Si Kecil Terlalu Cepat Akrab dengan Orang Asing, Wajar Tidak?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 24/01/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Tidak semua orang mudah akrab dengan orang lain, terlebih bagi anak-anak. Ketika Anda berhasil melakukannya, ini menandakan bahwa Anda termasuk orang yang mudah bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar. Namun, Anda patut waspada bila si kecil terlihat mudah akrab dengan orang yang tak dikenal, bahkan sampai tak segan untuk diajak menjauh dari jangkauan Anda. Ini bisa menandakan adanya kelainan psikologis pada si kecil. Bagaimana bisa? Berikut penjelasannya.

Mudah akrab dengan orang lain bisa termasuk kelainan psikologis

menarik lengan anak

Bila diperhatikan, anak-anak biasanya merasa takut saat berdekatan dengan orang yang tidak dikenal. Hal ini cenderung wajar dilakukan sebagai upaya melindungi diri dari berbagai ancaman yang membuat si kecil merasa tidak nyaman.

Namun, tidak sedikit pula anak-anak yang mudah berinteraksi dengan orang asing yang baru dikenalnya. Bahkan saking ramahnya, mereka tidak takut untuk mendekat dan bermain bersama.

Bila para orangtua tidak waspada, hal ini dapat membuka celah kejahatan yang mengancam si kecil. Contohnya, anak Anda akan diajak untuk bermain terlebih dahulu, lalu lama kelamaan si kecil akan mudah diajak untuk masuk ke mobil dan berakhir pada kasus penculikan anak.

Hati-hati, sikap ramah anak yang terlalu berlebihan terhadap orang asing dapat menandakan adanya kelainan psikologis. Kondisi ini disebut sebagai disinhibited social engagement disorder (DSED) atau mudah akrab dengan orang asing secara tidak wajar.

Ketika seseorang dengan kelainan DSED didekati oleh orang asing, ia akan merasa mendapatkan dukungan secara emosional. Anak dengan kelainan DSED akan mudah mendekati orang asing saat ia terjatuh untuk meminta pertolongan, daripada meminta pertolongan pada pengasuh atau kedua orangtuanya.

Kenapa anak bisa mudah akrab dengan orang asing?

mengajarkan anak untuk menghargai penyandang disabilitas

Kelainan DSED umumnya dialami oleh anak-anak, terutama pada mereka yang mengalami trauma di masa lalu. Hal ini karena anak-anak cenderung lebih mudah terkecoh dan belum bisa membedakan mana orang baik dan mana orang yang jahat.

Para peneliti mengungkapkan bahwa anak-anak cenderung menilai seseorang dari penampilannya. Karena itulah, anak-anak biasanya menilai orang baik dan orang jahat dengan melihat wajahnya. Jika dari wajahnya saja terlihat menyeramkan dan membuatnya takut, anak akan merasa terancam dan kemudian bergerak menjauh.

Namun sayangnya, anak-anak yang mengalami kelainan DSED akan menganggap semua orang baik dan membuatnya merasa nyaman. Mereka tak lagi melakukan penilaian dari wajah dan penampilan orang asing.

Ketika orang asing memberikannya kenyamanan, maka anak-anak dengan kelainan DSED tidak akan berpikir dua kali untuk menunjukkan kasih sayang yang sama.

Membedakan sifat mudah akrab yang normal dan tidak normal

anak bermain

Mudah akrab dengan orang baru memang merupakan hal yang positif, asalkan dalam batas yang wajar. Sebab bagaimanapun, Anda tetap perlu mengajarkan si kecil untuk bersosialisasi dan bersikap ramah dengan orang lain.

Jika si kecil mengalami kelainan mudah akrab dengan orang asing, maka ia akan menunjukkan gejala seperti:

  • Merasa bahagia saat berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal
  • Bersikap ramah, banyak bicara, dan menempel secara fisik dengan orang asing
  • Pergi tanpa izin untuk menemui kenalan barunya. Biasanya, orang dengan DSED merasa tidak perlu untuk meminta izin berkeliaran ke luar rumah

Jika anak menunjukkan perilaku tersebut selama lebih dari 12 bulan, maka anak mungkin memang mengalami kelainan DSED dan hal ini dapat terbawa sampai ia remaja. Dilansir dari Verywell, kelainan DSED dapat terjadi bersamaan dengan gangguan kesehatan lainnya, seperti keterlambatan kognitif dan bahasa hingga malnutrisi.

Lantas, mungkinkah kelainan DSED diatasi?

orangtua dengan anak

Kelainan DSED tidak dapat membaik dengan sendirinya. Ketika Anda menemukan tanda dan gejala kelainan DSED pada anak maupun orang-orang terdekat Anda, segera kunjungi psikolog atau terapis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Para psikolog atau terapis biasanya akan melakukan psikoterapeutik dengan melibatkan anak dan pengasuh atau orangtuanya. Psikoterapeutik tersebut dapat berupa terapi bermain atau terapi seni di lingkungan yang nyaman untuk anak.

Tujuan terapi tersebut adalah untuk membantu memperkuat ikatan antara anak dengan orangtua atau pengasuhnya. Dengan demikian, si kecil akan mulai mengurangi kebiasaan mudah akrab dengan orang yang tidak dikenal.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Psikologi 09/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

melatih otak agar percaya diri

3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 20/07/2020 . Waktu baca 5 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit