Obat Medis dan Alami untuk Mengatasi Keracunan Makanan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 19 September 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Keracunan makanan sering terjadi akibat jajan sembarangan karena mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, parasit, atau virus. Selain itu, Anda juga dapat mengalami keracunan makanan setelah makan daging yang kurang matang atau mentah seperti daging steak dengan tingkat kematangan rare, atau sushi dan makanan laut mentah lainnya yang bisa langsung dimakan. Jika sudah telanjur terjadi, apa saja obat keracunan makanan yang bisa dikonsumsi?

Obat alami untuk atasi keracunan makanan

Gejala keracunan makanan biasa muncul dalam beberapa jam setelah Anda makan atau minum sesuatu yang terkontaminasi kuman. Namun umumnya, mengatasi keracunan makanan tidak perlu langsung dengan obat medis jika tarafnya ringan. Pada dasarnya kondisi ini bisa sembuh sendiri dalam 1 sampai 2 hari ke depan. 

Namun, Anda bisa mencoba beberapa obat alami ini agar lebih cepat sembut dari keracunan makanan:

1. Air

Air mineral adalah obat alami untuk mencegah risiko dehidrasi akibat keracunan makanan. Air dapat membantu mengisi ulang cairan tubuh yang terbuang lewat muntah dan diare yang Anda alami.

Selain air putih biasa, Anda juga bisa penuhi kembali cairan tubuh dengan minum kuah hangat seperti sop ayam atau sayur bayam bening. Namun, hindari makanan berkuah yang pedas, bersantan, dan berminyak. 

2. Makanan rendah serat

Nasi putih, roti tawar panggang, dan pisang juga bisa menjadi obat alami untuk mengatasi keracunan makanan. Makanan-makanan tersebut rendah serat yang mudah dicerna usus ketika sedang meradang.

Selain itu, pisang dan nasi merupakan makanan tinggi karbohidrat yang membantu menghasilkan lebih banyak energi untuk melawan penyakit. 

3. Teh jahe

Menurut penelitian di tahun 2017 dari jurnal Nutrition, jahe dapat dijadikan obat alami untuk meredakan mual yang Anda rasakan saat keracunan makanan.

Anda bisa meracik teh jahe hangat untuk mendapatkan manfaat ini. Caranya, kupas bersih jahe seukuran 1-4 cm dan rebus dalam panci berisi air sampai mendidih. Minum teh jahe sebanyak 1-2 kali sehari.  

4. Makanan probiotik

Setelah kondisi perut mulai membaik, Anda boleh mencoba makanan tinggi probiotik sebagai obat keracunan makanan alami.

Makanan tinggi probiotik mengandung bakteri baik yang bisa menyeimbangkan bakteri jahat di dalam usus. Probiotik juga dapat membantu tubuh Anda meregenerasi bakteri sehat yang hilang dan meningkatkan kerja sistem pencernaan serta sistem imun tubuh.

Anda bisa mengonsumsi makanan probiotik yang mudah, seperti yogurt atau tempe yang direbus. 

5. Istirahat 

Istirahat di rumah adalah salah satu perawatan alami yang bisa Anda lakukan saat terserang keracunan makanan.

Saat istirahat tubuh akan memperbaiki jaringan dalam yang rusak karena diserang infeksi virus dan bakteri.

Tubuh juga butuh suplai energi yang cukup untuk melawan keracunan makanan, dan itu bisa Anda dapatkan dari istirahat. 

Segera ke dokter apabila mengalami gejala berikut

Gejala keracunan makanan yang khas memang hanya sekadar muntah dan diare. Namun jika gejala keracunan makanan tidak juga membaik setelah 1-2 hari, sebaiknya segera ke dokter untuk mendapatkan obat yang tepat.

Keracunan makanan yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan dehidrasi yang risikonya fatal.

Segera ke IGD rumah sakit terdekat apabila Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala keracunan makanan parah seperti berikut ini:

  • Mulut terasa sangat kering
  • Rasa haus yang ekstrem
  • Kencing sedikit, atau tidak sama sekali kencing
  • Air kencing warnanya gelap
  • Detak jantung cepat
  • Tekanan darah rendah
  • Kepala terasa pusing. Terutama ketika beranjak dari rebahan ke duduk atau berdiri, atau dari duduk ke berdiri.
  • Linglung atau kebingungan
  • Ada darah di muntah atau di feses saat buang air besar
  • Pandangan kabur 
  • Diare berlangsung selama lebih dari 3 hari
  • Nyeri hebat atau kram di perut Anda
  • Demam lebih dari 38° Celsius
  • Tangan kesemutan
  • Otot lemas 

Obat keracunan makanan di rumah sakit

Pada kasus yang parah, keracunan makanan mungkin perlu diobati dokter karena risikonya bisa fatal apabila sampai kena dehidrasi. Orang tua usia lanjut dan anak-anak adalah yang paling berisiko mengalami dehidrasi.

Berikut adalah beberapa obat keracunan makanan yang akan diberikan di rumah sakit:

1. Rehidrasi oral

Dikutip dari Panduan Klinis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pengobatan lini pertama di rumah sakit untuk keracunan makanan adalah dengan rehidrasi.

Rehidrasi akan diberikan dengan obat atau suplemen yang mengandung cairan elektrolit (natrium dan glukosa), umumnya berupa oralit.

Dokter juga mungkin akan memasangkan infus yang mengandung larutan natrium klorida isotonik, dan larutan Ringer Laktat.

Obat rehidrasi oral dari dokter akan bekerja lebih cepat mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang saat Anda mengalami keracunan makanan. 

2. Obat jenis adsorben

Selain itu, Anda kemungkinan akan diberikan obat adsorben seperti kaopectate dan aluminium hidroksida. Obat ini membantu memadatkan feses apabila diare akibat keracunan makanan berlangsung lama. Obat ini hanya digunakan apabila kondisi diare Anda terjadi lebih dari beberapa hari. 

3. Obat antibiotik

Obat antibiotik seperti cotrimoxazole atau cefixime mungkin akan diberikan dokter jika penyebab keracunan makanan Anda adalah bakteri tertentu, misalnya infeksi Salmonella typhii. Obat tersebut bekerja menghambat pertumbuhan bakteri yang masuk menginfeksi tubuh.

Anda juga dapat diobati dengan antibiotik apabila gejala keracunan makanan disebabkan oleh infeksi parasit.

Namun jika penyebab keracunan makanan Anda karena infeksi virus, dokter akan memberikan perawatan lain. Infeksi virus tidak dapat ditangani dengan obat antibiotik. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Perawatan Paliatif Sebagai Pengobatan Penyakit Kanker

Perawatan paliatif adalah perawatan suportif yang umumnya dijalani pasien kanker. Namun, seperti apa sih perawatan ini? Pelajari selengkapnya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kanker 18 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Cara untuk Mengurangi Mata Minus (Rabun Jauh)

Bagi Anda yang memiliki mata minus, pasti ingin lepas dari ketergantunga kacamata atau lensa. Lalu apakah mungkin mengurangi mata minus? Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Tips Sehat 17 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Infeksi Saluran Kencing Pada Wanita: Gejala Hingga Pengobatan

Infeksi saluran kencing dapat terjadi pada wanita. Bagaimana cara mencegah dan mengobati salah satu penyakit pada sistem urologi ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Urologi, Urologi Lainnya 16 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

Pernah merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan orang lain? Ini dia penjelasan kenapa orang tertentu nyetrum ketika disentuh.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pakai lensa kontak alergi mata

Alergi Softlens: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit
mencium spidol

Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit
multivitamin gummy dewasa

Multivitamin Gummy untuk Dewasa, Benarkah Lebih Sehat?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 4 menit
yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI

Yang Harus Anda Tahu Sebelum Menjalani Pemeriksaan MRI

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 3 menit