Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . 5 mins read
Bagikan sekarang

Saat Anda masih kecil, mungkin Anda pernah berbohong pada orangtua dengan berpura-pura sakit. Biasanya hal ini dilakukan supaya bisa menghindari tanggung jawab seperti pergi ke sekolah atau ketika diminta bantuan oleh orangtua. Bagi beberapa orang, kebiasaan ini masih dilanjutkan hingga menginjak usia dewasa. Namun, Anda perlu waspada jika hal ini Anda lakukan demi mencari perhatian atau rasa kasihan dari orang lain, dan bukan semata-mata untuk menghindari sebuah tanggung jawab saja. Jangan-jangan, Anda mengidap sindrom pura-pura sakit yang juga dikenal dengan istilah sindrom Munchausen.

Apa itu sindrom Munchausen?

Sindrom Munchausen atau sindrom pura-pura sakit adalah salah satu jenis gangguan jiwa. Penderitanya akan memalsukan berbagai gejala dan keluhan penyakit, baik fisik maupun psikis. Namun, kebanyakan penderita sindrom ini akan berpura-pura memiliki penyakit fisik tertentu. Mereka tak akan ragu untuk mengakses fasilitas kesehatan misalnya dengan pergi ke rumah sakit, periksa ke dokter, mencari obat di apotek, hingga menjalani berbagai tes untuk mengobati penyakit fiktif (palsu) yang diidap ini.

Gejala penyakit yang dikeluhkan biasanya berupa nyeri di dada, sakit kepala, sakit perut, demam, dan gatal atau ruam pada kulit. Akan tetapi, pada kasus-kasus ekstrem penderita sindrom pura-pura sakit akan sengaja menyakiti diri sendiri untuk memicu gejala penyakit. Hal tersebut dilakukan entah dengan cara mogok makan, menjatuhkan diri supaya ada tulang yang retak, overdosis obat, atau melukai bagian tubuh tertentu.  

Mengapa orang berpura-pura sakit?

Tujuan utama penderita sindrom Munchausen berpura-pura sakit adalah untuk mendapatkan perhatian, simpati, rasa iba, dan perlakuan baik entah dari keluarga, kerabat, atau tenaga kesehatan. Mereka percaya bahwa berpura-pura sakit adalah satu-satunya cara supaya mereka bisa menerima kasih sayang dan kebaikan sebagaimana orang yang benar-benar sakit akan diperlakukan.

Berbeda dengan penderita hipokondria yang tidak menyadari bahwa gejala penyakit yang diderita sebenarnya bersifat fiktif, orang yang mengidap sindrom Munchausen tahu dan sadar sepenuhnya bahwa dirinya tak mengidap penyakit apa pun. Mereka akan dengan penuh pertimbangan menciptakan sendiri kondisi klinis tertentu guna menarik perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Sejauh ini belum ditemukan penyebab sindrom Munchausen, tapi para ahli sepakat bahwa mereka yang mengidap penyakit mental ini juga memiliki gangguan kepribadian yang ditunjukkan dengan kecenderungan menyakiti diri sendiri, kesulitan mengendalikan impuls, dan suka mencari perhatian (histrionik). Selain itu, berbagai penelitian menghubungkan sindrom pura-pura sakit dengan adanya riwayat trauma masa kecil karena kekerasan atau penelantaran dari orang tua.  

Siapa yang bisa mengidap sindrom pura-pura sakit?

Walaupun belum ada penelitian yang berhasil mencatat jumlah pasti maupun prevalensi penderita sindrom Munchausen, para ahli dan tenaga medis menyatakan bahwa kasus ini sangat jarang terjadi. Sindrom Munchausen biasanya muncul pada masa dewasa awal penderitanya. Namun, tak menutup kemungkinan bagi orang dalam rentang usia berapa pun untuk mengidap gangguan jiwa ini. Dalam beberapa kasus, anak-anak pun bisa menunjukkan gejala sindrom pura-pura sakit. Sejauh ini, kebanyakan kasus yang dilaporkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan di seluruh dunia menunjukkan bahwa sindrom ini lebih banyak diderita oleh pria.

Bagaimana cara mengenali tanda-tandanya?

Untuk menghindari berbagai risiko yang ditimbulkan gangguan jiwa ini, segera periksakan diri atau anggota keluarga yang menunjukkan berbagai gejala sindrom pura-pura sakit berikut ini.

  • Riwayat penyakit yang tidak konsisten dan sering berubah-ubah
  • Gejala penyakit justru semakin parah setelah dilakukan pemeriksaan, pengobatan, atau perawatan
  • Memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai penyakit yang diderita, istilah-istilah medis, dan berbagai prosedur di fasilitas kesehatan
  • Muncul gejala baru atau gejala yang berbeda setelah hasil tes kesehatan menyatakan bahwa tidak ada sumber penyakit yang terdeteksi
  • Tidak takut atau ragu menjalani berbagai pemeriksaan, operasi, dan prosedur lainnya
  • Sangat sering periksa ke dokter, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan yang berbeda-beda
  • Menolak jika dokter yang menangani meminta untuk bertemu dengan keluarga atau menghubungi dokter sebelumnya
  • Meminta bantuan atau perhatian dari orang lain ketika sakit
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan atau vitamin yang diresepkan
  • Menolak jika dirujuk ke konselor, psikolog, terapis, atau psikiater
  • Gejala penyakit hanya muncul pada saat-saat tertentu, misalnya saat bersama dengan orang lain atau saat dirinya sedang ada masalah pribadi
  • Memiliki kebiasaan berbohong atau mengarang cerita

Bisakah sindrom pura-pura sakit disembuhkan?

Seperti gangguan jiwa pada umumnya, penderita sindrom Munchausen tak bisa disembuhkan sepenuhnya. Namun, sindrom pura-pura sakit ini bisa dikendalikan setelah diagnosis ditegakkan dan penderita mau bekerja sama dengan keluarga, kerabat, atau tenaga kesehatan mental profesional untuk menanggulangi sindrom ini.

Jika Anda atau orang terdekat menderita sindrom pura-pura sakit, penanganan yang diberikan biasanya fokus pada perubahan perilaku dan mengurangi ketergantungan penderita pada berbagai prosedur dan perawatan medis. Penanganan yang utama biasanya berupa psikoterapi dengan metode terapi kognitif dan perilaku. Biasanya keluarga dan kerabat penderita juga akan menjalani terapi keluarga untuk mendampingi penderita. Obat-obatan yang diresepkan umumnya berupa antidepresan dan penderitanya harus benar-benar diawasi selama mengonsumsi obat ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Pandemi COVID-19 memberikan dampak beragam, beberapa orang berisiko mengalami PTSD akibat melewati peristiwa mengguncang ini. Siapa saja yang berisiko?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 22/06/2020 . 4 menit baca

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Saat harus tampil di depan umum atau mau kencan pertama, tiba-tiba perut jadi sangat mual karena gugup. Mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 21/06/2020 . 6 menit baca

10 Makanan Terbaik untuk Anda yang Cepat Lapar

Anda sering merasa lapar atau ingin mengunyah sesuatu meski sudah makan? Sudah saatnya mencoba menu makanan berikut ini agar Anda tidak cepat lapar.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 21/06/2020 . 5 menit baca

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 menit baca
kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
menjaga kebersihan diri

Apakah Anda Termasuk Orang yang Cukup Bersih? Cek Dulu di Sini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca
apa itu kolesterol

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca