Benarkah Pil KB Bisa Mengubah Bentuk Otak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Menurut penelitian terbaru yang ditampilkan dalam pertemuan tahunan Radiological Society of North America (RSNA), wanita yang rutin meminum pil KB ternyata memiliki bentuk otak agak berbeda dibandingkan wanita yang tidak meminumnya. Benarkah?

Jenis pil KB yang diteliti dalam studi tersebut adalah pil kombinasi berisikan hormon progesteron dan estrogen buatan. Pil KB ini merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling umum digunakan sebagai upaya menunda kehamilan.

Lantas, seperti apa perubahan bentuk otak yang dimaksud dalam penelitian tersebut dan adakah pengaruhnya bagi kemampuan mental ibu?

Apakah pil KB memengaruhi bentuk otak?

Penelitian mengenai hubungan antara pil KB dan struktur otak dilakukan terhadap 50 orang wanita, dengan 21 orang di antaranya meminum pil KB secara rutin. Mereka menjalani pemeriksaan MRI untuk memperoleh gambaran struktur otak secara lengkap.

Rata-rata, wanita yang meminum pil KB memiliki hipotalamus berukuran 6 persen lebih kecil dibanding wanita yang tidak meminumnya.

Dr. Michael Lipton, pimpinan penelitian sekaligus profesor radiologi di Albert Einstein College of Medicine, Amerika Serikat, menyatakan bahwa perbedaan ini bisa dibilang cukup besar.

Hipotalamus adalah bagian otak yang mengatur beberapa fungsi normal tubuh seperti suhu, mood, nafsu makan, gairah seksual, siklus tidur, dan denyut jantung.

Bagian otak ini juga mengatur produksi berbagai hormon yang diperlukan dalam reproduksi.

Sebagai tambahan, penelitian lain dalam jurnal Scientific Reports turut menemukan bahwa wanita yang meminum pil KB memiliki bentuk hippocampus, cerebellum (otak kecil), dan fusiform gyrus dengan ukuran sedikit lebih besar.

Sementara itu, penelitian oleh University of Salzburg, Austria, pada tahun yang sama menemukan adanya perubahan pada bagian otak yang disebut korteks prefrontal dan amigdala. Keduanya berperan dalam proses perilaku dan pengenalan emosi.

Secara umum, berbagai penelitian mengenai pil KB dan struktur otak menghasilkan temuan yang beragam.

Meski keduanya berkaitan, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa minum pil KB memang secara langsung mengubah struktur otak.

Apakah konsumsi pil KB berpengaruh bagi fungsi otak?

Provera
Sumber: Healthline

Jika pil KB memang betul-betul mengubah bentuk hipotalamus pada otak, maka temuan ini sebetulnya tidak terlalu mengherankan.

Pil KB mengandung hormon reproduksi berupa progesteron dan estrogen. Ketika diminum, hormon-hormon tersebut mungkin memberikan sinyal bagi hipotalamus untuk berhenti memproduksi hormon yang sama.

Dr. Lipton menyatakan bahwa hormon-hormon reproduksi yang dihasilkan hipotalamus sebenarnya penting bagi pertumbuhan sel saraf pada otak.

Ia menduga, hormon pada pil KB akan menghambat proses tersebut dan memperlambat pertumbuhan sel saraf otak.

Walau demikian, para peneliti belum mengetahui secara pasti apa dampak yang terjadi apabila ukuran hipotalamus mengecil. Menurut penelitian yang sama, pil KB juga tidak mengurangi ukuran ataupun fungsi otak secara keseluruhan.

Para peneliti menemukan bahwa ukuran hipotalamus yang mengecil memang berkaitan dengan sifat mudah marah dan munculnya gejala depresi.

Namun, tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa hal ini disebabkan karena Anda meminum pil KB.

Konsumsi pil KB mungkin berkaitan dengan perubahan bentuk hipotalamus pada otak. Akan tetapi, perlu diingat bahwa berbagai penelitian yang membahas tentang hal ini selalu menghasilkan temuan yang beragam.

Pengaruh konsumsi pil KB terhadap struktur otak masih perlu dikaji lebih lanjut. Selama menunggu hasil penelitian terbaru yang lebih akurat, pil KB masih bisa menjadi pilihan metode kontrasepsi yang cukup aman dan efektif.

Kalkulator Masa Subur

Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

Kapan Ya?
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ensefalopati Uremikum

Hati-hati jika punya riwayat penyakit ginjal kronis atau akut. Komplikasinya bisa merambat sampai otak, disebut dengan ensefalopati uremikum.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Urologi, Ginjal 25 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus adalah kelainan yang dapat mengakibatkan frekuensi buang air kecil bertambah dan rasa haus yang berlebihan. Apa obatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Novita Joseph
Urologi, Ginjal 6 Agustus 2020 . Waktu baca 12 menit

Ini yang Terjadi Pada Tubuh dan Pikiran Saat Kita Sedang Koma

Pernahkah Anda terbayang seperti apa rasanya koma? Anda juga mungkin penasaran, sebenarnya pasien koma masih sadar tidak? Yuk, cari tahu lebih jauh di sini.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 14 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit

Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

Saat lapar, rasanya hanya ingin marah sampai Anda mendapat yang Anda mau. Tapi, kok bisa begitu, ya? Kenapa kita mudah marah saat kelaparan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 10 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

pil kb untuk jerawat

Apakah Pil KB Bisa Membuat Kulit Bebas Jerawat?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 4 November 2020 . Waktu baca 5 menit
mitos tentang tidur

Mengenal 4 Tahapan Tidur: Dari “Tidur Ayam” Hingga Tidur Pulas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
manfaat efek musik pada otak

5 Efek Musik Terhadap Kinerja Otak Manusia

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 29 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
gerakan senam otak

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Tingkatkan Fokus dan Kreativitas

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit