Mengenal Prostatektomi, Operasi untuk Kanker Prostat dan Pembesaran Prostat Jinak (BPH)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 08/01/2018 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Salah satu pengobatan untuk kanker prostat atau benign prostate hyperplasia (BPH) adalah prostatektomi. Operasi ini dilakukan untuk mengangkat kelenjar prostat yang bermasalah. Ingin mengetahui seluk-beluk prosedur ini lebih lanjut? Simak ulasannya berikut ini.

Sekilas mengenai prostatektomi

Prostatektomi adalah prosedur operasi untuk mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar prostat akibat adanya penyakit kanker prostat atau benign prostate hyperplasia (BPH). Operasi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, bergantung pada kondisi pasien. Untuk kanker prostat biasanya akan dilakukan prostatektomi radikal, sedangkan untuk BPH akan dilakukan prostatektomi sederhana.

Prostatektomi radikal

Operasi ini dilakukan sebagai pengobatan kanker prostat dengan mengangkat seluruh kelenjar prostat, vesikula seminalis, dan beberapa jaringan sekitarnya, termasuk kelenjar getah bening. Ada beberapa teknik yang dilakukan dalam prostatektomi radikal, seperti:

1. Prostatektomi radikal terbuka

Ini adalah operasi terbuka yang dilakukan oleh ahli bedah dengan membuat sayatan untuk mencapai kelenjar prostat. Sayatan dapat dibuat di di bagian bawah perut atau disebut juga dengan pendekatan retropubik dan di perineum antara anus dan skrotum atau disebut dengan pendekatan perineum. Pemulihan lebih cepat terjadi pada pendekatan perineum daripada pendekatan retropubik. Dibanding jenis operasi prostat lainnya, operasi retropubik ini lebih rendah risiko terjadinya kerusakan saraf yang dapat menyebabkan masalah pada pengendalian kandung kemih dan ereksi.

2. Prostatektomi radikal laparoskopi

Operasi ini dilakukan dengan membuat beberapa sayatan kecil di perut dengan bantuan alat laparoskopi yang dimasukkan ke dalam salah satu sayatan tersebut. Pengangkatan kelenjar prostat dilakukan dengan menggunakan tangan.

3. Robot-assisted radical prostatectomy

Tidakan ini sama dengan laparoskopi, namun dibantu dengan lengan robot. Robot tersebut membantu menerjemahkan gerakan tangan dokter bedah dari alat pengendali jarak jauh (remote) menjadi tindakan yang lebih halus dan tepat. Operasi ini hanya dilakukan oleh dokter yang sudah terlatih.

Meski prostatektomi terbuka dapat menghilangkan semua sel kanker, pastikan untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Hal ini dilakukan sebagai deteksi dini jika kanker terjadi kembali.

Ada beberapa risiko yang mungkin terjadi pada pasien, misalnya:

  • Urine berdarah
  • Cedera pada rektum
  • Limfokel (komplikasi rusaknya sistem limfatik)
  • Infeksi pada saluran kemih
  • Disfungsi ereksi (impotensi)
  • Terjadinya penyempitan uretra
  • Tidak dapat mengontrol buang air kecil (inkontinensia urine)

Prostatektomi sederhana

Proses operasi ini berbeda dengan prostatektomi radikal karena tidak mengangkat seluruh prostat, tapi memudahkan aliran urine yang tersumbat. Prostatektomi sederhana umumnya direkomendasikan untuk pria dengan gejala kencing yang cukup parah dan pembesaran kelenjar prostat, tapi bukan kanker prostat. Selain itu, ada beberapa gejala lain, seperti:

  • Kesulitan buang air kecil
  • Infeksi saluran kemih
  • Kencing melambat
  • Ketidakmampuan untuk buang air kecil
  • Makin sering buang air kecil di malam hari
  • Sering terdesak untuk buang air kecil

Dilansir dari Mayo Clinic, ahli urologi di Mayo Clinic menyarankan untuk mengatasi gejala pembesaran prostat dapat dilakukan dengan menggunakan teknik endoskopi lanjut, tanpa prostatektomi terbuka, laparoskopi, atau laparoskopi dengan robot.

Ada beberapa risiko yang bisa terjadi dari prosedur ini, di antaranya adalah:

  • Terjadi penyempitan uretra
  • Urine berdarah
  • Tidak dapat mengontrol buang air kecil (inkontinensia urine)
  • Orgasme kering
  • Adanya cedera pada struktur yang berdekatan

faktor risiko kanker prostat

Apa saja yang harus dipersiapkan ketika akan melakukan operasi?

Sebelum operasi, dokter mungkin akan melakukan tes sistoskopi untuk melihat keadaan uretra dan kandung kemih. Kemudian, tes darah, tes antigen spesifik prostat (PSA), tes rektal digital, dan biopsi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan harus dikonsultasikan kepada dokter, seperti penggunaan obat bebas atau suplemen yang pasien gunakan atau alergi yang dimiliki pasien, terutama pada penggunaan obat-obatan tertentu.

Sebelum dilakukan operasi, pasien harus puasa dari makan atau minum pada waktu tertentu juga dilakukan prosedur enema (pemasukan cairan ke dalam usus melalui anus untuk merangsang pasien untuk buang air besar sehingga usus menjadi bersih).

Yang perlu diperhatikan oleh pasien setelah operasi:

  • Pasien bisa memulai aktivitas kembali, tapi secara bertahap selama empat sampai enam minggu.
  • Pasien tidak bisa mengemudi setidaknya selama beberapa hari. Jangan mengemudi sampai kateter pasien dilepaskan atau menggunakan obat nyeri lagi.
  • Pasien perlu menemui dokter beberapa kali untuk check up sekitar enam minggu dan dilanjutkan setelah beberapa bulan.
  • Pasien bisa melanjutkan aktivitas seksual setelah pulih dari operasi. Pada prostatektomi sederhana, pasien masih bisa mengalami orgasme saat berhubungan seks.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

8 Pilihan Pengobatan untuk Menyembuhkan Kanker Prostat

Kanker prostat sering menyebabkan kematian pada pria. Supaya tidak bertambah parah, cari tahu cara mengobati kanker prostat berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Hidup Sehat, Tips Sehat 19/10/2019 . 5 menit baca

Operasi Usus Buntu (Appendektomi)

Usus buntu yang mengalami infeksi dan berisiko pecah harus dikeluarkan lewat operasi. Apa saja yang harus Anda ketahui sebelum masuk kamar operasi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Operasi A-Z, Kesehatan A-Z 03/09/2019 . 7 menit baca

Benarkah Penderita Penyakit Crohn Berisiko Terkena Kanker Prostat?

Ternyata, terdapat resiko terkena kanker prostat pada penderita penyakit crohn. Nah, mengapa ya hal tersebut dapat terjadi?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Fakta Unik 25/06/2019 . 4 menit baca

6 Manfaat Daun Kucai untuk Kesehatan (Psstt.. Bisa Mencegah Kanker!)

Daun kucai yang seing menghiasi mangkok bubur ayam atau dijadikan campuran isi lumpia ternyata bermanfaat untuk menurunkan kolesterol, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Nutrisi, Hidup Sehat 17/03/2019 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca
tummy tuck adalah operasi perut

Prosedur Tummy Tuck, Menciptakan Perut yang Rata dan Kencang dengan Operasi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 27/04/2020 . 4 menit baca
infertilitas pada pria akibat kanker prostat

Benarkah Pria Tidak Subur atau Infertil Setelah Operasi Kanker Prostat?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/04/2020 . 4 menit baca

3 Jenis Olahraga yang Dapat Dilakukan Penderita Penyakit Prostat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 15/01/2020 . 4 menit baca