home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

4 Jenis Pengobatan untuk Mengatasi Kanker Nasofaring

4 Jenis Pengobatan untuk Mengatasi Kanker Nasofaring

Kanker nasofaring adalah jenis penyakit kanker yang menyerang saluran napas yang terletak di atas tenggorokan dan belakang hidung. Area ini disebut juga dengan nasofaring. Berbagai metode pengobatan bisa dilakukan untuk menghentikan perkembangan kanker, meringankan gejala, atau meningkatkan kualitas hidup pasien. Kenali prosedur, manfaat, dan efek samping beberapa jenis pengobatan yang umum untuk kanker nasofaring.

Pilihan pengobatan untuk kanker nasofaring

Pengobatan yang dilakukan bisa berbeda-beda untuk setiap pasien, tergantung dari jenis dan stadium kanker nasofaring, efek samping obat, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Dokter biasanya akan mengombinasikan beberapa jenis pengobatan kanker. Dalam standar pengobatan kanker nasofaring, terapi radiasi biasanya didukung dengan kemoterapi atau penggunaan obat-obatan untuk mengatasi gejala.

Operasi bisa dilakukan untuk mengangkat kanker nasofaring yang kembali muncul setelah pengobatan selesai dilakukan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah jenis-jenis pengobatan untuk kanker nasofaring.

1. Radioterapi

Radioterapi pengobatan kanker nasofaring

Radioterapi termasuk ke dalam pengobatan utama kanker nasofaring yang baru memasuki tahap perkembangan awal, yakni stadium 1 dan stadium 2. Pengobatan ini mengandalkan energi atau partikel X-ray untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

Untuk mengatasi kanker nasofaring, radioterapi akan dilakukan pada bagian leher dan kelenjar getah bening yang ada di sekitarnya. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi perkembangan kanker di kelenjar getah bening.

Sebagian besar tumor ganas yang berkembang di nasofaring cukup sensitif terhadap radiasi sehingga pengobatan ini cukup efektif.

Berdasarkan American Society of Clinical Oncology, terdapat beberapa metode terapi radiasi yang bisa dilakukan untuk mengobati kanker nasofaring.

External-beam radiation therapy (EBRT)

Jenis radioterapi yang paling sering digunakan untuk kanker nasofaring. Metode ini mampu melepaskan radiasi X-ray secara efektif pada sel kanker dan mengurangi kerusakan sel-sel sehat di sekitarnya.

Terapi proton

Merupakan jenis terapi EBRT, tapi bukan mengandalkan radiasi X-ray, melainkan memanfaatkan proton berenergi tinggi. Pada pengobatan kanker nasofaring, terapi ini biasanya dilakukan untuk menghilangkan sel-sel kanker nasofaring di sekitar leher dan kepala.

Brachytherapy

Jenis terapi radiasi internal yang menggunakan implan. Dokter akan melakukan pembedahan untuk memasang alat implan di dekat bagian tubuh yang terdampak kanker.

Alat tersebut dapat memancarkan radioaktif untuk menghancurkan sel-sel kanker yang berkembang. Pengobatan ini biasanya dilakukan untuk mengatasi kanker nasofaring yang kembali muncul setelah tumor awalnya berhasil dihancurkan.

Stereotactic radiosurgery

Dalam terapi ini, radiasi ditargetkan secara langsung pada tumor-tumor ganas tertentu. Umumnya, jenis radioterapi ini dilakukan untuk mengobati kanker nasofaring yang berada di sekitar leher dan tulang tengkorak.

Radioterapi yang dilakukan di sekitar leher, wajah, dan kepala bisa menimbulkan efek samping seperti pengeroposan gigi.

Efek samping lainnya bisa dialami secara jangka panjang selama pasien mengikuti terapi, beberapa di antaranya adalah:

2. Kemoterapi

Kemoterapi

Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan obat-obatan antikanker yang bisa dimasukkan melalui injeksi intravena (infus) atau diminum secara langsung.

Cisplatin adalah jenis obat yang paling sering digunakan untuk mengatasi kanker nasofaring. Namun, penggunaan obat ini bisa dikombinasikan dengan beberapa obat lain saat melakukan terapi gabungan antara kemoterapi dan radioterapi.

Berikut ini beberapa jenis obat antikanker yang biasanya ikut diberikan dalam kemoterapi untuk kanker nasofaring.

  • Carboplatin (Paraplatin®)
  • Doxorubicin (Adriamycin®)
  • Epirubicin (Ellence®)
  • Paclitaxel (Taxol®)
  • Docetaxel (Taxotere®)
  • Gemcitabine (Gemzar®)
  • Bleomycin
  • Methotrexate

Dalam mengobati kanker nasofaring, kemoterapi bisa dilakukan dalam beberapa kondisi.

  • Kemoterapi dilakukan bersamaan dengan radioterapi dalam pengobatan awal untuk kanker nasofaring stadium lanjut. Pengobatan gabungan ini disebut dengan kemoradiasi.
  • Pengobatan kemoterapi bisa diberikan sebelum kemoradiasi untuk kanker nasofaring atau disebut dengan kemo induksi.
  • Kemoterapi bisa dilakukan setelah terapi radiasi atau kemoradiasi.
  • Penggunaan obat-obatan antikanker bisa menjadi perawatan untuk pasien dengan kondisi kanker nasofaring yang telah menyebar ke organ lain, seperti paru-paru dan tulang.

Obat-obatan dalam kemoterapi kanker nasofaring bisa menargetkan sel-sel yang membelah dengan cepat sehingga bisa menghancurkan sel kanker. Namun, sel-sel di sekitar rahang, usus, dan folikel rambut juga berkembang dengan cepat sehingga bisa terkena reaksi obat antikanker.

Hal tersebut menimbulkan efek samping kemoterapi seperti rambut rontok, sariawan, diare, mual, dan kelelahan. Untuk mengurangi efek samping, kemoterapi dilakukan dalam siklus waktu tertentu.

Periode pengobatan berlangsung 3-4 minggu, kemudian diikuti dengan periode istirahat di mana pasien berhenti mengonsumsi obat sehingga sel-sel sehat yang terdampak bisa kembali pulih.

3. Operasi

gastric banding

Operasi bukanlah pengobatan yang umum dilakukan untuk mengatasi kanker nasofaring. Pasalnya, pengangkatan tumor ganas di area nasofaring sangat sulit dilakukan karena area ini dikelilingi oleh sejumlah saraf dan pembuluh darah vital.

Selain itu, pengobatan melalui radioterapi dan kemoterapi cukup memberikan hasil positif dalam menghancurkan dan memperlambat perkembangan kanker.

Jika operasi dilakukan, dokter umumnya juga harus mengangkat kelenjar getah bening karena kanker bisa menyebar ke bagian ini.

Dalam pengobatan kanker nasofaring, operasi lebih sering dilakukan dalam kondisi berikut ini.

  • Kanker nasofaring kembali muncul setelah terapi radiasi berhasil menghancurkan kanker berkembang di awal.
  • Pasien memiliki jenis kanker nasofaring, seperti adenokarsinoma, yang tidak terpengaruh dengan pengobatan radiasi atau obat antikanker.

4. Imunoterapi

Imunoterapi untuk kanker

Pengobatan ini sangat jarang dilakukan untuk kanker nasofaring, tapi dapat menjadi pilihan untuk pasien dengan kondisi sistem imun yang lemah.

Beberapa pasien yang berada di stadium akhir menjalani imunoterapi. Namun sejauh ini, penggunaan imunoterapi untuk kanker nasofaring masih diteliti lebih lanjut seberapa efektif pengaruhnya.

Menurut American Cancer Society, peneliti telah melakukan pengujian awal pengobatan imunoterapi yang berasal dari sel imun pasien yang terinfeksi virus Epstein-Barr (EBV). Virus yang menginfeksi kelenjar air liur ini diduga menjadi penyebab kanker nasofaring.

Hasil awal memperlihatkan adanya potensi pemulihan, tapi masih dibutuhkan penelitian dalam skala yang lebih besar untuk membuktikan kemanjuran metode ini.

Kanker nasofaring umumnya diatasi dengan terapi radiasi atau kombinasi pengobatan antara terapi radiasi dan kemoterapi. Operasi pengangkatan kanker dilakukan pada kondisi tertentu.

Berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui pilihan pengobatan kanker yang sesuai dengan kondisi Anda. Pastikan Anda menanyakan hal-hal yang belum dipahami dan mempertimbangkan risiko efek samping dari setiap pengobatan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Wong, K., Hui, E., Lo, K., Lam, W., Johnson, D., & Li, L. et al. (2021). Nasopharyngeal carcinoma: an evolving paradigm. Nature Reviews Clinical Oncology. doi: 10.1038/s41571-021-00524-x

National Cancer Institute. (2021). Nasopharyngeal Cancer Treatment (Adult) (PDQ®)–Patient Version. Retrieved 19 August 2021, from https://www.cancer.gov/types/head-and-neck/patient/adult/nasopharyngeal-treatment-pdq

American Cancer Society. (2021). Treating Nasopharyngeal Cancer. Retrieved 19 August 2021, from https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/treating.html

Cancer Research UK. (2021). Treatment options for nasopharyngeal cancer. Retrieved 19 August 2021, from https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/nasopharyngeal-cancer/treatment/decisions

American Society of Clinical Oncology. (2012). Nasopharyngeal Cancer – Types of Treatment. Retrieved 19 August 2021, from https://www.cancer.net/cancer-types/nasopharyngeal-cancer/types-treatment

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 3 minggu lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x