home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

4 Risiko Latihan Angkat Beban bagi Kesehatan Tubuh Anda

4 Risiko Latihan Angkat Beban bagi Kesehatan Tubuh Anda

Latihan angkat beban menawarkan sejumlah manfaat bagi kesehatan, seperti menurunkan berat badan, membakar lemak, membentuk otot, serta mencegah osteoporosis. Selain itu, ada pula sejumlah risiko angkat beban yang berakibat cedera dan akan memengaruhi kondisi kesehatan.

Banyak kalangan masih ragu untuk melakukan latihan kekuatan otot ini karena anggapan bahwa olahraga ini bisa bikin tubuh makin pendek, khususnya jika dilakukan oleh remaja. Benarkah demikian?

Mengenal risiko latihan angkat beban

Risiko cedera saat latihan angkat beban umumnya meningkat ketikan latihan dilakukan tanpa pengawasan pelatih atau instruktur. Terlalu berlebihan dalam mengangkat beban tertentu juga bisa memicu beberapa masalah kesehatan seperti berikut ini.

1. Cedera otot

Cedera otot adalah salah satu bahaya terbesar yang Anda hadapi saat berlatih angkat beban. Menurut Utah Orthopedic Centers, aktivitas angkat beban yang tidak tepat bisa meningkatkan risiko cedera bahu, cedera lutut, dan cedera punggung yang sering jadi tumpuan.

Teknik angkat beban tertentu berisiko cedera pada bagian tubuh tertentu. Beberapa contoh teknik angkat beban tersebut yakni bench press dan shoulder press untuk cedera bahu; hack squats dan lunges untuk cedera lutut; dan rows dan deadlifts untuk cedera punggung.

Gerakan tiba-tiba atau beban terlalu berat bisa menimbulkan robekan pada otot. Maka dari itu, penting untuk berlatih secara perlahan sesuai dengan kapasitas tubuh Anda.

2. Gangguan tulang

Manfaat latihan angkat beban salah satunya mampu meningkatkan kepadatan tulang. Perubahan ini terjadi karena tulang Anda akan menyesuaikan diri setelah menerima tekanan selama latihan. Namun, tekanan berulang kali dan berlebihan pada tulang selama latihan bisa menyebabkan retak tulang atau fraktur stres, bahkan hingga patah tulang.

Selain itu, Anda juga mungkin mengalami dislokasi bahu atau kondisi lepasnya sendi bola pada lengan atas dari soket bahu. Latihan bench press dengan beban berlebihan umumnya sering menyebabkan kondisi ini.

Risiko ini bisa makin meningkat jika Anda memiliki kondisi, seperti tulang rapuh (osteoporosis), kekurangan vitamin D dan kalsium, atau pernah patah tulang sebelumnya. Jika memiliki kondisi tersebut, konsultasikan ke dokter Anda sebelum berlatih angkat beban.

3. Hernia

Turun berok atau dalam istilah medis dikenal sebagai hernia adalah kondisi ketika organ dalam tubuh menonjol melalui dinding otot atau jaringan di sekitarnya. Salah satu risiko angkat beban ternyata juga bisa memicu kondisi ini, lho.

Walaupun begitu, menurut Ajita Prabhu, MD, dokter bedah umum Cleveland Clinic, penyebab hernia bukan sekadar mengangkat beban. Kombinasi faktor lain, seperti kelemahan dinding perut dekat pusar dan selakangan sejak lahir juga bisa meningkatkan risikonya.

Jika Anda merasakan benjolan pada perut setelah latihan angkat beban, segera konsultasi ke dokter. Hernia tidak bisa hilang dengan sendirinya dan perlu penanganan dokter melalui prosedur operasi untuk mencegah komplikasi berbahaya.

4. Pembuluh arteri jantung robek

Dalam kasus parah, risiko angkat beban juga bisa membuat pembuluh darah arteri jantung robek yang dalam ranah medis dikenal sebagai diseksi arteri koroner spontan. Faktor risiko yang bisa memicu kondisi ini salah satunya adalah aktivitas fisik ekstrem dengan intensitas tinggi, termasuk latihan angkat beban secara berlebihan.

Orang sehat tanpa memiliki riwayat penyakit jantung bisa mengalami kondisi ini. Beberapa gejala yang mungkin terjadi, seperti nyeri dada, kesulitan bernapas, peningkatan detak jantung, berkeringat, kelemasan tanpa sebab, dan mual serta merasa pusing.

Pembuluh arteri jantung robek bisa berisiko kematian, sehingga kondisi ini memerlukan penanganan segera melalui akses kegawatdaruratan pada pelayanan kesehatan terdekat.

Benarkah latihan angkat beban bikin tubuh pendek?

manfaat angkat beban

Di samping sejumlah risiko cedera, olahraga angkat beban tidak menghambat pertumbuhan tinggi badan Anda. Sebuah penelitian justru menemukan bukti bahwa latihan angkat beban malah berdampak positif pada perkembangan lempeng epifisis pada tulang yang membelah dan beregenerasi sepanjang masa tumbuh kembang anak hingga remaja.

Dr. Avery Faigenbaum dari University of Massachusetts pun menyatakan hal senada. Latihan angkat beban tidak menghambat pertumbuhan anak-anak dan remaja. Namun selain olahraga, ia menyarankan agar anak-anak dan remaja terus mengonsumsi makanan sehat dan aktivitas fisik secara teratur untuk merangsang pertumbuhan tinggi badan.

Meskipun begitu, penyusutan tinggi badan bukanlah hal yang mustahil terjadi terlepas dari aktivitas fisik apa yang Anda lakukan. Manusia bisa kehilangan beberapa centimeter tinggi badannya karena piringan sendi antara tulang belakang lama kelamaan aus dan tertekan sehingga melengkung.

Tinggi tubuh yang makin pendek seiring bertambahnya usia juga bisa dipengaruhi oleh hilangnya kepadatan tulang akibat osteoporosis. Hilangnya otot batang tubuh juga dapat menyebabkan postur tubuh membungkuk.

Selain itu, pelurusan lengkungan kaki secara bertahap juga bisa membuat Anda sedikit lebih pendek. Kondisi ini bisa menjadi pertanda kurangnya kesehatan tubuh secara umum atau gizi buruk.

Manfaat olahraga angkat beban bagi kesehatan

Olahraga angkat beban tidak melulu harus Anda lakukan dengan beban berat. Latihan ini bisa juga Anda lakukan dengan gelang penahan (resistance band), bola fitness, atau dengan berat badan, misalnya planking.

Seperti dikutip dari Mayo Clinic, beberapa manfaat angkat beban bagi kesehatan, antara lain:

  • meningkatkan kepadatan tulang dan kekuatan otot,
  • meningkatkan daya tahan fisik,
  • melindungi tendon dan ligamen,
  • meningkatkan kepadatan tulang,
  • membantu mempertahankan tingkat kolesterol yang sehat serta menjaga tekanan darah,
  • membantu mempertahankan berat badan yang sehat,
  • memperkuat performa saat berolahraga dan cedera saat berolahraga, dan
  • memungkinkan sistem saraf dan otot untuk berinteraksi lebih efisien.

Bukan hanya untuk orang dewasa, latihan angkat beban bisa dimulai sejak usia dini. Latihan sebaiknya dimulai sebelum anak-anak mencapai masa pubertas atau hingga mencapai usia 12 tahun sebab kondisi tubuh mereka lebih fleksibel dan mudah dilatih.

Namun, jangan sembarangan melakukan latihan jika tidak mau merasakan risiko angkat beban. Bagi anak-anak dan remaja, teknik dan pengawasan yang tepat dari orang dewasa bisa meminimalisir risikonya.

Termasuk bagi orang dewasa, Anda juga perlu melakukan latihan angkat beban di bawah pengawasan pelatih atau trainer berpengalaman. Perhatikan pula intensitas latihan, jangan sampai terlalu berlebihan.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Halse, H., & Bailey, A. (2017). Can Lifting Weights When Young Stunt Your Growth?. Livestrong.com. Retrieved 8 September 2017, from https://www.livestrong.com/article/430166-can-lifting-weights-when-young-stunt-your-growth/

Strength training for kids. Mayo Clinic. (2017). Retrieved 8 September 2017, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/tween-and-teen-health/in-depth/strength-training/art-20047758

Weight-Training and Weight-Lifting Safety. American Academy of Family Physicians. (2019). Retrieved 3 May 2021, from https://familydoctor.org/weight-training-and-weight-lifting-safety/

Kirk, S. Common Injuries from Weight Lifting. Utah Orthopedic Centers. Retrieved 3 May 2021, from http://www.utahorthopediccenters.com/common-injuries-from-weight-lifting/ 

Can Heavy Lifting Give You a Hernia?. Health Essentials from Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 3 May 2021, from https://health.clevelandclinic.org/does-heavy-lifting-really-give-you-hernia/

Barbieri, D., & Zaccagni, L. (2013). Strength training for children and adolescents: benefits and risks. Collegium antropologicum, 37 Suppl 2, 219–225. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23914510/

Mirtz, T. A., Chandler, J. P., & Eyers, C. M. (2011). The effects of physical activity on the epiphyseal growth plates: a review of the literature on normal physiology and clinical implications. Journal of clinical medicine research, 3(1), 1–7. https://doi.org/10.4021/jocmr477w

Faigenbaum A. D. (2000). Strength training for children and adolescents. Clinics in sports medicine, 19(4), 593–619. https://doi.org/10.1016/s0278-5919(05)70228-3

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 23/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan