4 Cara Mengetes Apakah Seseorang Berkata Jujur

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 05/09/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Banyak penelitian sudah dilakukan untuk mencari tahu bagaimana cara mendeteksi kebohongan lewat gerak-gerik, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh. Namun, tak satupun bisa jadi indikator mutlak yang menyatakan bahwa seseorang memang benar-benar sedang berbohong.

Sejumlah peneliti di Coral Dando di University of Wolverhampton, dilansir dari BBC, berhasil mengidentifikasi serangkaian prinsip percakapan yang mampu meningkatkan peluang Anda mendeteksi kebohongan dengan lebih akurat. Alih-alih fokus pada gerak-gerik dan ekspresi wajah, prinsip ini menitikberatkan pada kosakata dan tata bahasa yang diutarakan lawan bicara Anda. Metode ini melibatkan kita untuk melakukan semacam tes kejujuran kepada lawan bicara, dengan cara mengajukan pertanyaan atau tanggapan yang dapat menyentuh titik lemah seseorang dan bisa membuat kebohongan terungkap. Bagaimana caranya?

Sebelum melakukan tes kejujuran, pastikan Anda melakukan pengamatan awal

Ingat, kejujuran ditandai dengan karakteristik pribadi yang sinkrong satu sama lain. Jadi, selain postur tubuh, perhatikan kesesuaian antara wajah, tubuh, suara, dan gaya bicara. Sebelum memulai, penting untuk memahami bagaimana orang tersebut biasanya bertindak. Jadi, Anda perlu mengetahui seperti apa ekspresi wajah orang tersebut dalam keadaan normal, dan seperti apa ia berbicara dalam percakapan sehari-hari.

Meski mungkin untuk mendapat dasar hanya dengan 20-30 detik pengamatan, akan lebih baik lagi jika Anda punya lebih banyak waktu. “Trik terbaiknya adalah memperhatikan lawan bicara Anda untuk sementara waktu, dengan cara membuka obrolan basa-basi atau pertanyaan iseng, untuk melihat bagaimana ciri khas gerak-gerik tubuh dan ekspresi wajah mereka saat sedang berkata jujur,” ujar Mark Bouton, seorang agen FBI senior sekaligus penulis How to Spot Lies Like the FBI, dikutip dari Business Insider.

4 langkah melakukan tes kejujuran

1. Gunakan pertanyaan terbuka

Daripada mengajukan pertanyaan yang jawabannya adalah “ya” atau “tidak”, gunakan pertanyaan terbuka yang mengharuskan seseorang untuk menguraikan jawaban dengan panjang lebar. Memancing jawaban yang lebih deskriptif akan memaksa pembohong untuk memperluas kisah mereka sampai akhirnya mereka terperangkap di jaring imajinasi mereka sendiri.

2. Berikan unsur kejutan

Anda harus mencoba meningkatkan “beban kognitif” si pembohong, dengan cara mengajukan pertanyaan yang tak terduga yang mungkin sedikit membingungkan. Atau, minta mereka melaporkan suatu peristiwa dengan runut waktu mundur. Orang yang hanya mengarang cerita akan kesulitan menceritakan imajinasinya dengan kronologi mundur.

3. Perhatikan rincian kecil yang bisa dicek dan ricek

Pernah, kan, Anda bertanya pada teman, “Udah jalan belom? Sekarang di mana?”, dan jawaban klasiknya tak lain tak bukan adalah, “Di jalan,” atau, “Bentar lagi sampai.” Tanyakan detil perjalanan mereka, seperti di jalan mana, apa patokannya, macet atau tidak, dan seterusnya. Jika Anda menemukan kontradiksi atau keganjilan, jangan buru-buru bongkar kebohongannya. Lebih baik untuk membangun kepercayaan diri si pembohong sehingga ia terus terbelit dalam kebohongannya sendiri, sampai akhirnya kebohongan tersebut runtuh dengan sendirinya.

4. Amati perubahan dalam kepercayaan dirinya

Perhatikan dengan seksama. Gaya berbohong lawan bicara Anda perlahan akan mulai berubah saat mereka mulai merasa takut bahwa kebohongannya sudah terendus. Di awal, ia mungkin akan melebih-lebihkan gaya bicaranya dan terlihat lebih percaya diri saat melontarkan kebohongannya, tapi mereka mungkin akan bungkam saat mulai merasa kehilangan kontrol.

Lakukan dengan santai, bukan interogasi

Tujuan dari empat prinsip di atas adalah untuk membawa percakapan dalam suasana santai, bukan dalam bentuk interogasi serius. Dengan teknik ini, selihai apapun seorang pembohong, ia akan mengungkapkan kebohongan mereka secara sukarela dengan membantah cerita mereka sendiri, menjadi jelas-jelas mengelak atau memprotes pertanyaan, atau menjadi kebingungan dalam merespon.

Teknik ini terbukti 20 kali lebih efektif dan lebih mungkin untuk mendeteksi kebohongan daripada hanya mengandalkan tanda-tanda fisik yang samar.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

    Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    tanggal kedaluwarsa

    4 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tanggal Kedaluwarsa

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
    penyebab cantengan; kuku cantengan

    Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    mual karena gugup

    Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . Waktu baca 6 menit
    Berpikir negatif demensia

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit