10 Kondisi Penyebab Dehidrasi yang Tidak Anda Duga Sebelumnya

Oleh

Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi pada umumnya terjadi saat tubuh kehilangan air lebih banyak yang dari kita minum. Sebagian besar kadar air tubuh hilang melalui kulit yang dikeluarkan dalam bentuk keringat. Ada banyak penyebab dehidrasi — beberapa di antaranya mungkin tidak pernah Anda duga.

Apa saja gejala dehidrasi?

Kondisi dehidrasi ringan umum terjadi, namun tidak selalu menimbulkan gejala yang berarti. Gejala dehidrasi serius baru muncul ketika sebagian besar sel tubuh sudah mulai kekurangan kadar airnya dan tidak tergantikan setelah beberapa waktu atau dikenal dengan dehidrasi sedang. Beberapa gejala yang dapat muncul akibat dehidrasi ringan hingga sedang antara lain:

Sedangkan gejala dehidrasi sedang hingga berat dapat menimbulkan gejala seperti:

  • Merasa amat sangat haus
  • Tidak berkeringat
  • Hipotensi
  • Jantung berdetak cepat
  • Napas terlalu cepat
  • Demam
  • Kulit berkerut
  • Mata tampak cekung
  • Urin berwarna gelap

Meskipun terdapat berbagai gejala tersebut dehidrasi sering kali tidak disadari karena kita menganggap konsumsi air minum sudah mencukupi. Padahal, penyebab dehidrasi tidak sesederhana karena kurang minum air

Berbagai kondisi kesehatan yang menjadi penyebab dehidrasi

Dehidrasi pada umumnya terjadi saat sedang bekerja pada lingkungan bertemperatur tinggi dan berolahraga ataupun mengalami gangguan kesehatan akibat mengalami luka bakar, diare dan infeksi saluran pencernaan lainnya serta mengalami gejala muntah-muntah dan demam.

Namun ternyata terdapat beberapa kondisi lain penyebab dehidrasi yang mungkin tak pernah Anda sadari, di antaranya:

Diabetes

Seseorang yang mengalami diabetes, terutama jika ia tidak menyadarinya, akan lebih berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi diabetes menyebabkan dehidrasi karena tubuh akan selalu berusaha menyeimbangkan kadar glukosa darah berlebih lewat pembuangan urin yang lebih sering dari normalnya.

Menstruasi

Hormon estrogen dan progesteron memengaruhi kadar cairan tubuh. Saat keduanya mengalami perubahan, seperti selama menstruasi, konsumsi air rutin diperlukan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Terlebih lagi jika darah yang dikeluarkan terlalu banyak maka kehilangan cairan dapat terjadi secara besar-besaran.

Konsumsi obat tertentu

Beberapa jenis obat memiliki efek samping dengan cara meningkatkan frekuensi urinasi, salah satunya obat diuretik yang dikonsumsi oleh penderita hipertensi. Obat lainnya yang menyebabkan diare dan muntah-muntah akibat rasa mual juga berpotensi pada pengeluaran cairan tubuh berlebih.

Konsumsi alkohol

Salah satu efek minum alkohol adalah mencegah kerja hormon antidiuretik untuk menyerap kembali cairan yang telah dikonsumsi. Alkohol juga memiliki efek diuretik yang menyebabkan cairan lebih mudah memasuki kandung kemih untuk dikeluarkan. Kedua proses tersebut dapat mengurangi kadar cairan tubuh secara signifikan. Terlebih lagi alkohol dapat menyebabkan seseorang mengonsumsi air lebih sedikit karena penurunan kemampuan untuk merasakan haus dan rasa lelah.

Stress

Tubuh dapat kehilangan kemampuan mengendalikan cairan dan elekrolit akibat penurunan kadar hormone aldosterone yang dipicu hormone adrenal dan kondisi stress. Saat mengalami stress kronis konsumsi air minum mungkin dapat mengatasi dehidrasi sementara waktu namun mengendalikan dengan stress dapat membantu fungsi regulasi cairan dan elektrolit.

Diet rendah karbohidrat

Karbohidrat merupakan jenis nutrisi yang disimpan bersamaan dengan air, itulah sebabnya mengap berat badan bisa turun secara signifikan setelah menjalani diet karbo. Namun mengurangi porsi karbohidrat artinya kadar cairan tubuh juga dapat menurun.

Inflammatory bowel syndrome (IBS)

Inflammatory bowel syndrome (IBS) adalah penyakit yang menyebabkan diare dan rasa mual. Terlebih lagi makanan pemicu IBS merupakan jenis makanan yang mengandung banyak air. Mengurangi konsumsi makanan yang dianggap pemicu IBS dapat menyebabkan tubuh mendapatkan cairan lebih sedikit.

Kehamilan dan menyusui

Kondisi kehamilan membuat seseorang membutuhkan cairan yang lebih banyak dibandingkan biasanya, terlebih lagi jika cairan saat hamil terbuang lewat morning sickness. Selain itu saat proses menyusui kadar air tubuh juga cenderung berkurang bersamaan dengan elektrolit, protein dan nutrisi lainnya.

Tinggal di dataran tinggi

Saat berada ke dataran tinggi yang lebih dingin, tubuh beradaptasi dengan meningkatkan frekuensi bernapas dan pengeluaran urin. Kedua proses tersebut diperlukan untuk menyeimbangkan kadar oksigen sehingga cairan lebih banyak dikeluarkan melalui uap air pernapasan dan urinasi.

Usia lanjut

Usia lanjut menyebabkan seseorang lebih rentan mengalami dehidrasi karena penurunan kemampuan merasakan haus atau lapar. Lansia juga lebih sulit untuk merasakan gejala dehidrasi dan lebih mudah lupa atau tidak menyadari jika mereka sudah cukup lama tidak mengonsumsi air minum dalam waktu satu hari.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca