Yang Perlu Anda Tahu Tentang Depresi Pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24 Januari 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Kehamilan seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup seorang wanita, tapi bagi banyak perempuan, masa-masa kehamilan adalah waktu yang membingungkan, menakutkan, penuh stres, dan bahkan depresi.

Depresi merupakan gangguan suasana hati (mood) yang mempengaruhi 1 dari 4 wanita di satu titik kehidupan mereka, jadi tidak mengherankan jika penyakit ini juga dapat menyerang ibu hamil.

Depresi postpartum — depresi yang melanda ibu setelah melahirkan bayi — atau baby blues mungkin jauh lebih dikenal, tetapi gangguan mood selama kehamilan itu sendiri lebih banyak terjadi pada ibu hamil daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Depresi pada ibu hamil sering tak terdeteksi

Depresi selama kehamilan seringnya tidak terdiagnosis dengan benar karena orang-orang berpikir bahwa gejala yang ditunjukkan hanya bentuk lain dari perubahan hormon — yang normal terjadi selama masa kehamilan. Karena itu, penyedia layanan kesehatan mungkin akan cenderung kurang tanggap untuk menyelidiki kondisi kejiwaan ibu hamil, dan seorang ibu hamil mungkin akan merasa malu untuk mendiskusikan kondisi yang ia alami. Sebanyak 33 persen ibu hamil menunjukkan gejala depresi dan gangguan kecemasan, namun hanya 20 persen dari mereka yang mencari pertolongan, dilansir dari Parents.

Kurang memadainya perawatan depresi pada ibu hamil akan berbahaya bagi sang ibu dan si jabang bayi dalam kandungan. Depresi adalah penyakit klinis yang bisa diobati dan dikelola; Bagaimanapun, penting mencari bantuan dan dukungan terlebih dahulu.

Apa saja tanda dan gejala depresi pada ibu hamil?

Mungkin akan sulit untuk mendiagnosis depresi selama kehamilan karena beberapa gejala depresi bisa tumpang tindih dengan gejala klasik kehamilan, seperti perubahan nafsu makan, tingkat energi, konsentrasi, atau pola tidur.

Normal untuk mengkhawatirkan beberapa perubahan dalam diri demi keselamatan kehamilan, tetapi jika Anda mengalami gejala persisten dari depresi dan/atau gangguan kecemasan selama dua minggu atau lebih, terutama hingga Anda tidak dapat berfungsi secara normal, segera cari bantuan.

Tanda dan gejala depresi selama kehamilan, termasuk:

  • Terjebak dalam mood depresif setiap waktu
  • Kesedihan yang tak kunjung usai
  • Terlalu banyak atau sedikit tidur
  • Kehilangan minat secara drastis pada hal-hal yang biasanya Anda nikmati
  • Rasa bersalah
  • Menarik diri dari dunia sekitar, termasuk keluarga dan kerabat dekat
  • Rasa tidak berharga
  • Tidak berenergi, lemah lesu berkepanjangan
  • Konsentrasi yang buruk, atau kesulitan dalam membuat keputusan
  • Perubahan nafsu makan (terlalu banyak atau sedikit)
  • Merasa putus asa
  • Tidak memiliki motivasi
  • Memiliki masalah ingatan
  • Menangis terus menerus
  • Mengalami sakit kepala, nyeri dan ngilu, atau gangguan pencernaan yang tidak kunjung sembuh

Dan mungkin diikuti oleh gejala gangguan kejiwaan lainnya, termasuk:

Gangguan kecemasan umum:

  • Cemas berlebihan yang sulit dikendalikan
  • Mudah marah dan tersinggung
  • Nyeri/sakit otot
  • Merasa gelisah
  • Kelelahan

Obsessive-Compulsive disorder:

  • Pikiran berulang dan berkelanjutan tentang kematian, bunuh diri, atau keputusasaan
  • Kecenderungan untuk melakukan tindakan atau perilaku berulang untuk meringankan pikiran merusak tersebut

Serangan panik:

Dokter Anda dapat mencari tahu apakah gejala Anda disebabkan oleh depresi atau sesuatu yang lain.

Apa yang memicu depresi pada ibu hamil?

Walaupun tingkat kejadian akurat depresi pada ibu hamil di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun dilansir dari Healthline, depresi pada ibu hamil, dikenal juga sebagai depresi antenatal, mempengaruhi 10-15 persen wanita pada umumnya. Di Amerika Serikat, dikutip dari American Pregnancy, menurut data The American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sekitar 14-23 persen wanita berjuang dengan beberapa tanda dan gejala depresi selama kehamilan.

Wanita dengan faktor risiko di bawah ini memiliki peluang rentan terhadap depresi:

  • Riwayat medis personal atau keluarga terhadap gangguan mood, seperti depresi atau gangguan kecemasan
  • Riwayat dari premenstrual dysphoric disorder (PMDD)
  • Menjadi seorang ibu muda (di bawah usia 20 tahun)
  • Kurangnya dukungan sosial (dari keluarga dan teman) yang dimiliki
  • Hidup sendiri
  • Mengalami masalah hubungan suami-istri
  • Bercerai, menjanda, atau berpisah
  • Pernah mengalami beberapa kejadian traumatik atau penuh stres dalam setahun belakangan
  • Komplikasi kehamilan
  • Memiliki pemasukan finansial rendah
  • Memiliki lebih dari tiga anak
  • Pernah mengalami keguguran
  • Riwayat kekerasan dalam rumah tangga
  • Penyalahgunaan obat-obatan
  • Kecemasan atau perasaan negatif tentang kehamilan tersebut

Siapapun bisa mengalami depresi, tetapi tidak ada penyebab tunggalnya.

Wanita yang mengalami depresi selama kehamilan memiliki risiko lebih besar terhadap depresi pasca-melahirkan.

Apa akibatnya pada bayi jika ibu mengalami depresi saat hamil?

Risiko pada bayi dalam janin dari ibu yang mengalami depresi atau kecemasan selama hamil, termasuk berat lahir rendah, kelahiran prematur (sebelum 37 minggu), skor APGAR rendah, dan gangguan pernapasan dan gelisah. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa depresi yang melanda ibu hamil juga akan turun kepada janinnya.

Dilansir dari Kompas, penelitian dalam jurnal JAMA Psychiatry menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami depresi selama kehamilan akan menurunkan peningkatan risiko deresi pada anak mereka saat dewasa nanti.

Rebecca M. Pearson, Ph.D, dari University of Bristol di Inggris, beserta tim penelitinya menggunakan data lebih dari 4.500 pasien dan anak mereka dalam sebuah studi komunitas. Peneliti menyimpulkan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu yang mengalami depresi selama kehamilan, rata-rata, 1,5 kali lebih rentan untuk mengalami depresi saat mereka berusia 18 tahun.

Sementara risiko keturunan genetik bisa menjadi satu penjelasan potensial, Pearson, dilansir dari Healthline, mengatakan bahwa konsekuensi fisiologis depresi yang dialami ibu dapat masuk ke dalam plasenta dan mempengaruhi perkembangan otak janin.

Cara mengobati depresi selama kehamilan

Temuan ini memiliki dampak penting untuk sifat dan ketepatan waktu dari intervensi medis guna mencegah depresi menurun pada anak di kemudian hari. Mengobati tanda dan gejala depresi selama kehamilan sesegera mungkin, terlepas dari latar belakang penyebab, adalah langkah yang paling efektif, menurut studi tersebut.

Peneliti berpandangan, faktor berbeda mungkin terlibat dalam depresi sebelum dan sesudah kehamilan. Pada depresi pasca-melahirkan, faktor lingkungan seperti dukungan sosial memiliki efek besar dalam penyembuhan.

Perawatan seperti terapi perilaku-kognitif — jenis terapi berbicara tatap muka — telah terbukti membantu wanita hamil dengan depresi tanpa risiko efek samping yang mungkin timbul dari obat-obatan psikoaktif.

Penyedia layanan kesehatan profesional harus menyadari dan sigap untuk mendukung wanita. Depresi selama kehamilan sama pentingnya dengan depresi pasca melahirkan, dan harus segera ditangani sedini mungkin bukan hanya guna mencegah supaya deresi tidak berlanjut setelah kelahiran.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

    Kenikmatan kopi sudah tidak diragukan. Namun, tahukan Anda ada beberapa cara membuat kopi yang dapat menjadikan manfaatnya lebih baik untuk kesehatan.

    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Hidup Sehat, Tips Sehat 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit

    4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

    Anda suka nekat makan daging ayam belum matang? Awas, akibatnya bisa fatal. Ini dia berbagai bahaya dan ciri-ciri daging ayam yang belum dimasak sempurna.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

    Minum susu biasanya dianjurkan untuk anak-anak. Lalu, jika sudah lanjut usia, apakah masih perlu minum susu? Berapa banyak susu yang harus diminum?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

    Makanan tinggi garam bukan hanya membuat Anda berisiko mengalami tekanan darah tinggi. Simak berbagai bahaya makanan asin pada tubuh kita.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
    Hidup Sehat, Tips Sehat 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    cara mengobati sengatan lebah

    Pertolongan Pertama untuk Mengobati Sengatan Lebah

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 23 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
    gejala leptospirosis

    Cara Mengatasi Gejala Leptospirosis, Penyakit Khas di Musim Hujan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    ibu hamil makan daging kambing

    Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Kambing?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
    pekerjaan rumah tangga saat hamil

    Pekerjaan Rumah Tangga Ini Dilarang Bagi Ibu Hamil

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit