Kanker Nasofaring Menular Atau Tidak? Ini Fakta-faktanya!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Meski termasuk jenis kanker yang jarang terjadi, kanker nasofaring cukup mematikan jika tak ditangani dengan baik. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diketahui bahwa ada sebanyak 80 ribu kasus kanker nasofaring baru setiap tahunnya. Jika dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, angka ini relatif kecil.

Kanker nasofaring adalah jenis kanker yang menyerang bagian saluran pernapasan yang terletak di atas faring (tenggorokan) dan di belakang hidung. Karena letaknya pada saluran pernapasan, banyak orang bertanya-tanya apakah kanker nasofaring menular. Simak jawabannya di bawah ini, ya.

Apakah kanker nasofaring menular?

Sebenarnya, tidak ada jenis kanker apa pun yang menular. Pasalnya, penyakit ini terjadi akibat adanya gangguan pertumbuhan pada sel dan akhirnya mengubah sel menjadi sel kanker.  Jadi, hal ini terjadinya di dalam tubuh dan tidak ada yang bisa membuatnya menjadi menular ke orang lain layaknya penyakit infeksi.

Sementara itu, untuk kanker nasofaring sendiri, belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Namun, para ahli menyatakan bahwa ada beberapa faktor risiko yang bisa menimbulkan penyakit ini, yaitu:

  • Memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami jenis kanker ini.
  • Terpapar virus Epstein-Barr (EBV)
  • Terpapar virus Human papilloma (HPV)
  • Sering mengonsumsi makanan yang diasinkan.

Ya, salah satu faktor risiko dari kanker nasofaring adalah terpapar virus EBV dan HPV. Jadi, hal yang harus Anda perhatikan adalah mencegah penularan virus-virus tersebut. Pasalnya, ketika virus ini sudah masuk ke dalam tubuh kemudian merusak sel-sel dan akhirnya menjadi kanker, maka tidak mungkin lagi ada penularan.

Biasanya, setelah virus menginfeksi tubuh, butuh waktu yang cukup lama untuk kemudian berkembang menjadi kanker. Selain itu, tak semua orang yang terinfeksi virus akan mengalami kanker, hal ini tergantung pada respon tubuh masing-masing.

Bagaimana mencegah penularan EBV penyebab kanker nasofaring?

Infeksi Epstein-Barr virus (EBV) sudah terbukti dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. EBV sendiri adalah jenis virus yang paling umum dan tersebar di mana pun. Sebagian besar dari Anda mungkin pernah mengalami infeksi virus ini tanpa disadari. Pasalnya, ketika virus ini masuk, tidak akan langsung aktif dan menimbulkan gejala.

Penyebaran EBV yang paling utama adalah melalui pertukaran cairan tubuh, terutama air liur. Maka itu, Anda bisa tertular EBV jika menggunakan barang-barang pribadi dengan orang yang memiliki EBV, seperti sikat gigi, minum di gelas yang sama, berbagi sedotan, menggunakan piring dan alat makan yang sama (tanpa dicuci terlebih dulu). Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalu ciuman, hubungan seksual, transfusi darah, dan transplantasi organ.

Hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah virus ini menyerang Anda adalah dengan tidak saling pinjam barang pribadi apa pun dengan orang lain, apalagi yang tak Anda kenal. Hindari juga berciuman dan berhubungan seks dengan orang yang tak Anda tahu riwayat kesehatannya.

Lantas, bagaimana dengan pencegahan HPV?

Meskipun risiko kanker nasofaring lebih rendah pada orang yang terkena HPV, tetap saja ada kemungkinan virus ini menyebabkan kanker. Jadi, sebaiknya Anda hindari penularan HPV yang biasanya ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman serta kebiasaan gonta-ganti pasangan seksual. Maka itu, berikut adalah cara untuk mencegah penularannya:

  • Melakukan hubungan seksual dengan aman. Jangan lupa untuk selalu gunakan kondom ketika Anda melakukan hubungan seks. Sebaiknya, Anda juga tidak berganti-ganti pasangan untuk meminimalkan penularan.
  • Lakukan vaksin HPV, yang sudah terbukti dapat mencegah infeksi virus.
  • Pap smear dengan rutin. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk dilakukan 3 tahun sekali bagi seorang wanita yang telah berusia di atas 21 tahun.

Kesimpulannya, tak ada kanker yang menular, termasuk kanker nasofaring. Hal yang harus Anda lakukan adalah mencegah penyebaran dari faktor risikonya.

Baca Juga:

Sumber