Kapan Boleh Berhenti Periksa Mamografi?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 28/03/2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Mamografi merupakan salah satu cara guna mendeteksi dini kanker payudara. Meski pemeriksaan mamografi tidak bersifat mencegah, tetapi berguna menyelamatkan seseorang dari kondisi kanker payudara yang telanjur parah. Namun, kapan sebenarnya periksa mamografi mulai dilakukan? Kemudian, kapan bisa berhenti periksa mamografi? Berikut penjelasannya.

Waktu yang tepat untuk periksa mamografi

Mendeteksi kanker payudara melalui mamografi dilakukan dengan mengambil gambar X-ray masing-masing payudara melalui alat khusus. Dari pemeriksaan mamografi tersebut, dapat terlihat bila ada jaringan dalam payudara yang abnormal.

Meski ditemukan hal yang tidak normal pada payudara, belum tentu hal itu merupakan kanker. Biasanya dokter merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan lanjut untuk memastikan hal tersebut.

Metode pemeriksaan ini guna mendeteksi adanya sel kanker di payudara sedini mungkin. Lebih cepat sel kanker payudara ditemukan, lebih cepat pula penanganan dan pengobatan kanker payudara. Oleh karena itu, periksa mamografi pun baik bila rutin dilakukan.

American Cancer Society menganjurkan, sebaiknya pemeriksaan dini kanker payudara melalui mamografi dilakukan mulai usia 40 – 44 tahun. Pada usia inilah mamografi dapat mendeteksi bila ada payudara yang tidak normal pada seorang wanita.

Pada wanita usia 45 – 54 tahun, disarankan mulai melakukan pemeriksaan mamografi secara rutin. Paling tidak, lakukan pemeriksaan tersebut sekali dalam setahun. Baru pada wanita usia 55 tahun ke atas, pemeriksaan mamografi boleh dilakukan 2 tahun sekali. Namun, bagi yang mau melanjutkan pemeriksaan setahun sekali diperbolehkan.

Mendeteksi dini kanker payudara tetap dianjurkan meski seorang wanita terlihat tampak sehat dan ingin terus sehat hingga seterusnya. Sebab, periksa mamografi bisa mendeteksi tanda awal kanker payudara meski seorang wanita belum merasakan gejala apapun.

Kapan dapat berhenti periksa mamografi?

Meski dianjurkan untuk periksa mamografi secara rutin, tidak selamanya seorang wanita secara terus menerus melakukan deteksi kanker tersebut.

Pada usia 75 tahun, seorang wanita yang sehat boleh untuk berhenti periksa mamografi tahunan. U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) menyebut wanita yang lebih tua, yakni di atas 75 tahun, tidak terbukti memiliki risiko kanker yang potensial. Dengan begitu, melakukan mamografi pada usia tersebut dirasa sudah tidak lagi bermanfaat.

Selain faktor usia, ada dua kondisi yang membuat seseorang perlu menghentikan periksa mamografi. Rachel Freedman, seorang ahli onkologi di The Breast Oncology center, The Susan F. Smith Center for Women’s Cancers, Dana-Farber Cancer Institute (DFCI) menjelaskan kedua kondisi tersebut, yaitu :

  • Bila wanita yang sudah tua dan memiliki kondisi medis lainnya, seperti penyakit jantung atau stroke, terutama yang memengaruhi fisik dan mobilitas seseorang.
  • Wanita yang didiagnosa memiliki kanker payudara stadium rendah dan sedang melakukan perawatan untuk mencegah perkembangan kanker tersebut. Pada kategori ini, perawatan yang sedang dilakukan menurunkan risiko terbentuknya sel kanker payudara baru, sehingga mamografi dirasa sudah tidak lagi perlu dilakukan.

Kondisi yang perlu melanjutkan mamografi

Berbeda dengan kondisi di atas, ada beberapa kondisi bagi wanita perlu melanjutkan rutinas mamografinya meski sudah didiagnosa kanker payudara. The American Society of Clinical Oncology (ASCO) dan American Cancer Society mengatakan wanita yang pernah melakukan mastektomi atau lumpektomi perlu melakukan mamografi setiap tahun.

Hal ini dibutuhkan untuk mendeteksi apakah sel kanker tersebut kembali menyerang di payudara yang sama atau untuk mendeteksi pertumbuhan sel kanker baru di payudara lainnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Seberapa Sering Wanita Perlu Melakukan Tes Mamografi?

Rutin melakukan tes mamografi dapat mendeteksi dini kanker payudara. Namun, kapan perlu memulai dan seberapa sering tes mamografi perlu dilakukan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker Payudara, Health Centers 07/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Pewarna Rambut Permanen Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Selain dapat menimbulkan kerontokan parah, ternyata pewarna rambut juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kanker Payudara, Health Centers 04/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Metastase Kanker Payudara

Metastase atau penyebaran kanker payudara juga bisa disebut sebagai kanker payudara stadium 4. Temukan gejala hingga angka harapan hidupnya di sini!

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kanker Payudara, Health Centers 29/02/2020 . Waktu baca 7 menit

Apa Alat Thermal Scanner yang Dipakai untuk Mendeteksi COVID-19?

Beberapa bandara melakukan uji menggunakan thermal scanner sebagai antisipasi pencegahan coronavirus. Apa itu sebenarnya thermal scanner?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Coronavirus, COVID-19 18/02/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Tidur yang Sehat, Dengan Lampu Menyala atau Mati?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adinda Rudystina
Dipublikasikan tanggal: 23/07/2020 . Waktu baca 4 menit

Hubungan Harmonis Pengaruhi Tingkat Stres Pasien Kanker Payudara

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020 . Waktu baca 5 menit
merawat pasien kanker payudara

7 Tips Merawat Pasien Kanker Payudara dalam Pengobatan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18/04/2020 . Waktu baca 5 menit