home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

COVID-19 Bisa Dihadapi dengan Meratakan Kurva Pandemi, Apa Maksudnya?

COVID-19 Bisa Dihadapi dengan Meratakan Kurva Pandemi, Apa Maksudnya?

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Kampanye ‘flatten the curve’ atau meratakan kurva pandemi belakangan ramai di media sosial menyusul tingginya angka kasus COVID-19 di beberapa negara. Gerakan ini dinilai dapat menghambat penyebaran wabah secara efektif, bahkan menurunkan risiko kematian pasien yang positif terjangkit COVID-19.

Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, angka penderita COVID-19 telah meningkat berkali lipat dari sekitar 75.000 menjadi lebih dari 180.000 orang. Jika tiap individu mau mengambil bagian dalam gerakan ini, wabah COVID-19 sebenarnya sangat mungkin diatasi. Lantas, apa yang dimaksud dengan meratakan kurva pandemi?

Meratakan kurva pandemi, social distancing, dan penyebaran COVID-19

social distance

Sejak merebaknya wabah COVID-19, pemerintah di berbagai negara telah mengimbau masyarakat agar melakukan kegiatan di rumah dan tidak bepergian setidaknya selama 14 hari ke depan. Imbauan ini pun disambut dengan berbagai respons dari masyarakat.

Banyak perusahaan mengizinkan karyawannya untuk bekerja di rumah masing-masing. Sekolah meliburkan muridnya, perguruan tinggi mengadakan kelas online, dan banyak acara besar dibatalkan. Tempat ibadah, restoran, dan toko-toko pun ditutup sementara. Ini sebenarnya merupakan bentuk nyata dari social distancing.

Social distancing adalah upaya menghambat penyebaran penyakit dengan membatasi kontak terhadap orang lain, menutup fasilitas umum, dan menghindari keramaian. Para ahli epidemiologi melihat social distancing sebagai upaya untuk meratakan kurva pandemi, atau ‘flatten the curve’.

Drew Harris, peneliti dari Thomas Jefferson University of Philadelphia, membuat kurva pandemi untuk menjelaskan pentingnya social distancing dalam penanganan wabah. Pada grafiknya, Harris menggambarkan bagaimana social distancing dapat mengurangi jumlah orang yang terinfeksi dan menjaga kapasitas rumah sakit agar tetap memadai.

Mengapa kita perlu meratakan kurva pandemi?

Kurva pandemi merujuk pada perkiraan jumlah orang yang akan terinfeksi COVID-19 selama jangka waktu tertentu. Kurva ini tidak memprediksi berapa banyak orang yang akan terinfeksi, tapi digunakan untuk memperkirakan kemungkinan penyebaran virus.

Berikut kurva pandemi yang dimaksud oleh Harris.

Pada kurva tersebut, garis hijau menunjukkan kapasitas rumah sakit. Titik-titik kuning dan merah di bawah garis hijau melambangkan pasien COVID-19 yang mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, titik merah di atas garis hijau adalah pasien yang tidak tertampung oleh rumah sakit.

Bayangkan rumah sakit sebagai kereta, dan ini adalah waktu sibuk ketika penumpang sedang padat-padatnya. Kapasitas kereta amat terbatas sehingga begitu kereta penuh, para penumpang harus menunggu sangat lama. Bahkan, mungkin saja ada penumpang yang tidak bisa diangkut oleh kereta tersebut.

Rumah sakit juga menghadapi masalah yang sama. Setiap hari, rumah sakit menerima puluhan pasien dengan berbagai kondisi. Kini, rumah sakit bertambah penuh akibat membludaknya pasien COVID-19. Inilah akar masalah yang menjadi alasan mengapa kita harus meratakan kurva pandemi.

Jika banyak orang terjangkit COVID-19 secara bersamaan, rumah sakit tidak akan bisa menampung pasien. Jumlah pasien yang meninggal dunia pun akan bertambah banyak. Pasien yang tidak terdeteksi juga bisa menulari orang lain tanpa sadar.

physical distancing

Risiko penularan akan menurun bila orang-orang melakukan social distancing. Dengan tetap berada di rumah, Anda memperkecil kemungkinan tertular atau menulari orang lain. COVID-19 masih dapat menyebar, tapi penyebarannya tidak separah sebelumnya.

Jumlah pasien yang terinfeksi COVID-19 bisa jadi tetap sama, tapi para tenaga medis memiliki lebih banyak waktu untuk merawat pasien. Mereka juga menghadapi tekanan yang lebih ringan dibandingkan ketika merawat banyak pasien sekaligus.

Titik-titik merah pada grafik yang awalnya menanjak curam akan menjadi lebih landai. Secara perlahan, sebagian besar atau seluruh titik tersebut akan berada di bawah garis hijau. Ini berarti tiap pasien COVID-19 bisa memperoleh perawatan medis yang dibutuhkan.

Apakah cara ini pernah terbukti bekerja?

coronavirus covid-19 flu babi

Tahun 1918, terjadi pandemi flu Spanyol. Dua negara bagian AS, yakni Philadelphia dan St. Louis, mengatasinya dengan cara yang berbeda. Pemerintah Philadelphia saat itu mengabaikan peringatan wabah dan tetap mengadakan parade besar-besaran.

Hanya dalam waktu 48-72 jam, ribuan warga Philadelphia terjangkit flu Spanyol dan meninggal dunia. Pada akhirnya, sekitar 16.000 orang di wilayah tersebut meninggal dalam kurun waktu enam bulan.

Sementara itu, pemerintah St. Louis segera memberlakukan karantina. Mereka menutup sekolah-sekolah, mendorong perilaku hidup bersih, dan menerapkan social distancing. Hasilnya, hanya terdapat 2.000 kasus kematian di wilayah tersebut.

Wabah COVID-19 hingga Rabu (18/3) telah menyebabkan lebih dari 8.000 kematian di seluruh dunia, seperti dilansir dari data Worldometer. Langkah nyata yang kini dapat dilakukan adalah meratakan kurva pandemi guna menghambat penyebaran penyakit.

Lakukan social distancing dengan tetap berada di rumah dan menghindari keramaian. Selain itu, pastikan Anda juga melakukan upaya pencegahan seperti mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, dan menjaga kesehatan agar manfaatnya lebih optimal.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

COVID-19 Coronavirus Outbreak. (2020). Retrieved 18 March 2020, from https://www.worldometers.info/coronavirus/

Coronavirus: What is ‘flattening the curve,’ and will it work? (2020). Retrieved 18 March 2020, from https://www.livescience.com/coronavirus-flatten-the-curve.html

NPR Choice page. (2020). Retrieved 18 March 2020, from https://www.npr.org/sections/health-shots/2020/03/13/815502262/flattening-a-pandemics-curve-why-staying-home-now-can-save-lives

Why outbreaks like coronavirus spread exponentially, and how to “flatten the curve”. (2020). Retrieved 18 March 2020, from https://www.washingtonpost.com/graphics/2020/world/corona-simulator/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 30/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x