Studi: Macetnya Jalanan Ibukota Meningkatkan Risiko Serangan Jantung

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26/03/2020 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Hidup di perkotaan membuat Anda mau tidak mau harus mengakrabkan diri dengan kemacetan. Ternyata tidak cuma bikin kita suntuk, stres, emosi, dan terlambat ke kantor, macet juga berpengaruh buruk untuk kesehatan. Penelitian membuktikan bahwa kemacetan dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Mengapa bisa begitu?

Jalanan macet tingkatkan risiko serangan jantung

keracunan gas co di dalam mobil

Penelitian membuktikan bahwa sebagian orang yang pernah mengalami serangan jantung menyatakan bahwa sebelumnya mereka terjebak dalam kemacetan. Temuan ini dilaporkan oleh para peneliti pada Konferensi Tahunan ke-49 American Heart Association dalam simposium Cardiovascular Disease Epidemiology and Prevention.

Annete Peters, Ph.D., penulis utama penelitian ini yang berasal dari Institute of Epidemiology, Jerman, menyatakan bahwa risiko orang sehat untuk mengalami serangan jantung akibat terjebak macet, baik berkendara sendiri atau naik transportasi umum, bisa 3,2 kali lebih tinggi daripada kelompok orang yang memang sudah berisiko tinggi terhadap penyakit itu (baik karena faktor usia, gaya hidup, maupun riwayat penyakit terkait masalah jantung lainnya).

Hasil penelitian menunjukkan sekitar delapan persen serangan jantung dalam kelompok orang sehat tersebut dipengaruhi oleh kemacetan lalu lintas yang dialami sebelum serangannya muncul. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko serangan jantung akibat kemacetan lima kali lebih tinggi ketimbang laki-laki. Namun, para peneliti belum begitu yakin apa penyebabnya.

Perlu dicatat bahwa penelitian ini tidak menyatakan bahwa macet adalah penyebab dari serangan jantung. Kemacetan hanya salah satu dari sekian banyak faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko Anda.

Kenapa?

hubungan darah tinggi dan serangan jantung

Untuk mengetahui penyebab pasti dari kemunculan serangan jantung setelah terjebak kemacetan, Peters dan rekannya melakukan uji lanjutan dan bekerja sama dengan para peneliti dari University of Rochester, New York.

Ada sekitar 120 relawan sehat yang diikutsertakan dalam penelitian ini. Para relawan kemudian dilengkapi dengan elektrokardiogram dan alat lain yang mampu mengukur paparan polusi udara dan juga kebisingan di jalanan.

Para peserta ini kemudian diminta untuk menjalankan rutinitas hariannya seperti biasa. Sayangnya, hasil penelitian belum tersedia sehingga belum bisa diketahui apa penyebab pastinya.

Namun, Peters menduga bahwa stres, kebisingan suara jalanan, dan polusi emisi gas buang kendaraan adalah faktor-faktor yang menyumbang kontribusi besar dalam meningkatkan risiko serangan jantung akibat kemacetan.

Saat macet, otomatis paparan polusi ini menjadi semakin banyak terhirup oleh tubuh. Tak hanya itu, karena stres pun memang membawa dampak negatif nyata pada tubuh secara keseluruhan.

Efek negatif polusi dan kebisingan pada kesehatan jantung

Dampak polusi udara

Polusi udara mengandung berbagai macam senyawa berbahaya untuk tubuh. Dikutip dari laman American Heart Association, Dr. Luepker, seorang ahli epidemiologi, menyatakan bahwa efek jangka pendek akut polusi cenderung menyerang orang-orang yang sudah lanjut usia dan sudah memiliki penyakit jantung.

Misalnya, orang dengan aterosklerosis berisiko tinggi terkena efek polusi secara langsung. Ketika polutan masuk ke dalam tubuh dan mengiritasi paru-paru serta pembuluh darah di sekitar jantung maka hal ini bisa memicu serangan jantung.

Polusi juga memiliki efek peradangan pada jantung yang menyebabkan adanya masalah kardiovaskular kronis. Dengan begitu, serangan jantung bisa dengan mudah muncul secara tiba-tiba.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Endokarditis

Endokarditis adalah infeksi bakteri yang menyerang endokardium, bagian dari organ jantung. Ketahui lebih lanjut gejala, penyebab, dan pengobatannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 30/06/2020 . 11 mins read

Apakah Seseorang yang Mengalami Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Aritmia merupakan jenis penyakit kardiovaskuler yang mempengaruhi denyut jantung. Lantas, apakah Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Aritmia 24/06/2020 . 5 mins read

Hati-hati Serangan Jantung Saat Bersepeda Terutama untuk Pemula

Bersepeda memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Tapi sebaiknya lebih berhati-hati karena bersepeda berlebihan bisa berisiko terkena serangan jantung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kebugaran, Hidup Sehat 24/06/2020 . 4 mins read

Obat Herbal untuk Penyakit Jantung Koroner, Aman atau Tidak?

Obat herbal untuk jantung koroner harus dilakukan dengan hati-hati. Apa saja obat herbal untuk penderita jantung koroner dan cara aman mengonsumsinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 mins read
kelainan katup jantung bawaan pada bayi

Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 7 mins read
menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 10 mins read
gagal jantung akut

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 5 mins read