Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pantang Menyerah Melawan Kanker Payudara

Pantang Menyerah Melawan Kanker Payudara

Penyakit kanker payudara selama ini hanya saya dengar dari berita di televisi atau obrolan tetangga sekitar rumah. Tak pernah saya bayangkan bahwa penyakit ini akan menimpa diri saya. Hingga hari ini saya masih berjuang untuk sembuh dengan menjalani pengobatan sebaik mungkin. Inilah kisah hidup saya sebagai penderita kanker payudara.

Dokter bilang payudara kanan saya harus diangkat

stadium kanker

Perkenalkan saya Roro, seorang ibu rumah tangga berusia 51 tahun.

Dua tahun yang lalu, sebelum memasuki Maret 2020, saya merasa tidak enak badan. Saat itu saya kira saya hanya masuk angin biasa dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Perkiraan saya meleset.

Berhari-hari kondisi saya tak juga kunjung membaik. Saya malah semakin mudah lelah dan linu di sekitar area tulang belikat.

Ketika saya mulai meraba-raba area dada dan tulang belikat, saya merasakan ada benjolan di sekitar payudara sebelah kanan. Benjolan ini tidak terasa sakit dan ketika saya sentuh juga tidak berpindah lokasi.

Saat itu saya tak tahu apa arti benjolan tersebut sehingga saya tak merasa khawatir sama sekali dengan kondisi yang saya rasakan saat itu. Karena sudah berhari-hari merasa tak enak badan, akhirnya saya iseng memeriksakan diri ke puskesmas di dekat rumah.

Ketika melangkahkan kaki menuju puskesmas tak pernah sedikit pun saya sangka akan mendapati kenyataan yang menyakitkan.

Dokter jaga di puskesmas memeriksa kondisi saya termasuk keluhan benjolan di payudara. Ia kemudian berkata, “Bu, kayaknya benjolannya cukup besar. Saya rujuk saja, ya, ke rumah sakit yang lebih lengkap.”

Rasa waswas mulai tumbuh ketika mendengar bahwa saya harus dirujuk ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju rumah saya terus memikirkan berbagai kemungkinan. Sebenarnya, saya sakit apa?

Selang beberapa hari, mengikuti anjuran dokter di puskesmas, saya melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit Sumber Waras di Jakarta Barat.

Setelah registrasi selesai dilakukan, saya diminta menjalani tes darah. Esoknya, saya perlu kembali lagi ke rumah sakit ini untuk menjalani pemeriksaan lain, mulai dari USG payudara, pemeriksaan jantung, pemeriksaan thorax, dan rontgen dada.

Masing-masing tes itu dilakukan di waktu yang berbeda-beda. Hal ini mengharuskan saya bolak-balik ke rumah sakit. Meski terkadang pergi sendiri, namun suami saya selalu berusaha untuk menemani setiap kali saya menjalani pemeriksaan.

Saya tidak ingat secara pasti berapa kali saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani tes. Tapi semua proses itu membutuhkan waktu setidaknya satu bulan. Selama itu pula saya terus merasa cemas mengapa begitu banyak tes yang mesti saya jalani.

Saya dilanda ketidakpastian dan perasaan gelisah.

Akhirnya pemeriksaan selesai dilakukan. Hasilnya disampaikan oleh dokter onkologi yang kemudian menangani penyakit saya. Dokter tersebut menjelaskan hasil tes dan mengatakan bahwa saya harus dioperasi.

Sontak saya kaget mendengarnya.

Beliau bilang bahwa benjolan yang ada di payudara saya harus di operasi karena ukurannya cukup besar. Ia lanjut menjelaskan bahwa tidak hanya benjolannya saja, seluruh payudara sebelah kanan saya pun perlu diangkat.

Itu artinya, saya hanya punya satu payudara saja nanti. Mendengar hal tersebut, pikiran saya tiba-tiba seperti kosong.

Saya memberanikan diri menjalani operasi pengangkatan payudara

operasi fisura ani

Ucapan dokter masih terus terngiang di kepala saya. Saya akan kehilangan payudara saya.

Hal tersebut menimbulkan rasa takut dan cemas di dalam hati saya sebagai perempuan. Sekuat tenaga saya coba enyahkan berbagai pikiran buruk. Saya ingin sembuh. Hanya itu yang coba saya fokuskan.

Suami, anak, keluarga, dan tetangga juga memberi dukungan agar saya mengikuti saran dokter untuk menjalani operasi. Selain itu saya menyadari bahwa di sekitar saya juga ada yang sama-sama berjuang melawan kanker payudara.

Ia seorang ibu rumah tangga seperti saya yang lokasi rumahnya tidak begitu jauh dari kediaman saya. Setelah menjalani operasi pengangkatan payudara dan pengobatan kanker payudara di rumah sakit, ia mampu beraktivitas seperti biasa.

Di sisi lain, ada juga kisah tetangga yang membuat saya sedih. Ia didiagnosis mengidap kanker payudara dan harus menjalani operasi karena kondisinya sudah cukup parah. Namun ia menolak operasi dan memilih memilih menjalani pengobatan alternatif yang ternyata tak mampu menyelamatkan nyawanya.

Dua kisah hidup penderita kanker payudara ini seperti menjadi gambaran kehidupan yang mungkin menimpa saya. Saya dihadapkan pada pilihan mengikuti saran dokter untuk menjalani operasi atau memilih pengobatan alternatif.

Tanpa pikir panjang lagi, saya memutuskan untuk mengikuti operasi pengangkatan payudara.

“Apakah ibu siap untuk operasi?”

Dengan mantap saya menjawab “Saya siap, Dok.”

Setelah itu, saya menjalani tes anestesi untuk menghindari terjadinya alergi obat bius dan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Hasil pemeriksaannya baik dan operasi pun dilakukan di bulan Maret 2020.

Kondisi kanker payudara yang saya alami

pencegahan kanker tulang

Operasi pengangkatan payudara berjalan lancar. Setelah seminggu diopname, saya diperbolehkan pulang ke rumah.

Seminggu berikutnya, saya harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksa luka bekas operasi. Lukanya ternyata belum pulih sempurna, sehingga saya harus menunggu tujuh hari kemudian.

Jadwal pemeriksaan luka operasi bertepatan dengan keluarnya hasil pemeriksaan pantologi anatomi. Dari hasil pemeriksaan ini, dokter menyimpulkan bahwa benjolan pada payudara saya kemungkinan besar mengarah pada kanker payudara.

Ketika menjalani operasi, saya sempat berharap bahwa benjolan di payudara ini bukanlah penyakit kanker. Namun malang tak dapat saya lawan.

Pihak rumah sakit merujuk saya untuk menjalani pengobatan lanjutan ke Rumah Sakit Dharmais yang menjadi Pusat Kanker Nasional. Saya dan keluarga kembali menyibukkan diri dengan segala registrasi dan pemeriksaan yang sama seperti sebelumnya, ditambah dengan tes pemindaian tulang (bone scan).

Lewat tes diagnosis kanker payudara ini dengan hasil pantologi anatomi sebelumnya, dokter menyimpulkan bahwa saya mengidap kanker payudara stadium tiga.

Seketika tubuh saya lemas, dan saya menangis sejadi-jadinya.

Saya masih harus berjuang melawan kanker dengan kemoterapi

Kemoterapi

Butuh waktu bagi saya untuk menghadapi kenyataan tersebut. Operasi yang sudah dilakukan tidak lantas membuat saya terbebas dari penyakit kanker. Masih ada pengobatan lain yang perlu saya ikuti. Artinya, perjalanan saya dalam melawan penyakit kanker masih cukup panjang.

Pertama, saya mengikuti terapi fisik karena tangan kanan saya tidak bisa bergerak dengan leluasa setelah operasi. Terapis membantu saya untuk meningkatkan rentang gerak tubuh, supaya saya tetap bisa beraktivitas kembali dengan nyaman.

Kedua, saya juga harus menjalani kemoterapi di rumah sakit. Perawatan ini dilakukan untuk membunuh sisa-sisa sel kanker yang mungkin masih ada di dalam tubuh saya.

Sampai sekarang, sudah tiga kali saya menjalani kemoterapi dan masih tersisa tiga sesi lagi untuk menuntaskan pengobatan.

Selama kemoterapi, dokter menyuntikkan selang infus yang berisi obat-obatan kemo. Pemberian obat ini bisa memakan satu sampai tiga jam sehingga saya harus menginap di rumah sakit selama tiga hari.

Berat memang menjalani pengobatan kanker ini, mulai dari menahan rasa nyeri yang kadang muncul saat disuntik hingga efek samping obat-obatan yang diberikan.

Efek samping kemoterapi bisa membuat saya seminggu penuh beristirahat di rumah. Saya terus merasa lemas dan mual setelah kemoterapi, bahkan bisa tidak makan nasi selama 3 hari.

Akan tetapi, saya harus memaksakan diri untuk makan supaya saya cepat pulih. Saya mengakalinya dengan mengonsumsi bubur ayam, bubur sumsum, bubur kacang ijo, jus, dan buah-buahan.

Sebelumnya, dokter memang sudah mengingatkan saya mengenai efek samping ini, termasuk kebotakan.

Mendengar hal ini membuat saya mengambil langkah seribu. Saya tidak mau melihat rambut saya perlahan-lahan habis karena rontok. Jadi, saya berinisiatif untuk memotong sendiri rambut saya hingga botak. Setidaknya, hal ini membuat perasaan saya jauh lebih baik.

Harapan saya untuk pejuang kanker payudara lainnya

Pantangan kanker pankreas

Perjalanan kisah hidup saya sebagai penderita kanker masih berlanjut, tapi saya tidak mau menyerah. Saya ingin cepat sembuh. Saya ingin beraktivitas kembali seperti biasanya dan bercengkrama dengan keluarga yang saya sayangi di rumah.

Sosok saya yang kuat ini tidak terbentuk dengan sendirinya. Ada dukungan dari keluarga, para tetangga, dan pasien kanker lain yang saya temui di rumah sakit.

Saat menemui mereka, saya merasa sangat beruntung, bahwa kondisi saya masih jauh lebih baik. Walaupun dokter menyatakan saya mengidap kanker payudara stadium tiga, sel kanker belum menyebar ke jaringan dan organ tubuh lainnya. Saya yakin saya bisa sembuh.

Untuk diri saya sendiri dan pejuang kanker lainnya, jangan pernah berhenti untuk berjuang karena penyakit ini harus kita lawan agar kita bisa hidup lebih baik.

Selain itu, untuk Anda di rumah, keluhan apa pun yang dirasakan sebaiknya jangan disepelekan. Bisa jadi itu adalah sinyal bahwa ada masalah yang terjadi pada tubuh Anda. Ingat, lebih baik mencegah daripada mengobati dan lebih baik mendeteksinya lebih awal agar bisa diobati lebih cepat.

Siti Rodiah (51) bercerita untuk pembaca Hello Sehat.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Feb 10
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa