Berbagai Penyebab dan Faktor Risiko Anda Mengalami Intoleransi Laktosa

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 13/11/2019 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Sehabis minum susu atau makan keju, perut terasa sakit melilit, kembung atau begah, dan bahkan jadi buang-buang air (diare) merupakan gejala intoleransi laktosa. Umumnya gejala bisa muncul dalam 2 jam setelah mengonsumsi produk susu. Lantas, apa faktor penyebab utama dari intoleransi laktosa?

Penyebab intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa terjadi ketika usus kecil Anda tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa, gula yang ada dalam susu.

Laktase seharusnya akan mengubah laktosa menjadi gula sederhana yang bisa diserap ke dalam aliran darah. Gula sederhana tersebut kemudian akan dialirkan ke seluruh tubuh untuk digunakan sebagai energi.

Jika tubuh Anda kekurangan enzim laktase, laktosa dalam makanan akan langsung pindah ke usus besar tanpa diproses. Bakteri alami di dalam usus besarlah yang nanti justru akan mengolahnya.

Selama memecah laktosa, bakteri dalam usus akan menghasilkan gas buangan yang kemudian memicu berbagai gejala gangguan pencernaan.

Faktor risiko pemicu intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa bisa dialami siapa saja. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki faktor risikonya. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang memiliki intoleransi laktosa adalah:

  • Usia: Semakin tua, produksi enzim laktase menurun. Gejala intoleransi laktosa biasanya muncul pada akhir masa kanak-kanak atau dewasa awal.
  • Etnis atau ras: Kondisi ini lebih sering terjadi di Afrika, Amerika latin, Amerika Indian, dan Asia (termasuk Indonesia).
  • Perawatan kanker: Efek samping radiasi untuk kanker di bagian perut atau komplikasi akibat kemoterapi dapat menjadi penyebab intoleransi laktosa. Terapi kanker dapat memengaruhi jumlah enzim laktase di usus kecil.

Jenis intoleransi laktosa berdasarkan penyebab

Ada empat jenis intoleransi laktosa, dan semuanya memiliki penyebab berbeda. Berikut penjelasannya:

1. Intoleransi laktosa primer 

Ini adalah jenis intoleransi laktosa yang paling umum. Jenis intoleransi ini umum dimiliki oleh orang-orang yang dulunya pernah dan bisa mengonsumsi produk susu tanpa masalah, tapi kemudian berhenti. 

Intoleransi laktosa primer dimulai ketika tubuh berhenti membuat enzim laktase sekitar usia 5 tahun. Hampir setiap bayi yang lahir ke dunia akan menghasilkan cukup laktase untuk mencerna laktosa dalam ASI dan susu formula.

Namun setelah konsumsi susu sempat lama dihentikan, usus halus akan memproduksi lebih sedikit enzim laktase. Ketika kadar laktase menurun, produk susu menjadi lebih sulit dicerna oleh tbuh,

2. Intoleransi laktosa sekunder 

Penyebab dari jenis intoleransi laktosa sekunder adalah karena pengaruh penyakit pencernaan (terutama penyakit Celiac, penyakit Crohn), efek samping operasi atau pembedahan, cedera pada perut, atau selama mengonsumsi obat tertentu. Semua ini dapat memengaruhi kerja usus kecil Anda untuk memproduksi enzim laktase.

Penyakit gastroenteritis (muntaber) yang disebabkan oleh infeksi juga dapat menjadi penyebab intoleransi laktosa untuk sementara, biasanya selama 1-2 minggu. Infeksi dan kekurangan zat besai selama sakit muntaber dapat menggangu kerja pencernaan dan penyerapan laktosa. 

Jenis intoleransi ini hanya berlangsung sementara, dan biasanya akan pulih begitu pemicunya dihentikan atau disembuhkan.

3. Intoleransi laktosa kongenital

Bayi yang lahir prematur rentan mengalami intoleransi laktosa karena usus mereka belum berkembang sempurna. Maka dari itu bayi prematur cenderung memiliki kadar enzim laktase yang sedikit.

Meski begitu, jenis intoleransi ini jarang ditemukan dan jika terjadi umumnya berlangsung singkat. Intoleransi laktosa kongenital bisa hilang sendiri seiring bertambahnya usia bayi dan dengan perawatan yang tepat. 

4. Intoleransi laktosa bawaan

Penyebab intoleransi laktosa ini adalah kelainan genetik, sehingga ada kemungkinan kondisi yang Anda alami diturunkan dari kedua orangtua. Intoleransi genetik terjadi ketika tubuh Anda tidak memproduksi laktase sama sekali sejak lahir, atau kalaupun ada jumlahnya amat sedikit.

Namun, jenis satu ini termasuk sangat jarang terjadi.

Makanan penyebab gejala intoleransi laktosa

Penyebab utama dari intoleransi laktosa adalah tubuh yang tidak memproduksi cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa. Laktosa adalah jenis gula yang ada di dalam susu, produk olahan susu, dan hidangan apa pun yang terbuat dari atau mengandung susu. 

Maka dari itu, konsumsi makanan atau minuman penyebab intoleransi laktosa perlu dibatasi oleh orang yang memiliki kondisi ini. Misalnya:

  • Susu hewani dalam bentuk murni, atau olahan minuman susu seperti milkshakes, smoothies yang dibuat dengan susu atau yogurt, dan minuman berbahan dasar susu lainnya.
  • Produk turunan susu, seperti air dadih (whey), dadih (curds), padatan susu kering (dry milk solid)
  • Susu bubuk kering tanpa lemak (nonfat dry milk powder)
  • Whipped cream (krim kocok) dan krimer dairy 
  • Es krim, es susu, gelato, yogurt, puding susu, atau camilan dingin apa pun yang mengandung susu
  • Keju
  • Mentega (butter)
  • Sup krim atau saus dan krim dari susu (misalnya saus pasta carbonara)
  • Makanan lainnya yang dibuat dari susu
  • Produk sampingan susu (milk by products)

Meski demikian, laktosa juga dapat ditemukan di dalam makanan atau minuman lainnya. Untuk menghindari gejala intoleransi laktosa, hindari makanan seperti:

  • Roti, pancake, waffle, keik, dan kue-kue kering
  • Permen cokelat
  • Salad dressing dan saus
  • Sereal dan produk kreasinya
  • Daging olahan, seperti bacon, sosis, daging hot dog
  • Permen dan makanan ringan
  • Adonan pancake dan biskuit
  • Margarin
  • Jeroan, (seperti hati)
  • Gula bit, kacang polong, dan kacang lima
  • Cairan pengganti susu dan bubuk, smoothie, dan bubuk protein
  • Makanan olahan seperti sereal sarapan, margarin, keripik kemasan, dan makanan ringan lainnya

Ada kemungkinan makanan lain yang tidak disebutkan di atas dapat mengandung sejumlah kecil laktosa. Maka sebaiknya cermati dan periksa daftar label komposisi makanan pada kemasan sebelum membelinya.

Sejumlah kecil laktosa juga dapat ditemukan dalam beberapa obat resep dan obat-obatan bebas. Bicarakan dengan dokter tentang kondisi Anda dan jumlah laktosa dalam obat-obatan yang Anda gunakan, agar tidak memicu kemunculan gejalanya selama dalam pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ada Bercak Darah Saat Tidak Sedang Haid? Ini Penyebabnya

Para perempuan tentu akan panik saat melihat adanya bercak darah padahal ia tidak sedang haid. Berikut arti dari bercak darah saat tidak sedang haid ini.

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Hidup Sehat, Tips Sehat 14/07/2020 . Waktu baca 3 menit

3 Resep Pasta Gandum Rendah Kalori yang Mudah Dimasak

Menu diet tidak harus itu-itu melulu sajiannya. Anda masih bisa makan pasta nikmat dan pastinya rendah kalori. Simak 3 resep pasta gandum pada artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Nutrisi, Hidup Sehat 14/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Tips Jaga Diri Saat Merawat Orang Sakit Kronis di Masa Pandemi

Ketika sibuk meluangkan waktu untuk mengasuh anggota keluarga, jangan lupa untuk tetap jaga diri saat merawat orang sakit kronis. Simak caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
foto orang yang merawat anggota keluarga yang terkena penyakit kronis; saat mengasuh, penting untuk tetap jaga diri saat merawat orang sakit kronis
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/07/2020 . Waktu baca 5 menit

3 Bahan Alami yang Bisa Mengusir Biang Keringat

Tidak menggunakan krim yang menyumbat saluran keringat, mungkin bisa jadi solusi. Namun tahukah Anda, ada bahan alami yang bisa mengusir biang keringat?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/07/2020 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hubungan baru setelah bercerai

Kapan Waktu Tepat Memulai Hubungan Baru Setelah Bercerai?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 16/07/2020 . Waktu baca 4 menit
orgasme tanpa disentuh

3 Hal yang Bisa Membuat Anda Orgasme Tanpa Disentuh

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit
pasien koma masih sadar atau tidak

Ini yang Terjadi Pada Tubuh dan Pikiran Saat Kita Sedang Koma

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit
tidak puas dengan pekerjaan berbahaya bagi kesehatan

Tidak Menikmati Pekerjaan di Masa Muda, Bisa Membahayakan Kesehatan di Masa Depan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 14/07/2020 . Waktu baca 4 menit