan cahaya untuk melihat kondisi tuba fallopi.

Untuk mengatasi kehamilan ektopik, bagian tuba fallopi yang rusak akan diangkat (salpingektomi) dan diperbaiki (salpingostomi).

Setelah melakukan operasi ini, Anda diharuskan beristirahat total selama 1 sampai 2 hari.

3. Operasi darurat

Jika kehamilan ektopik menyebabkan perdarahan hebat, Anda mungkin perlu operasi darurat yang dilakukan dengan cara menyayat sayatan perut (laparotomi).

Dalam beberapa kasus, kerusakan pada tuba falopi dapat diperbaiki. Jika tuba dan indung telur rusak parah, Anda mungkin memerlukan operasi pengangkatan (salpingektomi).

Pengobatan di rumah untuk mengatasi kehamilan ektopik

Anda tidak dapat mencegah hamil ektopik sepenuhnya. Namun, Anda dapat mengurangi beberapa faktor risiko tertentu dengan mengikuti gaya hidup berikut:

  • Melakukan hubungan seks yang aman dengan membatasi jumlah pasangan seksual.
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seks untuk mencegah infeksi menular seksual dan mengurangi risiko peradangan pelvis.
  • Berhenti merokok sebelum kehamilan.
  • Berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan selama kehamilan.
  • Mengunjungi dokter kandungan sesuai jadwal.

Selain itu, beberapa hal yang penting untuk dilakukan yaitu:

Berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu

Kehamilan merupakan hal yang banyak didambakan setiap pasangan. Dengan mengetahui bahwa kehamilan Anda belum berhasil, ini pasti menyebabkan kecewa yang mendalam.

Setelah melalui proses diagnosis dan pengobatan, kini waktunya berdamai dengan diri sendiri.

Beri waktu pada diri untuk berduka dan juga bisa berbagi rasa sedih dengan pasangan, keluarga, atau sahabat.

Minta mereka mendengarkan ungkapan kesedihan Anda tanpa perlu memberi saran atau pilihan lain untuk bisa hamil kembali.

Anda juga bisa mencari kelompok pendukung, psikolog, atau dokter dan bisa yang bisa menenangkan hati.

Pertimbangkan IVF atau bayi tabung

Tubuh wanita normalnya memiliki dua saluran tuba falopi. Jika salah satu rusak atau diangkat, Anda masih bisa hamil dengan normal walaupun hanya dengan satu saluran tuba falopi.

Jika kehamilan ektopik terus terjadi, sampai menyebabkan kedua tuba falopi telah terluka atau diangkat, fertilisasi in vitro (IVF) bisa menjadi pilihan bagi Anda yang menginginkan hadirnya buah hati. 

IVF adalah prosedur yang dilakukan dengan cara menggabungkan sel telur wanita dan sel sperma yang sehat di dalam laboratorium.

Setelah sel telur dan sperma berhasil dalam pembuahan, ini akan ditanamkan kembali ke dalam rahim.

Bisakah saya hamil lagi setelah kehamilan ektopik?

Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik umumnya bisa hamil  normal dan sehat lagi di waktu mendatang.

Umumnya bila kehamilan ektopik disebabkan karena saluran tuba falopi rusak atau bermasalah, dokter akan mengangkat saluran tersebut.

Lalu, jika salah satu saluran tuba diangkat, satu saluran tuba lainnya yang masih sehat tetap bisa membantu proses kehamilan.

Jika kehamilan ektopik disebabkan karena infeksi atau penyakit menular seksual, pengobatan dengan obat atau tindakan perawatan lain bisa membantu.

 Akan tetapi jika kehamilan ektopik terjadi karena paparan dietilstilboestrol (DES), terjadinya kehamilan normal kemungkinan kecil terjadi.

Periksakan diri dan konsultasi dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan berikutnya.

Semakin dini Anda mencegah kehamilan ektopik, semakin kecil kerusakan tuba dan semakin besar kemungkinan untuk bisa hamil normal dan sehat.

Kapan boleh mencoba hamil lagi?

Sebetulnya tidak ada bukti cukup yang bisa menentukan harus menunggu seberapa lama untuk mencoba lagi setelah mengalami kehamilan ektopik.

Dikutip dari The Ectopic Pregnancy Trust, para ahli kandungan menyarankan untuk mencoba hamil kembali setelah 3 bulan atau sekitar 2 sampai 3 kali masa mentruasi Anda lewat.

Hal ini bukan tanpa tujuan. Pasalnya, menunggu selama 3 bulan berfungsi untuk mengembalikan siklus haid yang normal sebelum memulai mencoba hamil kembali.

Masih dikutip dari situs The Ectopic Pregnancy Trust, beberapa laporan yang menunjukkan seseorang bisa sukses hamil lagi setelah 18 bulan pasca-kehamilan ektopik dengan tingkat kesuksesan 65 persen.

Penelitian lain juga melaporkan bahwa 85 persen wanita bisa hamil lagi bila memberikan jeda waktu selama 2 tahun setelah kehamilan ektopik.

Selain itu, yang perlu dipertimbangkan adalah efek suntikan metotreksat saat pengobatan kehamilan ektopik. Ini membuat Anda harus menunggu sejenak untuk kehamilan berikutnya.

Setelah disuntik metotreksat, Anda harus menunggu hingga kadar hCG dalam tubuh turun hingga jumlahnya di bawah 5 mlU per mililiter saat tes darah.

Ini karena, obat metotreksat dapat menurunkan kadar folat dalam tubuh. Asam folat adalah zat yang penting dibutuhkan tubuh ibu dan janin sejak awal kehamilan.

Maka dari itu, nantinya dokter juga akan menganjurkan Anda untuk makan dan minum suplemen yang mengandung asam folat selama 12 minggu sebelum mencoba hamil kembali setelah keguguran atau mengalami hamil ektopik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Bedanya Bercak Darah Tanda Hamil atau Menstruasi?

Apa bedanya bercak darah dari tanda hamil atau menstruasi? Pasalnya, keduanya cukup mirip. Temukan ciri dan perbedaan flek darah yang terjadi pada Anda!

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 28 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

10 Makanan Penyubur Sperma agar Pasangan Cepat Hamil

Penelitian membuktikan, bahkan pria berumur 80 tahun pun masih mungkin memiliki kualitas sperma yang baik jika mengonsumis makanan penyubur sperma berikut.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Kesuburan, Kehamilan 10 November 2020 . Waktu baca 7 menit

3 Posisi Seks yang Meningkatkan Peluang agar Cepat Hamil

Katanya, posisi seks tertentu bisa memudahkan jalan sperma untuk membuahi sel telur. Lantas, apa saja posisi seks yang dianjurkan agar cepat hamil?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Program Hamil, Kesuburan, Kehamilan 10 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Perlu Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Pranikah (Premarital Check Up)?

Premarital check up adalah rangkaian pemeriksaan kesehatan yang penting dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Apa saja manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Penyakit Kelainan Darah, Thalasemia 5 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara menggugurkan kandungan

Cara Menggugurkan Kandungan Ketika Kehamilan Bermasalah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
tanda hamil atau haid

Positif Hamil Atau Gejala Mau Haid? Begini 10 Cara Membedakannya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 14 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

6 Hal yang Katanya Bisa Menentukan Jenis Kelamin Bayi. Mitos atau Fakta?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 8 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Apa Benar Kebanyakan Olahraga Bikin Wanita Susah Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 30 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit