Hati-hati Bahaya Memendam Emosi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Sebagian orang mungkin terbiasa untuk memendam emosinya dan tidak mengekspresikannya ke luar. Padahal, terbiasa menyimpan semuanya sendiri dan tidak membagikannya ke orang lain membuat beban pikiran dan mental menjadi bertambah. Kecenderongan menyembunyikan pikiran dan perasaan agar tidak diketahui oleh orang lain mungkin malah dapat membuat lebih banyak masalah untuk diri sendiri.

Tahukah Anda bahwa pikiran dan perasaan negatif yang dipendam sendiri secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental?

Bahaya memendam emosi

Ketika emosi tidak dikeluarkan, energi negatif hasil dari emosi tidak pergi dari tubuh dan akan tertahan dalam tubuh. Energi negatif yang seharusnya dikeluarkan menjadi tersimpan dalam tubuh dan dapat mengganggu fungsi organ tubuh, termasuk otak. Berikut ini beberapa bahaya memendam emosi bagi kesehatan:

1. Meningkatkan risiko penyakit dan kematian

Energi akibat dari emosi merupakan energi yang tidak sehat bagi tubuh. Energi dari emosi yang ditekan bisa menjadi penyebab dari tumor, pengerasan arteri, kaku sendi, serta melemahkan tulang, sehingga hal ini dapat berkembang menjadi kanker, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan membuat tubuh rentan terhadap penyakit.

Memendam emosi juga membawa pengaruh buruk bagi kesehatan fisik dan mental. Penelitian yang diikuti selama 12 tahun menunjukkan bahwa orang yang sering memendam perasaannya memiliki kemungkinan mati muda setidaknya 3 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang terbiasa mengekspresikan perasaannya. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Psychosomatic Research ini menemukan bahwa memendam emosi dapat meningkatkan risiko kematian karena penyakit jantung dan juga kanker (Chapman, et al., 2013). Penelitian ini juga turut membuktikan penelitian sebelumnya yang menghubungkan antara emosi negatif, seperti marah, cemas, dan depresi, dengan pengembangan dari penyakit jantung (Kubzansky dan Kawachi, 2000).

Orang yang terbiasa memendam emosinya akan membawa pikiran negatif dalam tubuh yang dapat mengganggu keseimbangan hormon. Hal ini meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan kerusakan sel, seperti kanker.

Risiko kesehatan meningkat ketika seseorang tidak mempunyai cara mengekspresikan perasaannya. Dalam kasus apapun, para peneliti memperingatkan bahwa emosi yang tertahan dalam tubuh dan pikiran dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang serius dan bahkan kematian dini. Beberapa ahli menyarankan untuk dapat mengutarakan emosi yang dirasakan, terutama emosi yang menyedihkan, agar kesehatan mental tetap terjaga. Marah dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stres.

2. Rentan terhadap inflamasi (peradangan)

Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi dan kerentanan terhadap inflamasi atau peradangan. Peneliti Finlandia melaporkan bahwa orang-orang dengan diagnosis ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi, juga dikenal sebagai Alexythymia, memiliki kadar zat kimia inflamasi, seperti protein C-reaktif sensitivitas tinggi (hs-CRP) dan interleukin (IL-6), yang lebih tinggi dalam tubuh. CRP merupakan penanda inflamasi untuk jantung koroner.

Studi lainnya yang dilakukan oleh Middendorp, et al. (2009) pada penderita rheumatoid arthritis menemukan bahwa orang-orang yang didorong untuk bertukar perasaan dan mengekspresikan emosi akan memiliki kadar penanda inflamasi dalam darah yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memendam perasaan mereka untuk diri mereka sendiri. Pada tahun 2010 sebuah studi yang dilakukan pada 124 siswa menemukan bahwa situasi sosial di mana orang merasa dihakimi atau ditolak meningkatkan kadar dua bahan kimia pro-inflamasi, yaitu interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-alpha) yang sering ditemukan pada penyakit autoimun.

Hasil sebaliknya ditemukan pada penelitian yang menunjukkan bahwa orang-orang yang bahagia memiliki kadar zat kimia inflamasi yang lebih rendah. Sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam Journal of Association for Psychological Science, menemukan bahwa pendekatan kehidupan dengan sikap positif adalah penawar yang kuat terhadap stres, nyeri, dan penyakit.

Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa memendam emosi dapat memicu penyakit dalam tubuh. Zat penanda inflamasi ditemukan lebih tinggi pada orang-orang yang tidak bisa mengekspresikan emosi mereka. Inflamasi sendiri dapat terjadi di beragam penyakit, seperti penyakit jantung, artritis, asma, dementia, osteoporosis, irritable bowel syndrome (IBS), dan beberapa jenis kanker. Oleh karena itu, orang yang tidak bisa menyalurkan pikiran dan perasaannya dapat terserang berbagai macam penyakit.

Bagaimana jika saya ingin berhenti memendam emosi?

Memendam emosi bukanlah jalan keluar untuk masalah Anda. Anda perlu mengeluarkan dan mengekspresikannya untuk mengurangi beban pikiran dan mental Anda. Memendam emosi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek negatif pada kesehatan fisik dan mental Anda. Oleh karena itu, Anda harus tahu bagaimana cara menangani emosi Anda. Berikut beberapa cara menangani emosi:

  • Jujur pada diri sendiri. Bukan berarti Anda harus mengekspresikan semua perasaan Anda setiap waktu, tetapi dalam berbagai situasi Anda dapat mengatakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya Anda rasakan. Jangan menyembunyikan dan mengelakkan perasaan Anda sendiri.
  • Ketahui apa yang sedang Anda rasakan. Terkadang Anda tidak mengetahui apa yang sedang Anda rasakan. Kenali perasaan yang Anda rasakan pada diri Anda dan renungkan apa yang menyebabkan mereka.
  • Bicarakan perasaan Anda dengan orang lain. Jika Anda sedang emosional, bicarakan apa yang Anda rasakan dan pikirkan dengan orang lain. Hal ini dapat membantu membuat Anda lebih tenang.
  • Jadilah seorang pengamat. Anda harus mengetahui kapan sebaiknya Anda dapat mengeluarkan emosi Anda. Tidak di setiap waktu dan di sembarang tempat Anda bisa mengekspresikan emosi Anda. Terkadang Anda harus menahannya sebentar dan mengeluarkannya di waktu yang tepat. Jika Anda tidak mampu menahannya, tarik napas dalam-dalam dan ubah posisi tubuh Anda. Hal ini dapat membantu menenangkan Anda.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Akantosis Nigrikans, Saat Kulit Menebal dan Menghitam Akibat Diabetes

    Akantosis nigrikans adalah gangguan kulit yang ditandai dengan kulit menebal dan menggelap. Kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda diabetes.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 5 menit

    11 Cara Mencegah Diabetes yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini

    Meski tak bisa disembuhkan, ada berbagai macam cara untuk mencegah diabetes. Tindakan pencegahan diabetes ini pun sangat sederhana. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Penyakit Diabetes, Diabetes Tipe 2 8 September 2020 . Waktu baca 9 menit

    8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

    Ada banyak hal yang menjadi penyebab sering buang air kecil, mulai dari kebiasaan minum, konsumsi obat, hingga penyakit. Apakah Anda memiliki salah satunya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
    Urologi, Kandung Kemih 6 Agustus 2020 . Waktu baca 6 menit

    3 Cara Melatih Otak Supaya Lebih Percaya Diri

    Beberapa literatur mengungkapkan bahwa dengan melatih otak agar percaya diri, kepercayaan diri Anda juga perlahan dapat meningkat.

    Ditulis oleh: Theresia Evelyn
    Hidup Sehat, Tips Sehat 20 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    melihat bullying

    5 Hal yang Harus Anda Lakukan Ketika Menyaksikan Bullying

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 5 menit
    merawat kulit orang diabetes

    Berbagai Perawatan untuk Menjaga Kesehatan Kulit

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 18 September 2020 . Waktu baca 8 menit
    apa itu depresi

    Penyakit Mental

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
    transplantasi ginjal

    Transplantasi Ginjal

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 15 September 2020 . Waktu baca 11 menit