home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Cegah Coronavirus, Saatnya Berhenti Mengkonsumsi Daging Hewan Liar

Cegah Coronavirus, Saatnya Berhenti Mengkonsumsi Daging Hewan Liar

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Hasil investigasi padaJournal of Medical Virology mengungkapkan bahwa wabah novel coronavirus yang kini menyerang belasan negara berasal dari ular. Namun, dugaan ini ditampik oleh peneliti dari Pasteur Institute of Shanghai, Tiongkok. Alih-alihberasal dari ular, mereka meyakini virus inimuncul akibat konsumsi daging hewan liar.

Tiongkok bukanlah satu-satunya negara yang memelihara kebiasaan mengonsumsi daging hewan liar. Banyak negara di berbagai belahan dunia pun menerapkan hal yang sama, tidak terkecuali Indonesia. Padahal, konsumsi daging hewan liar tidak hanya mendukung penyebaran wabah novel coronavirus, tapi juga penyakit lainnya.

Bisa sebarkan novel coronavirus, kenapa hewan liar tetap digemari?

Sumber: Pinterest

Pasar Huanan yang disinyalir menjadi tempat awal munculnya novel coronavirusbelakangan diketahui tak hanya menjual makanan laut, tapi juga 112 jenis hewan liar. Jenis hewan yang dijual mulai dari tikus, ular, dan kelelawar, hingga yang lebih tak biasa lagi seperti landak dan burung merak.

Pasar terbesar di Kota Huanan ini juga menyediakan makanan yang diolah dari daging hewan liar tersebut. Salah satu menu hewan liar favorit para pengunjung adalah sup kelelawar, dan hidangan ini disebut-sebut menjadi awal mula penyebaran novel coronavirus.

Sejak merebaknya wabah coronavirus, banyak pedagang di sana telah menutup keterangan menjual hewan-hewan liar pada toko mereka. Meski demikian, hal ini tidak menyurutkan minat masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi daging hewan liar.

Kebiasaan mengonsumsi daging hewan liar memang telah melekat di berbagai negara, begitu pun dengan beberapa wilayah di Indonesia. Padahal, minimnya kebersihan membuat pasar hewan liar menjadi tempat potensial untuk penyebaran penyakit, termasuk infeksi novel coronavirus.

Sumber: Change

Zhenzhong Si, peneliti asal Tiongkok di University of Waterloo, Kanada, mengungkapkan beberapa alasan mengapa pasar hewan liar tumbuh subur di negara asalnya. Menurutnya, berikut sederet faktor yang berperan penting:

1. Dianggap sebagai makanan lezat dan ciri khas wilayah

Bagi kelompok masyarakat tertentu, daging hewan liar dianggap sebagai makanan yang lezat dan merupakan ciri khas wilayah mereka. Daging hewan liar juga dinilai lebih bernutrisi dibandingkan hewan ternak, sebab hewan liar hidup secara alami tanpa campur tangan manusia.

Sayangnya, lingkungan hidup hewan liar yang alami tersebut mungkin turut mendukung munculnya novel coronavirus. Pasar hewan liar juga merupakan tempat berkumpulnya berbagai virus sehingga ada kemungkinan bagi coronavirus biasa untuk bermutasi menjadi berbahaya.

2. Menjadi simbol kekayaan

Si turut mengatakan bahwa daging hewan liar sering kali dilihat sebagai simbol kekayaan. Pasalnya, daging hewan liar dijual dengan harga yang mahal dan lebih sulit didapatkan. Namun, ia tidak menyebutkan berapa harga yang dipatok para pedagang di pasar tersebut.

3. Menjadi bagian dari pengobatan tradisional

Konsumsi daging hewan liar masih sering diterapkan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Tidak sedikit yang meyakini bahwa daging hewan liar dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit.

4. Rasa penasaran wisatawan

Satu lagi faktor yang mendukung pertumbuhan pasar hewan liar adalah para wisatawan yang penasaran. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan pasar hewan liar turut menjadi daya tarik bagi wisatawan. Padahal, jika mereka terjangkit novel coronavirus di pasar hewan liar, risiko penyebaran ke tempat asal mereka akan semakin besar.

Pandangan terkait keberadaan pasar hewan liar masih sulit diubah sekalipun zaman telah berkembang pesat. Tanpa kebijakan yang ketat, pasar hewan liar masih akan tetap bertahan dan meningkatkan risiko penularan sejumlah penyakit, tidak terkecuali novel coronavirus.

Pasar hewan liar dan penyebaran novel coronavirus

Sumber: Business Insider Singapore

Novel coronavirus yang diduga berasal dari pasar hewan liar di Wuhan memiliki kemiripan dengan virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Penyakit SARS sempat mewabah pada tahun 2003 dan menyebar ke lebih dari 20 negara.

Seperti coronavirus lainnya, virus SARS-CoV diduga menyebar dari hewan ke manusia. Virus ini awalnya menginfeksi kelelawar, lalu menular antarspesies ke musang dan akhirnya menginfeksi manusia di provinsi Guangdong, Tiongkok bagian selatan.

Para ilmuwan yang meneliti novel coronavirus dari Tiongkok meyakini bahwa virus ini juga menginfeksi hewan liar yang sama. Meski analisis genetik menunjukkan kaitan dengan ular, virus yang dinamai 2019-CoV ini lebih berkemungkinan menjangkiti mamalia seperti tikus dan kelelawar.

Sekitar 70 persen dari seluruh penyakit infeksi yang baru muncul berasal dari hewan liar. Risiko penyebaran patogen (bibit penyakit) pun bertambah besar karena habitat alami hewan-hewan tersebut terganggu oleh kegiatan manusia.

Selain itu, ribuan patogen dari berbagai jenis hewan saling bercampur di pasar hewan liar. Kondisi ini membuka kesempatan bagi virus, bakteri, dan parasit untuk bermutasi menjadi patogen yang jauh lebih berbahaya dan belum ditemukan vaksinnya.

Patogen yang tadinya menjangkiti hewan bisa saja berpindah ke manusia. Para ilmuwan menduga bahwa novel coronavirus menyebar dengan cara yang sama, yakni ketika manusia mengonsumsi daging hewan liar. Virus yang tadinya menjangkiti hewan liar pun berpindah ke manusia.

Indonesia juga memiliki pasar hewan liar

Sumber: BBC

Selain Tiongkok, beberapa negara di Asia Tenggara pun belum terlepas dari risiko penularan virus inikarena memiliki pasar hewan liar. Salah satu pasar hewan liar yang terdapat di Indonesia ada di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Di pasar ini, Anda dapat memperoleh daging kelelawar, tikus, ular, dan hewan lainnya yang tidak bisa didapatkan di pasar biasa. Daging berbagai hewan liar tersebut dijual dengan rentang harga yang beragam.

Meski belum sepenuhnya dipastikan berasal dari pasar hewan liar, wilayah yang memiliki pasar seperti ini lebih berisiko terjangkit novel coronavirus atau bahkan patogen lain yang lebih berbahaya.

Hingga saat ini, tidak ada laporan yang menyatakan bahwa pasar hewan liar di Indonesia menjadi tempat berkembangnya novel coronavirus. Namun, masyarakat disarankan untuk tidak mengonsumsi daging hewan liar untuk mengurangi risiko terinfeksi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ji, W., Wang, W., Zhao, X., Zai, J., & Li, X. (2020). Homologous recombination within the spike glycoprotein of the newly identified coronavirus may boost cross‐species transmission from snake to human. Journal Of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25682.

Why ‘Wet Markets’ Persisted In China Despite Disease And Hygiene Concerns. https://www.npr.org/2020/01/22/798644707/why-wet-markets-persisted-in-china-despite-disease-and-hygiene-concerns

Why snakes probably aren’t spreading the new China virus. (2020). Retrieved 24 January 2020, from https://www.nature.com/articles/d41586-020-00180-8

Why wild animals are a key ingredient in China’s coronavirus outbreak. (2020). Retrieved 24 January 2020, from https://www.scmp.com/news/china/society/article/3047238/why-wild-animals-are-key-ingredient-chinas-coronavirus-outbreak

Mystery virus found in Wuhan resembles bat viruses but not SARS, Chinese scientist says. (2020). Retrieved 24 January 2020, from https://www.sciencemag.org/news/2020/01/mystery-virus-found-wuhan-resembles-bat-viruses-not-sars-chinese-scientist-says

On the menu at Wuhan virus market: Rats and live wolf pups. (2020). Retrieved 24 January 2020, from https://www.channelnewsasia.com/news/asia/wuhan-pneumonia-virus-wholesale-market-animal-trading-12302476

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Tanggal diperbarui 27/01/2020
x