Demam Berdarah saat Hamil, Virusnya Menginfeksi Janin Saya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Maret 2021 . Waktu baca 8 menit
Bagikan sekarang

Malam itu, tepat pukul 20:00 WIB saya melahirkan secara normal seorang bayi laki-laki. Suara tangis pertamanya melenyapkan semua rasa sakit dan lelah akibat mengejan. Saya lega dan sungguh bahagia. Tapi rasa suka cita itu terenggut begitu cepat. Virus demam berdarah yang sempat menginfeksi ketika saya hamil 4 bulan ternyata telah memasuki tubuh si bayi. Ini cerita pengalaman saya terkena demam berdarah saat hamil. 

DBD saat hamil, tapi USG menunjukkan janin berkembang baik

pengalaman demam berdarah saat hamil

Peristiwa ini terjadi pada kehamilan kedua saya sekitar tiga tahun yang lalu. Saya terinfeksi demam berdarah ketika kehamilan saya berusia 4 bulan.

Saat itu kasus demam berdarah di sekitar wilayah tempat tinggal memang cukup banyak. Anak pertama saya dan beberapa teman sekolahnya juga terkena demam berdarah dalam waktu yang hampir bersamaan. 

Saya pun menemani anak saya yang dirawat di rumah sakit. Selang berapa hari baru diketahui bahwa saya juga terinfeksi virus Dengue dan membuat saya harus ikut dirawat di rumah sakit tersebut. 

Proses penyembuhan itu berjalan lancar tanpa kendala. Saat itu sama sekali tak ada keluhan berat yang saya rasakan. Kandungan saya pun terasa baik-baik saja, tidak sakit dan tak ada pendarahan terjadi. 

Saya merasa perawatan selama saya hamil dan menderita demam berdarah tak berbeda dengan orang lain yang tidak hamil. Selain itu, tak ada informasi khusus yang saya peroleh tentang bahaya DBD saat hamil. 

Selain itu, saya juga tak bertanya apapun dan mempercayakan semuanya kepada petugas medis. Apapun perawatan yang mesti saya lakukan maka saya jalani.

Oleh karena itu, tak ada pikiran buruk yang membuat saya cemas saat itu. 

Setelah sembuh dari demam berdarah, saya melakukan kunjungan ke bidan untuk memeriksakan kehamilan seperti biasa.

Kepadanya saya bercerita tentang kondisi saya yang baru pulih dari infeksi DBD.

Bidan itu berkata bahwa DBD pada ibu hamil bisa menyebabkan keguguran, pendarahan, bayi meninggal di perut, pertumbuhan bayi tidak sempurna atau lahir cacat, dan lahir prematur.

Informasi tersebut sontak membuat saya terkejut dan khawatir. Saya tak mengalami keguguran dan juga tak merasa ada keanehan pada kehamilan saya.

Pikiran buruk bahwa ada kemungkinan terjadi gangguan pada pertumbuhan organ janin saya pun datang. 

Demi memastikan bayi saya sehat dan mengurangi rasa khawatir itu, setiap bulan saya melakukan USG (ultrasonografi) 4 dimensi.

Hasilnya ternyata janin saya berkembang dengan baik, anggota tubuhnya lengkap, dan detak jantungnya normal. Saya merasa lega. 

Selain itu, saya juga melewati risiko kelahiran prematur. “Alhamdulillah DBD tidak memengaruhi kesehatan janin dalam kandungan saya,” pikir saya pada waktu  itu.

Namun, hal yang tak pernah saya duga sebelumnya justru terjadi kemudian. 

Terserang tipes sebelum melahirkan

pengalaman demam berdarah saat hamil

Setelah terkena demam berdarah, saya mengalami tipes ketika usia kehamilan masuk ke minggu 38.

Sampai hari melahirkan, saya masih mengalami demam. Meski begitu, saya kuat untuk melahirkan secara normal di klinik persalinan. 

Bayi laki-laki kami saat itu lahir dengan berat 3,2 kg dan tinggi 5,1 cm. Kami beri nama Muhammad Nursyahid.

Kebahagiaan dan rasa lega saya rasakan ketika mendengar suara tangisnya. Kebahagiaan yang begitu singkat.

Suara tangis bayi saya terdengar pelan, tidak senyaring suara bayi saya yang pertama. Rasa khawatir perlahan tumbuh di hati saya. Ternyata ada yang tidak beres.

Bayi kami segera dilarikan ke rumah sakit karena detak jantungnya tidak normal dan ia mengalami kesulitan bernapas. 

Nursyahid yang baru berusia beberapa menit itu dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur, rumah sakit terdekat dari klinik tempat saya melahirkan.

Namun, ruang NICU (neonatal intensive care unit) di rumah sakit tersebut sudah penuh. Ruang NICU adalah ruangan khusus bayi baru lahir dengan gangguan kesehatan serius dan dalam masa kritis. 

Bayi kami kemudian harus pindah ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi menggunakan ambulans. Ia didampingi ayahnya dan dokter spesialis.

“Si dedek sudah stabil di ruang NICU. Kamu istirahat ya, besok pagi baru ke sini,” kata suami saya ketika ia menelepon sekitar pukul 12 malam. Namun, momen tersebut tak pernah terjadi. 

Selang 1 jam setelah panggilan telepon, saya kembali ditelepon oleh suami. Perlahan ia memberi tahu bahwa Nursyahid meninggal. Harapan untuk bisa menimangnya esok pagi lenyap sudah. 

Satu-satunya kesempatan saya untuk memeluk bayi laki-laki saya itu adalah ketika jenazahnya hendak dibawa pulang untuk dimakamkan.

Itu adalah kali pertama dan terakhir saya mendekap buah hati yang baru saya lahirkan.

Saya bahkan tak mampu mengantarkannya ke peristirahatan terakhir karena kondisi saya yang belum pulih sepenuhnya. 

Setelah keadaan lebih tenang, suami bercerita bahwa virus demam berdarah dan bakteri tipes telah menginfeksi jabang bayi serta menyerang organ tubuhnya.

Saya tak kuasa menahan tangis dan rasa bersalah. Rasa sesak menumpuk di dada. 

Kata dokter, jika Nursyahid selamat maka ia akan tumbuh dengan kondisi spesial. Entah itu mudah sakit, mudah terluka dan berdarah, atau lainnya, yang pasti kondisi kesehatannya akan lemah. 

Trauma setelah mengalami infeksi demam berdarah saat hamil

ilustrasi pertengkaran suami istri
Foto: ilustrasi pertengkaran suami istri

Sakit fisik sehabis melahirkan ditambah demam yang tak kunjung turun bukan apa-apa jika dibandingkan sakit psikologis yang harus saya lalui saat itu.

Perasaan bersalah karena tak bisa menjaga kesehatan saat hamil membuat saya merasa terpuruk. 

Saya merasa bersalah pada anak saya yang tak bisa berumur lebih panjang. Saya juga merasa bersalah pada suami karena gagal menjaga bayi dalam kandungan saya.

Rasa bersalah itu semakin bertambah berat dengan komentar banyak orang yang menambah luka di hati saya. 

Ada yang berkata bahwa saya mengorbankan kesehatan diri sendiri dan kandungan karena bekerja, mencari uang mati-matian.

Komentar lain yang lebih melukai perasaan saya adalah tudingan bahwa saya sengaja menjadikan anak sebagai tumbal pesugihan. Naudzubillah.

Kondisi tersebut membuat saya semakin sulit dalam melewati masa duka, menyembuhkan diri saya baik secara fisik maupun psikis.

Terlebih, setelah peristiwa tersebut, saya dan suami jadi lebih sering bertengkar. 

Meski kami sama-sama tahu bahwa seharusnya kami saling menguatkan, beban psikologis ini membuat kami kacau. Situasi rumah tangga kami jadi lebih sering panas. 

Menghadapi kondisi rumah tangga tersebut, suami saya menganjurkan untuk kembali mencoba program hamil dalam waktu dekat.

Kami juga melakukan konseling ke guru agama untuk menenangkan dan menghilangkan segala pikiran buruk dan negatif selama ini.

Tiga bulan kemudian saya hamil.  Kondisi kehamilan itu bagi saya terasa sangat melelahkan.

Saya masih merasa trauma akibat kegagalan yang saya alami sebelumnya karena mengalami infeksi demam berdarah saat hamil.

Namun, saya harus berjuang, demi saya sendiri dan juga rumah tangga kami. 

Agar tak terulang peristiwa serupa, semua anjuran pencegahan demam berdarah di rumah saya jalankan.

Saya memasang jaring nyamuk, tak ada satu pun pakaian yang menggantung, bahkan saya memisahkan lemari pakaian dari ruang tidur. 

Selain itu saya juga lebih sering memeriksakan kandungan dari sebelumnya. Saya minum semua vitamin yang dianjurkan oleh dokter dan mengonsumsi semua makanan sehat.

Semua itu saya lakukan demi menjaga kandungan saya dan menghilangkan rasa takut yang masih bersarang. 

Meski begitu, kekhawatiran dan berbagai pikiran negatif masih sering muncul dan membuat saya demam tinggi.

Namun, semua itu harus saya hadapi. Puji syukur saya bisa melewati masa kehamilan dengan sehat dan selamat. 

Keputusan kami untuk segera program hamil setelah kehilangan anak kedua, saya rasa adalah keputusan terbaik. Lahirnya anak ketiga kemudian menyembuhkan rasa trauma pada diri saya.

Itulah pengalaman saya terinfeksi demam berdarah saat hamil.

Fatimah (34) bercerita untuk pembaca Hello Sehat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sakit Perut Saat Hamil: Dari yang Ringan Sampai yang Berbahaya

Sakit perut saat hamil merupakan keluhan yang sering dialami ibu hamil. Beberapa di antaranya normal, tapi ada juga yang harus diwaspadai. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 3 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

3 Obat Penguat Kandungan untuk Mencegah Keguguran

Apa pun akan dilakukan agar kehamilan tetap sehat dan terjaga. Saat ada risiko tertentu, berikut obat penguat kandungan yang biasa diberikan.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 2 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Perut Terasa Kencang Saat Hamil, Apa Artinya?

Perut kencang saat hamil adalah keluhan umum yang dirasakan ibu hamil. Apa penyebabnya? Dan bagaimana cara mengatasinya? Cek di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 28 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Kaki Kram Saat Hamil, Kondisi Umum yang Tidak Bisa Disepelekan

Kram kaki saat hamil biasanya dialami ketika kandungan sudah memasuki trimester kedua dan ketiga. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 28 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pengalaman kehamilan ektopik

Perjuangan Dua Kali Kehamilan Ektopik dan Saluran Tuba yang Pecah

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 6 menit
pengalaman keguguran

Pengalaman Keguguran Berulang Membuat Saya Hampir Putus Asa

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 24 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
pengalaman janin tidak berkembang

Usia 4 Bulan Kehamilan Janin Tidak Berkembang, Saya Harus Aborsi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
aborsi

Aborsi, Prosedur Medis untuk Menggugurkan Kandungan

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 8 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit