Demam Berdarah (DBD) pada Ibu Hamil

Demam Berdarah (DBD) pada Ibu Hamil

Demam berdarah dengue (DBD), atau lebih populer sebagai demam berdarah, ternyata tak hanya terjadi pada orang dewasa dan anak-anak. Ibu hamil juga bisa mengalami penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk ini. Lantas, apa saja gejala DBD pada ibu hamil dan apakah kondisi ini memengaruhi bayi yang berada dalam kandungan? Berikut ulasannya.

Apa saja gejala DBD pada ibu hamil?

penyakit dbd, gejala dbd pada ibu hamil

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Seseorang yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti tetapi tidak mengalami kebocoran plasma berarti hanya terkena demam dengue.

Namun, jika demam dengue tidak kunjung sembuh bahkan semakin parah dan mengkibatkan kebocoran plasma, ia bisa terkena demam berdarah dengue (demam berdarah).

Oleh karena itu, dibandingkan dengan demam dengue, demam berdarah merupakan kondisi yang lebih serius, bahkan bisa berakibat pada kematian.

Mendeteksi DBD sedini mungkin dapat mengurangi keparahan penyakit.

Oleh karena itu, pahami berbagai gejala yang ditimbulkan saat Anda terserang demam berdarah, termasuk ciri-ciri DBD pada ibu hamil.

Berdasarkan Centers Disease for Prevention (CDC), biasanya orang yang mengalami DBD, termasuk pada ibu hamil, bisa mengalami berbagai gejala berikut ini.

  • Demam tinggi lebih dari 38 derajat celcius dan berlangsung selama 3—7 hari.
  • Perubahan suhu tubuh dari demam tinggi ke hipotermia (saat suhu tubuh berada di bawah 35 derajat Celcius) hingga menyebabkan tubuh menggigil.
  • Sakit perut yang cukup parah.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Muntah terus-menerus.
  • Trombosit menurun drastis.
  • Gusi dan hidung berdarah.
  • Gejala syok seperti gelisah, keringat dingin, serta denyut jantung yang meningkat tapi lemah.
  • Muncul bintik merah di kulit akibat perdarahan di dalam tubuh.
  • Penumpukan cairan di antara dua lapisan pleura (efusi pleura atau paru-paru basah).
  • Penumpukan cairan di perut (asites).

Berbagai gejala yang dibiarkan dan tidak segera ditangani maka bisa mengakibatkan komplikasi DBD pada ibu hmail, bahkan kematian ibu dan juga janin.

Apa penyebab DBD pada ibu hamil?

Sama seperti DBD pada umumnya, sebagian besar kasus DBD pada ibu hamil terjadi melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi virus dengue.

Nyamuk tersebut awalnya menggigit orang yang sedang menderit DBD. Setelah itu, nyamuk yang sama menggigit orang lain yang sehat sehingga terjadi penularan.

Akan tetapi, penularan DBD juga bisa terjadi akibat terpapar langsung dengan darah yang terinfeksi.

Risiko terjadinya DBD akan lebih tinggi pada seseorang yang telah beberapa kali menderita demam dengue.

Semakin sering mengalami demam dengue, maka semakin besar kemungkinan kondisi tersebut berkembang menjadi DBD.

Namun, bukan hanya itu, ibu hamil juga secara umum memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami DBD, meski belum pernah mengalami demam dengue.

Kasus demam berdarah dengue paling tinggi terjadi di daerah yang memiliki iklim tropis. Bahkan, menurut suatu studi, DBD pada ibu hamil merupakan kasus yang terus meluas di daerah Asia Tenggara.

Namun sayangnya, pengetahui terkait bahaya DBD saat dialami oleh ibu hamil belum banyak diketahui masyarakat.

Padahal, demam berdarah dengue pada ibu hamil bisa menimbulkan sejumlah risiko pada janin.

Apa yang terjadi pada janin saat ibu hamil terkena DBD?

demam saat hamil

DBD sangat berbahaya bagi wanita hamil karena virus ini dapat ditularkan kepada janin selama kehamilan, bahkan ketika proses melahirkan berlangsung.

Ada beberapa komplikasi DBD yang mungkin terjadi pada janin jika ibu terkena demam berdarah dengue saat hamil, yaitu sebagai berikut.

Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk segera memeriksakan diri dan kandungan ke dokter guna memastikan kondisi yang dialami.

Meski memang, mendeteksi DBD pada ibu hamil terkadang cukup sulit dilakukan.

Ini karena gejala yang mungkin mirip dengan kondisi lain yang kerap terjadi saat hamil, seperti sindrom HELLP, pneumonia, emboli paru, dan perdarahan vagina.

Bagaimana cara mengobati DBD pada ibu hamil?

pasien kanker tidak bisa tidur

DBD memerlukan pengobatan dengan segera untuk mengendalikan gejala dan menjaga agar infeksi tidak semakin parah.

Penanganan DBD pada ibu hamil umumnya tidak berbeda dari penanganan pada wanita yang sedang tidak hamil.

Obat atau penanganan DBD untuk ibu hamil yang mungkin akan diberikan oleh dokter adalah sebagai berikut.

  • Menyuplai cairan melalui cairan infus.
  • Memberikan obat pereda rasa sakit.
  • Terapi elektrolit.
  • Transfusi darah.
  • Memantau tekanan darah secara berkala.
  • Terapi oksigen.

Dokter akan terus memantau kondisi tubuh dan memberikan berbagai perawatan lain sesuai respons tubuh.

Cara mencegah DBD pada ibu hamil

vagina sakit saat hamil

Untuk melindungi diri dari demam berdarah selama kehamilan, tahu cukup hanya dengan memahami gejala dbd pada ibu hamil.

Anda juga perlu melakukan beberapa tindakan pencegahan berikut agar terhindari dari demam berdarah pada ibu hamil.

  • Menjaga kebersihan lingkungan dan menutup genangan air di sekitar rumah.
  • Mengenakan pakaian longgar berwarna terang dan menutupi lengan serta kaki untuk mencegah gigitan nyamuk.
  • Menggunakan kelambu di malam hari selama Anda tidur dan obat pengusir nyamuk baik yang dioles langsung ke kulit maupun obat nyamuk semprot.
  • Menjaga kondisi kamar tetap sejuk karena nyamuk cenderung suka tempat yang hangat dan panas.
  • Menghindari bepergian ke tempat yang mengalami wabah DBD.

Menjaga kondisi tubuh saat hamil sangat penting dilakukan untuk mencegah kemunculan penyakit yang bisa berakibat buruk pada janin yang Anda kandung, termasuk DBD.

Maka itu, selalu konsultasikan kesehatan Anda dan bayi secara rutin selama kehamilan.

Selain itu, tingkatkan lagi kepekaan Anda pada sinyal-sinyal yang diberikan tubuh.

Jangan sekali-kali mengabaikannya karena bisa membahayakan Anda dan janin di dalam kandungan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 09/11/2022

Iklan
Iklan
Iklan
Iklan