Secara medis, boleh-boleh saja berhubungan seks saat sedang haid. Namun, bagaimana jika Anda berhubungan seks saat sedang pakai tampon? Adakah efek negatifnya untuk kesehatan? Agar tak menerka-nerka, simak ulasan berikut ini.

Bolehkah seks pakai tampon?

Dilansir dari Planet Parenthood, tampon adalah sumbatan kecil yang terbuat dari kapas untuk di pasang di dalam vagina. Pemasangan tampon bertujuan untuk menyerap darah haid sama seperti pembalut. Bedanya, tampon dipasang di vagina tepat di mana darah haid keluar.

Biasanya sebagian besar tampon dilengkapi dengan tali yang melekat di ujungnya. Fungsinya untuk menarik tampon saat waktunya dikeluarkan. Lantas, bagaimana jika ingin berhubungan seks saat masih pakai tampon?

Hal ini sebenarnya sangat tidak dianjurkan. Apalagi jika Anda dan pasangan melakukan seks melalui vagina. Penis bisa mendorong tampon masuk ke dalam vagina terlalu jauh dan dalam sehingga sulit untuk dilepas. Oleh karena itu, ada baiknya untuk melepas tampon terlebih dahulu sebelum berhubungan seks.

Efek kesehatan jika pakai tampon saat seks

Memakai tampon saat bercinta dengan pasangan sangat tidak dianjurkan. Pasalnya, ada berbagai risiko yang muncul seperti:

Sulit untuk diambil

Tampon dipasang persis di vagina. Ketika Anda berhubungan seks dengan masih menggunakan tampon, otomatis posisinya akan berubah. Tampon akan terdorong masuk ke dalam vagina saat penis juga mulai masuk dan bergerak.

Memang benar tampon dilengkapi dengan tali untuk memudahkan Anda menariknya keluar. Namun, jika terdorong terlalu dalam Anda juga akan sulit meraih tali yang otomatis akan tertarik ke dalam.

Menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman

Tampon yang dipakai saat berhubungan seks bisa masuk ke dalam hingga ke leher rahim. Akibatnya, hal ini bisa menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman selama berhubungan. Apalagi sebagian orang cenderung memiliki serviks atau leher rahim dan rahim yang lebih sensitif saat sedang haid.

Ketika tampon menempel ke orang-organ itu, rasa sakit dan tidak nyaman akan sangat terasa. Kondisi ini otomatis membuat seks menjadi tidak menyenangkan. Apalagi tampon dan penis menempati ruang yang sama. Penis akan kesulitan untuk menembus vagina sepenuhnya. Jika dipaksakan, Anda yang justru akan sakit.

Rangsangan berkurang

Selama penetrasi, rangsangan dari serviks bisa meningkatkan kenikmatan bercinta hingga membuat Anda orgasme. Lantas, bagaimana serviks bisa terangsang jika jalannya saja dihalangi oleh tampon? Penis akan tertahan di bawah tampon dan membuatnya tak bisa bergerak lebih dalam lagi.

Memar dan luka

Tampon yang menekan serviks dan rahim bisa menyebabkan memar atau luka. Terlebih selama berhubungan seks penis akan terus terdorong masuk dan keluar.

Gesekan ini lama-lama akan membuat permukaan leher rahim dan serviks mengalami luka. Apalagi jika tampon yang Anda pakai saat seks ini masih baru dan cenderung kaku.

Bagaimana jika tampon lupa dikeluarkan dan tertinggal di dalam?

Ketika berhubungan seks pakai tampon, tak menutup kemungkinan Anda lupa untuk mengeluarkannya di akhir sesi bercinta.

Jika hal ini terjadi, ada berbagai tanda dan efek yang bisa muncul yaitu:

Muncul bau busuk

Salah satu tanda utama saat tampon tertinggal di dalam adalah bau busuk yang berasal dari vagina. Ini karena tampon berisi darah haid yang berbau amis.

Ketika tampon tertinggal di dalam tubuh selama berhari-hari otomatis bau tidak sedap pun akan muncul. Apabila hal ini terjadi, segera keluarkan tampon dari vagina dan jangan ditunda lagi,

Infeksi vagina

Selain menimbulkan bau, tampon yang tertinggal berhari-hari di dalam vagina juga bisa meningkatkan risiko infeksi bakteri. Bakteri bisa dengan mudah muncul karena darah haid dan tampon dalam keadaan kotor yang sebenarnya tak boleh didiamkan terlalu lama.

Biasanya ketika vagina terinfeksi bakteri, tanda yang akan muncul yaitu:

  • Keputihan berwarna abu, putih, atau hijau
  • Vagina berbau amis atau busuk
  • Vagina terasa gatal
  • Rasa terbakar saat buang air kecil

Mengalami toxic shock syndrome (TSS)

Toxic shock syndrome (TSS) adalah komplikasi parah akibat infeksi beberapa jenis bateri. Biasanya bakteri penyebab kondisi ini adalah Staphylococcus aureus dan streptococcus kelompok A.

Sindrom ini telah banyak dikaitkan akibat penggunaan tampon superabsorbent, terutama yang tertinggal terlalu lama di dalam tubuh.

Untuk menghindarinya, pastikan untuk tidak pakai tampon saat berhubungan seks. Toxic shock syndrome biasanya ditandai dengan berbagai gejala seperti:

  • Demam tinggi yang tiba-tiba
  • Tekanan darah sangat rendah (hipotensi)
  • Muntah atau diare
  • Ruam yang muncul pada telapak tangan dan kaki
  • Linglung
  • Nyeri otot
  • Mata, mulut, dan tenggorokan mengalami kemerahan
  • Kejang
  • Sakit kepala

Cara menarik tampon yang telanjur masuk terlalu dalam

Ketika Anda menyadari bahwa tampon masih terpasang sementara seks sudah berlangsung setengah jalan, segera keluarkan. Untuk mengeluarkannya, lakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir hingga bersih
  2. Berbaringlah telentang kemudian gunakan dua jari untuk memeriksa keberadaan tali tampon di vagina
  3. Jika tali tidak terlihat, ambil meja atau kursi kemudian angkat salah satu kaki ke atasnya
  4. Raba secara perlahan ke arah vagina kemudian tarik tali jika ujungnya masih bisa diraih

Jangan gunakan pinset atau alat bantu apapun untuk melepaskan tampon. Jika Anda merasa kesulitan untuk mengambilnya, segera pergi ke rumah sakit untuk meminta bantuan dokter.

Intinya, pastikan untuk tidak pakai tampon saat seks agar Anda terhindar dari berbagai risiko buruk untuk kesehatan.

Baca Juga:

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca