Panduan Merawat Pengidap Skizofrenia (Atau yang Sering Dicap “Orang Gila”)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Skizofrenia adalah istilah yang cukup asing terdengar di telinga orang awam. Pengidap skizofrenia lebih sering disebut “orang gila” karena mereka sering berhalusinasi; jiwanya terganggu, dan sering dianggap sebagai akibat kesurupan, guna-guna, atau kutukan. Karena inilah, banyak orang “gila” yang dipasung dan diasingkan dari masyarakat setelah berbagai macam upaya pengobatan alternatif tidak ada yang berhasil menyadarkannya.

Menurut laporan Human Rights Watch (HRW), ada sekitar 19 ribu orang Indonesia pengidap skizofrenia yang dipasung, meski pemasungan sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 1977.

Di sisi lain, tak sedikit dari mereka yang cukup “beruntung” untuk tinggal di rumah sakit jiwa atau institusi kesehatan mental lainnya justru menjadi target kekerasan fisik dan seksual dari para oknum petugas, serta dijadikan kelinci percobaan dari berbagai pengobatan “alternatif” meragukan, seperto terapi kejut listrik tanpa bius, racikan obat herbal, hingga kurungan isolasi.

Yang perlu dipahami, kedua praktik ini menyalahi hak asasi manusia dan merupakan metode yang sudah terbukti tidak efektif untuk menangani orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Dengan pengobatan yang tepat, banyak orang skizofrenik dapat hidup normal dan produktif serta menemukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan mereka, layaknya manusia sehat pada umumnya. Ini terutama dapat dicapai dengan dukungan penuh dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya.

Hidup serumah dengan pengidap skizofrenia, apakah mungkin?

Jawaban pendeknya adalah, ya mungkin saja. Namun demikian, hidup serumah dengan pengidap skizofrenia memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Sejumlah strategi ini dapat membantu Anda membimbing orang yang Anda cintai untuk mencapai pemulihan optimalnya, tanpa harus menyabotase kesejahteraan diri sendiri dan anggota keluarga lainnya.

1. Pelajari soal penyakitnya sebaik mungkin

Skizofrenia adalah gangguan mental yang paling umum ditemukan secara global, ditandai dengan ketidakmampuan membedakan mana yang nyata dan mana yang imajinasi. Gejala skizofrenia biasanya ditunjukkan dengan mendengar suara-suara dari dalam kepala atau melihat sesuatu yang tidak nyata.

Menurut WHO, penyakit skizofrenia diidap oleh lebih dari 21 juta orang dari berbagai belahan dunia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, sekitar 1 dari 1000 orang Indonesia terdiagnosis skizofrenia. Tak banyak yang diketahui soal penyebab penyakit ini, tapi pada umumnya kemunculan gejala dipicu oleh beragam faktor, mulai dari genetik, trauma, hingga penyalahgunaan narkoba.

Belajar tentang skizofrenia, gejala, dan pengobatannya akan memungkinkan Anda untuk membuat keputusan tentang bagaimana cara terbaik untuk mengatasi gejala, memotivasi pasien untuk mengejar strategi self-help, menangani kemunduran, dan bekerja sama menuju pemulihan.

2. Konsultasi dengan komunitas skizofrenia atau lembaga bantuan lokal

Untuk bisa memberikan dukungan dan perawatan yang lebih baik lagi, Anda juga butuh mendapatkan bantuan dari pihak luar. Bertemu dan berdiskusi dengan orang lain yang memahami benar tentang penyakit skizofrenia dan situasi yang sedang Anda hadapi saat ini dapat banyak membantu mengangkat rasa stres dan frustrasi, serta ketakutan.

Komunitas keluarga penderita dan institusi bantuan kesehatan dapat menjadi tempat yang sangat berharga bagi keluarga penderita skizofrenia untuk berbagi pengalaman, saran, dan informasi. Tanyakan dokter atau terapis tentang layanan tangguh dan dukungan lain yang tersedia di daerah Anda, atau hubungi rumah sakit lokal dan klinik kesehatan mental yang terpercaya.

Semakin banyak dukungan yang Anda miliki, akan semakin baik bagi Anda dan jalanya pemulihan pengidap skizofrenia. Tapi penting untuk tetap realistis tentang seberapa banyak atau sampai sejauh mana bantuan yang mampu Anda berikan untuknya. Anda tak dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu di situasi yang penuh tekanan seperti ini, dan Anda tidak akan banyak membantu orang yang dicintai jika Anda kelelahan.

3. Pandu penderita untuk mendapatkan perawatan medis

Banyaknya pengidap skizofrenia yang diasingkan atau bahkan dipasung adalah karena adanya anggapan bahwa skizofrenia itu berbahaya. Padahal, berkebalikan dari anggapan bahwa orang gila selalu “gila”, gejala skizofrenia tidak selalu hadir setiap saat dan bisa saja hanya akan muncul jika terpicu oleh satu dan lain hal. Ini artinya, akan ada masa-masa di mana pasien bisa berinteraksi seperti orang normal pada umumnya.

Seseorang dengan skizofrenia sering tidak menyadari bahwa mereka tidak sehat, sampai mereka mendapatkan perawatan. Memotivasinya untuk mendapatkan bantuan medis guna mengelola gejala adalah landasan perawatan yang baik untuk orang dengan skizofrenia. Sebuah studi menunjukkan bahwa pasien skizofrenik yang mendapatkan dukungan dan pengobatan medis memadai tidak akan berbahaya, kecuali jika pasien dibatasi akses kesehatannya atau justru ditelantarkan.

Skizofrenia tidak dapat disembuhkan, namun beberapa gejalanya dapat ditangani dengan kombinasi obat-obatan resep dan terapi kognitif dan perilaku. Dan semua ini akan lebih berdampak maksimal jika dilakukan sedini mungkin. Tapi memang kadang, ketakutan akan stigma “orang gila” membuatnya enggan untuk berobat. Anda dapat membuat dokter kurang mengancam dengan menyarankan kunjungan untuk menangani gejala tertentu seperti insomnia atau kekurangan energi.

4. Selalu dampingi penderita

Penting untuk memastikan bahwa ia tetap di jalur pemulihan yang benar, sekalipun sudah keluar dari rawat inap. Pasien dapat menghentikan obat atau berhenti pergi ke dokter untuk terapi tindak lanjut. Dorongan dan dukungan Anda adalah yang paling penting baginya untuk dapat melanjutkan terapi.

Strategi self-help dengan mengubah gaya hidup juga dapat direkomendasikan untuk memelihara kesejahteraannya secara keseluruhan. Mulai dari pola makan sehat, mengelola stres, berolahraga, berhenti merokok, hingga bergabung dengan kelompok dukungan serupa. Semakin mandiri dirinya dalam menentukan pengobatan penyakitnya, perasaan putus asa dan nelangsa yang menyelimutinya akan semakin terkikis pula. Ini pada akhirnya dapat memudahkan dokter untuk menyesuaikan pengobatannya.

5. Jangan iyakan imajinasinya

Mereka yang berhubungan dekat dengan pasien skizofrenia sering tidak yakin bagaimana caranya merespon ketika pasien membuat pernyataan yang tampaknya aneh atau jelas-jelas salah. Untuk pasien skizofrenia, keyakinan aneh atau halusinasi tampak nyata — bukan hanya imajinasi. Tapi daripada mengiyakan prinsipnya, Anda dan anggota keluarga lain dapat memberi tahu mereka bahwa Anda tidak melihat/mendengar hal-hal tersebut, atau tidak setuju dengan pemikirannya, sementara sambil tetap mengakui apa yang dirasakan pasien. Misalnya, bereaksi seperti “Tidak, aku tidak mendengar itu,” daripada “Ah, itu semua hanya khayalanmu saja!”

Penting untuk tidak menyepelekan kepercayaan atau delusi pasien. Apa yang mereka rasakan adalah nyata bagi diri mereka yang mengalaminya, dan tidak akan ada gunanya untuk berdebat mana yang benar dan salah dengan mereka. Sebaliknya, ubah topik pembicaraan ke hal-hal lain yang Anda berdua sama-sama setujui atau ganti topik yang berbeda sama sekali.

6. Bantu ia hidup mandiri

Selain keterlibatan dalam mencari bantuan, interaksi dengan anggota keluarga lain, teman, dan kelompok sebaya dapat memberikan dukungan dan mendorong pasien untuk meraih kembali hidupnya. Penting untuk memiliki tujuan yang dapat dicapai, misalnya: membuatnya mampu mengambil keputusan secara mandiri atau mengurus kamar tidurnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Daripada melakukan segalanya untuk dirinya, bantu mereka mengembangkan atau mempelajari kembali keterampilan yang akan memungkinkan dirinya mendapatkan kemandirian.

Tapi sama seperti orang lain, orang dengan skizofrenia perlu tahu kapan mereka melakukan hal yang benar. Pasien yang merasa tertekan atau berulang kali dikritik oleh orang lain mungkin akan mengalami stres berat yang dapat menyebabkan memburuknya gejala. Sebuah pendekatan yang positif dapat membantu dan mungkin lebih efektif dalam jangka panjang daripada kritik pedas. Saran ini juga berlaku untuk semua orang yang berinteraksi dengan orang tersebut.

7. Buat catatan perkembangannya

Catatan ini akan banyak berguna bagi Anda dan anggota keluarga lainnya untuk melacak setiap jenis gejala yang muncul, apa obat yang telah digunakan (termasuk dosisnya), dan apa efek dari setiap perawatan. Dengan mengetahui apa saja gejala yang telah hadir sebelumnya, anggota keluarga mungkin akan lebih siap untuk menghadapinya di masa depan.

Keluarga bahkan mungkin dapat mengidentifikasi beberapa “tanda-tanda peringatan dini” dari potensi gejala kambuh, seperti kelelahan ekstrim atau perubahan pola tidur, yang bahkan lebih baik dan lebih awal dari pasien itu sendiri. Dengan demikian, gejala psikosis dapat dideteksi dini dan pengobatan dapat mencegah penyakit kembali mengambil alih dirinya.

Selain itu, dengan mengetahui obat mana yang banyak membantu dan mana yang menyebabkan efek samping merepotkan di masa lalu, keluarga dapat memudahkan dokter untuk menemukan pengobatan terbaik untuk mereka lebih cepat.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca