4 Cara Mengetes Apakah Seseorang Berkata Jujur

Oleh

Banyak penelitian sudah dilakukan untuk mencari tahu bagaimana cara mendeteksi kebohongan lewat gerak-gerik, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh. Namun, tak satupun bisa jadi indikator mutlak yang menyatakan bahwa seseorang memang benar-benar sedang berbohong.

Sejumlah peneliti di Coral Dando di University of Wolverhampton, dilansir dari BBC, berhasil mengidentifikasi serangkaian prinsip percakapan yang mampu meningkatkan peluang Anda mendeteksi kebohongan dengan lebih akurat. Alih-alih fokus pada gerak-gerik dan ekspresi wajah, prinsip ini menitikberatkan pada kosakata dan tata bahasa yang diutarakan lawan bicara Anda. Metode ini melibatkan kita untuk melakukan semacam tes kejujuran kepada lawan bicara, dengan cara mengajukan pertanyaan atau tanggapan yang dapat menyentuh titik lemah seseorang dan bisa membuat kebohongan terungkap. Bagaimana caranya?

Sebelum melakukan tes kejujuran, pastikan Anda melakukan pengamatan awal

Ingat, kejujuran ditandai dengan karakteristik pribadi yang sinkrong satu sama lain. Jadi, selain postur tubuh, perhatikan kesesuaian antara wajah, tubuh, suara, dan gaya bicara. Sebelum memulai, penting untuk memahami bagaimana orang tersebut biasanya bertindak. Jadi, Anda perlu mengetahui seperti apa ekspresi wajah orang tersebut dalam keadaan normal, dan seperti apa ia berbicara dalam percakapan sehari-hari.

Meski mungkin untuk mendapat dasar hanya dengan 20-30 detik pengamatan, akan lebih baik lagi jika Anda punya lebih banyak waktu. “Trik terbaiknya adalah memperhatikan lawan bicara Anda untuk sementara waktu, dengan cara membuka obrolan basa-basi atau pertanyaan iseng, untuk melihat bagaimana ciri khas gerak-gerik tubuh dan ekspresi wajah mereka saat sedang berkata jujur,” ujar Mark Bouton, seorang agen FBI senior sekaligus penulis How to Spot Lies Like the FBI, dikutip dari Business Insider.

4 langkah melakukan tes kejujuran

1. Gunakan pertanyaan terbuka

Daripada mengajukan pertanyaan yang jawabannya adalah “ya” atau “tidak”, gunakan pertanyaan terbuka yang mengharuskan seseorang untuk menguraikan jawaban dengan panjang lebar. Memancing jawaban yang lebih deskriptif akan memaksa pembohong untuk memperluas kisah mereka sampai akhirnya mereka terperangkap di jaring imajinasi mereka sendiri.

2. Berikan unsur kejutan

Anda harus mencoba meningkatkan “beban kognitif” si pembohong, dengan cara mengajukan pertanyaan yang tak terduga yang mungkin sedikit membingungkan. Atau, minta mereka melaporkan suatu peristiwa dengan runut waktu mundur. Orang yang hanya mengarang cerita akan kesulitan menceritakan imajinasinya dengan kronologi mundur.

3. Perhatikan rincian kecil yang bisa dicek dan ricek

Pernah, kan, Anda bertanya pada teman, “Udah jalan belom? Sekarang di mana?”, dan jawaban klasiknya tak lain tak bukan adalah, “Di jalan,” atau, “Bentar lagi sampai.” Tanyakan detil perjalanan mereka, seperti di jalan mana, apa patokannya, macet atau tidak, dan seterusnya. Jika Anda menemukan kontradiksi atau keganjilan, jangan buru-buru bongkar kebohongannya. Lebih baik untuk membangun kepercayaan diri si pembohong sehingga ia terus terbelit dalam kebohongannya sendiri, sampai akhirnya kebohongan tersebut runtuh dengan sendirinya.

4. Amati perubahan dalam kepercayaan dirinya

Perhatikan dengan seksama. Gaya berbohong lawan bicara Anda perlahan akan mulai berubah saat mereka mulai merasa takut bahwa kebohongannya sudah terendus. Di awal, ia mungkin akan melebih-lebihkan gaya bicaranya dan terlihat lebih percaya diri saat melontarkan kebohongannya, tapi mereka mungkin akan bungkam saat mulai merasa kehilangan kontrol.

Lakukan dengan santai, bukan interogasi

Tujuan dari empat prinsip di atas adalah untuk membawa percakapan dalam suasana santai, bukan dalam bentuk interogasi serius. Dengan teknik ini, selihai apapun seorang pembohong, ia akan mengungkapkan kebohongan mereka secara sukarela dengan membantah cerita mereka sendiri, menjadi jelas-jelas mengelak atau memprotes pertanyaan, atau menjadi kebingungan dalam merespon.

Teknik ini terbukti 20 kali lebih efektif dan lebih mungkin untuk mendeteksi kebohongan daripada hanya mengandalkan tanda-tanda fisik yang samar.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: November 13, 2016 | Terakhir Diedit: September 5, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca