Ciri-Ciri Luka Bernanah Plus Cara Tepat Mengobatinya

    Ciri-Ciri Luka Bernanah Plus Cara Tepat Mengobatinya

    Luka terbuka perlu dirawat dengan benar, terutama kebersihannya. Ini karena luka bisa mengundang bakteri yang ada di permukaan kulit. Bila bakteri berkembang biak tanpa kendali di sekitar luka, alhasil infeksi bakteri bisa terjadi. Luka tersebut bisa mengeluarkan nanah diikuti dengan gejala lainnya. Lantas, seperti apa ciri-ciri luka bernanah dan bagaimana cara mengobatinya?

    Tanda-tanda luka bernanah

    Merawat luka

    Adanya sayatan yang menimbulkan luka terbuka bisa mengundang terjadinya infeksi. Terutama jika luka tersebut tidak dirawat dengan tepat. Risikonya akan semakin meningkat jika luka berukuran cukup besar dan dalam.

    Kondisi ini semakin berisiko jika orang yang terluka memiliki masalah kesehatan, seperti diabetes, sirkulasi darah yang buruk, sistem kekebalan tubuh yang lemah, kuran mobilitis, berusia lanjut, dan mengalami kekurangan nutrisi.

    Semua kondisi tersebut bisa memperlambat pemulihan tubuh dari luka. Semakin lama luka sembuh, semakin besar kesempatan bakteri untuk berkembang bisa, sehingga risiko infeksi jadi lebih besar.

    Salah satu tanda terjadinya infeksi pada luka terbuka adalah keluarnya nanah. Nanah atau dikenal juga dengan istilah medis ekstrudat purulen (cairan puris) adalah cairan kental yang diproduksi sebagai respons peradangan tubuh terhadap infeksi.

    Cairan ini terdiri dari sel darah putih yang kalah melawan bakteri, bakteri yang masih hidup atau sudah mati, dan jaringan.

    Bila Anda perhatikan, warnanya putih kekuningan, tapi bisa juga berwarna cokelat atau hijau. Biasanya tidak berbau, tapi beberapa jenis bakteri yang bisa menginfeksi dapat menghasilkan nanah berbau busuk.

    Menurut Intenational Wound Consensus Update, luka bernanah tidak menjadi satu-satunya tanda infeksi. Berikut ini ada beberapa gejala lain yang biasanya menyertai infeksi pada luka.

    • Tercium bau tidak sedap dari luka.
    • Munculnya kerak kuning pada luka yang berasal dari nanah yang mengering.
    • Keropeng semakin membesar.
    • Kulit sekitar luka menjadi kemerahan, atau semakin bertambah merah. Lukanya semakin sakit dan sensitif. Selain itu, lukanya semakin membengkak dalam waktu 48 jam setelah luka terjadi. Kesemua ini merupakann tanda infeksi lokal.
    • Mengalami demam yang kadang disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening
    • Penyembuhan luka yang lebih lama.

    Komplikasi yang mungkin terjadi akibat luka bernanah

    perawatan luka diabetes

    Adanya nanah pada luka tidak boleh dibiarkan begitu saja. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan infeksi pada luka yang parah bisa menyebabkan komplikasi yang berujung dengan kecacatan bahkan kematian.

    Di bawah ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi jika luka yang mengeluarkan nanah bertambah parah.

    1. Tetanus

    Penyakit serius ini menyerang sistem saraf karena infeksi bakteri. Gejala khas dari tetanus adalah lockjaw atau trismus, yakni kekakuan pada otot rahang yang menyebabkan sulit membuka mulut.

    Gejala lain yang menyertai di antaranya kejang otot sering di punggung, perut dan ekstremitas kejang otot tiba-tiba yang menyakitkan, kesulitan menelan, kejang, sakit kepala, demam dan berkeringat, atau perubahan tekanan darah.

    Penyebab tetanus adalah infeksi bakteri Clostridium tetani pada luka terbuka. Awalnya bakteri yang masuk ke tubuh berkembang. Proses tersebut menimbulkan pelepasan racun yang disebut dengan tetanospasmin yang bisa merusak saraf yang mengontrol otot.

    Menurut WHO, masa inkubasi tetanus berkisaar 3-21 hari rata-rata 14 hari setelah terinfeksi. Penyakit ini merupakan kondisi darurat yang membutuhkan perawatan segera di Rumah sakit

    2. Gas gangrene

    Luka bernanah yang tidak diobati bisa berakhir dengan gangren, yakni kematian jaringan akibat kurangnya aliran darah karena infeksi serius. Kondisi ini berisiko tinggi terjadi pada orang yang memiliki masalah pembuluh darah atau aliran darah, seperti diabetes.

    Gas gangrene menimbulkan perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau keunguan, yang diikuti dengan pembengkakan, keluar nanah berbau busuk, dan mati rasa.

    3. Osteomyelitis

    Infeksi yang semakin bertambah parah bisa menyebar ke jaringan lainnya pada tubuh lewat aliran darah, salah satunya tulang. Kondisi ini disebut dengan osteomyelitis.

    Pada kebanyakan kasus, penyebab osteomyelitis adalah bakteri staphylococcus, jenis kuman yang biasa ditemukan di kulit atau di hidung. Orang dengan kondisi ini akan mengalami demam, nyeri hebat disertai pembengkakan pada tulang yang terinfeksi, dan tubuh lemah.

    4. Sepsis

    Komplikasi dari infeksi bernanah yang disebutkan di atas bisa bisa berujung dengan sepsis. Sepsis adalah keracunan darah akibat bakteri dalam jumlah besar masuk ke dalam aliran darah.

    Kondisi ini perlu penanganan medis secepatnya karena bisa berkembang menjadi syok septik yang menyebabkan kematian. Pada kondisi tersebut, terjadi penurunan tekanan darah yang menyebabkan organ bermasalah dan rusak fungsinya.

    Cara mengobati luka bernanah ringan di rumah

    gambar luka jenis luka pada kulit

    Agar terhindar dari komplikasi dan tentunya cepat sembuh, berikut beberapa langkah untuk merawat luka di rumah.

    1. Bersihkan luka bernanah

    Pada luka bernanah, Anda bisa membersihkan nanah atau pus dengan air bersih biasa atau air hangat. Jangan lupa untuk menggunakan kasa teril.

    Rasa nyeri dan pembengkakan di sekitar luka bisa diredakan dengan menempelkan kompres hangat. Anda bisa melakukan ini sembari membersihkan luka.

    Namun, jangan menempelkan kompres terlalu lama karena bisa meningkatkan kelembapan yang membuat luka jadi lebih lama mengering. Cukup lakukan 3 kali sehari, setiap sesinya selama 10 menit.

    2. Jaga luka tetap kering dan bersih

    Lingkungan yang lembap merupakan tempat yang sempurna bagi bakteri untuk berkembang biak. Oleh karena itu, luka bernanah jangan dibiarkan basah. Hindari merendam luka ke dalam air sebelum luka mengering.

    Setelah dibersihkan, keringkan dengan kasa steril kering, handuk, atau kain lembut yang bersih. Ganti perban atau kain penutup luka secara rutin agar luka tetap bersih

    3. Minum obat

    Rasa nyeri yang muncul bisa diredakan dengan paracetamol dan ibuprofen yang bisa Anda beli di apotek tanpa resep. Jika Anda sudah periksa ke dokter, dan sudah dipastikan terjadi infeksi bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik.

    Obat antibiotik tidak bisa Anda gunakan secara sembarangan. Baca aturan pakai atau dengarkan araha dokter saat menjelaskan dosis dan cara menggunakan antibiotik.

    4. Hindari hal-hal yang memperlambat proses penyembuhan

    Agar cepat pulih, hindari memencet luka yang bernanah. Jika sudah muncul koreng, Anda mungkin akan merasakan gatal.

    Pada tahap ini, Anda juga tidak disarankan untuk menggaruk atau mengeluopaskan keropeng. Kedua hal ini bisa memperlambat proses penyembuhan kulit dari luka.

    Kapan saya harus ke dokter?

    tulisan dokter

    Munculnya nanah pada luka menjadi peringatan bagi Anda agar segera periksa ke dokter. Apalagi jika Anda juga mengalami gejala seperti demam dan luka terasa lebih sakit serta lebih lunak bila disentuh setelah beberapa hari.

    Selain memahami gejala peringatan, Anda juga perlu mengetahui proses penyembuhan luka. Setelah luka terjadi, nyeri, pembengkakan, dan kemerahan akan memuncak pada hari kedua. Kemudian, pada hari keempat gejalanya akan semakin membaik. Dalam enam hari kedepan, luka dapat sembuh total.

    Jika Anda merasa ada yang salah atau mengkhawatirkan dari proses penyembuhan luka, ini bisa memperkuat alasan Anda untuk mengunjungi dokter.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Pisetsky, D.S. Pus: the Rodney Dangerfield of immunologyArthritis Res Ther 13, 131 (2011). https://doi.org/10.1186/ar3477

    Skin infections. (2020, May 22). Retrieved December 06, 2021, from https://www.cdc.gov/antibiotic-use/skin-infections.html?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fwww.cdc.gov%2Fantibiotic-use%2Fcommunity%2Ffor-patients%2Fcommon-illnesses%2Fskin-infections.html

    Sepsis. (2021, January 19). Retrieved December 06, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sepsis/symptoms-causes/syc-20351214

    Wound infection. (2021, October 21). Retrieved December 06, 2021, from https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/wound-infection/

    Home wound care do’s and don’ts. UCI health. Retrieved December 6, 2021, from https://www.ucihealth.org/blog/2018/10/wound-care

    Tetanus. (n.d.). Retrieved December 13, 2021, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tetanus

    Clinical practice – woundsme.com. (n.d.). Retrieved December 13, 2021, from https://www.woundsme.com/uploads/resources/a6f56d268bb9aeb6f5a1f05dab23931d.pdf

    Tetanus. (2021, June 15). Retrieved December 06, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tetanus/symptoms-causes/syc-20351625

    Gangrene. (2021, February 11). Retrieved December 06, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gangrene/symptoms-causes/syc-20352567

    Osteomyelitis. (2020, November 14). Retrieved December 06, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/osteomyelitis/symptoms-causes/syc-20375913

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui Oct 28
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa