Spasmofilia, Kelainan Saraf Motorik yang Membuat Otot Tak Henti Berkedut

Oleh

Spasmofilia mungkin bukan istilah yang terdengar akrab di telinga Anda. Tapi berdasarkan data pengamatan awal di RSUP Dr. Kariadi Semarang, pasien spasmofilia umumnya didominasi oleh kalangan muda di usia produktif, antara usia 14-35 tahun. Mungkin Anda atau teman Anda punya kondisi ini namun punya informasi terbatas tentang apa penyebab atau bagaimana cara mengobati spasmofilia. Simak artikel ini untuk cari tahu lebih lanjut soal apa itu spasmofilia.

Apa itu spasmofilia?

Spasmofilia adalah suatu kondisi gangguan saraf motorik yang menunjukkan sensitivitas yang abnormal terhadap rangsangan elektrik ataupun mekanik. Spasmofilia seringnya ditandai dengan kekakuan otot, kram, atau kedutan di bagian tubuh tertentu yang diikuti/didahului dengan serangan kecemasan atau serangan panik. Jika kondisinya parah, kaku otot bisa menyebabkan kejang.

Apa penyebab spasmofilia?

Dokter seringkali menghubungkan spasmofilia dengan hipokalsemi, yaitu turunnya kadar kalsium dalam darah. Penyebab kekurangan kalsium, diantaranya adalah asupan kalsium yang rendah, diare, kekurangan vitamin D, hipoparatiroid (kekurangan hormon paratiroid), hipoalbumin (kekurangan protein albumin) akibat penyakit hati kronis (sirosis), malnutrisi (kekurangan kalori protein), pankreatitis (radang di pankreas), gagal ginjal kronis, dan sepsis (infeksi berat menyeluruh).

Selain karena pola makan yang buruk, spasmofilia juga dapat disebabkan oleh faktor keturunan. Bentuk yang paling umum dari faktor keturunan adalah serangan panik yang dialami oleh orangtua.

Apa tanda dan gejala spasmofilia?

Seseorang yang mengalami spasmofilia biasanya akan mengalami gejala psikis maupun fisik. Secara umum, gejala fisik yang seringkali dialami oleh penderita spasmofilia adalah kekakuan otot, kedutan otot pada tangan/kaki, kram otot — pada lambung, punggung, dan leher, serta rasa sedak di dada. Namun secara khusus, bentuk gejala yang dialami penderita tergantung pada organ tubuh yang terserang, seperti:

  • Jika yang terserang adalah bagian dada, maka akan mengalami kram di otot dada. Gejala yang dialami akan cenderung sama dengan penyakit jantung koroner, seperti nyeri dada di sebelah kiri, susah bernapas, detak jantung meningkat, hiperventilasi, dan berkeringat banyak.
  • Jika yang terserang otot leher, maka akan mengalami kaku di leher, nyeri kepala, mudah berkeringat, gelisah, depresi, dan kejang.
  • Jika yang terserang otot dinding perut, maka akan mengalami gejala yang mirip dengan sakit maag atau gastritis, seperti nafsu makan turun, nyeri di ulu hati, mual, dan muntah.

Sedangkan gejala psikis yang sering dialami oleh penderita spasmofili adalah serangan panik, depresi dan rasa cemas. Hal tersebut dapat terjadi karena pasien cenderung berprasangka buruk terhadap sesuatu hal, dan merasa takut berlebihan terhadap sesuatu yang akan terjadi. Mereka selalu berpikir bahwa hal yang mereka takutkan akan benar-benar terjadi. Akibatnya, mereka akan cenderung mengalami insomnia, tidur gelisah, dan mengalami mimpi buruk.

Diagnosis spasmofilia oleh dokter

Untuk bisa mengetahui pasti apakah kejang otot yang Anda alami adalah spasmofilia, maka dokter perlu menjalankan rangkaian tes berikut:

  • Chvostek’s Sign, merupakan pemeriksaan dengan cara menyentuh pipi atau memukul ringan 2 cm didepan Tragus telinga (bagian telinga yang menonjol kecil di daerah pipi/jambang);
  • Trousseau’s sign, dengan cara membuat iskemi di daerah lengan saat mengukur tekanan darah. Tes ini bertujuan untuk melihat rata-rata sistolik dan diastolik dengan mempertahankan tekanan darah tersebut beberapa menit;
  • Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar kalsium/magensium darah;
  • Pemeriksaan penunjang dengan EMG (elektromiografi). Pemeriksaan ini bergradasi sesuai dengan kadar kalsium dalam darah, yaitu : (1) Grade 1 : kedutan di sudut bibir, (2) Grade 2 : kedutan di hidung, (3) Grade 3 : kedutan di mata, dan (4) Grade 4 : kedutan di otot-otot wajah. Pemeriksaan ini berkaitan dengan biperventilasi (pernapasan yang cepat). Dan, tanpa pemeriksaan ini, diagnosis spasmofili tidak dapat ditentukan.

Hasil dari pemeriksaan adalah diketahuinya grade spasmofilia yang Anda miliki, yaitu :

  • Ringan (1 : positif 1)
  • Sedang (II : positif 2),
  • Berat (III : positif 3)
  • Amat berat (IV : positif 4)

Penanganan medis untuk spasmofilia

Secara umum, penderita spasmofili dapat dirawat lewat rawat jalan atau inap dan diberikan obat yang mengandung kalsium/magnesium dan obat penenang. Selain itu, hal yang perlu diperhatikan bagi penderita spasmofilia adalah dengan makan makanan yang banyak mengandung kalsium, seperti susu, telur, ikan, sayur dan buah, olahraga teratur, dan relaksasi dengan pijat/fisioterapi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Mei 4, 2017 | Terakhir Diedit: Mei 2, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca