1. Definisi

Apa itu demam tifoid (tipes)?

Demam tifoid merupakan penyakit yang cukup berbahaya dan disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi yang bisa kita dapatkan lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Orang Indonesia sering menyebutnya dengan penyakit tifus atau tipus atau tipes, meskipun dalam istilah kedokteran sendiri sebetulnya tifus adalah penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri yang dibawa hewan pengerat seperti tikus.

Apa saja tanda dan gejalanya?

Orang yang mengalami demam tifoid biasanya mengalami demam berkelanjutan dengan suhu 39° sampai 40° C. Sebagian pasien mungkin juga merasa lemah, atau merasakan sakit perut, sakit kepala, atau kehilangan nafsu makan. Dalam beberapa kasus, muncul ruam dan bintik-bintik berwarna pink di kulit. Satu-satunya cara untuk mengetahui secara pasti apakah penyakit yang dialami pasien adalah demam tifoid atau tidak, mereka harus diperiksa sampel tinja atau darahnya.

2. Cara menanganinya

Apa yang harus saya lakukan?

Jika Anda mengalami demam tinggi dan merasa badan Anda sangat sakit, segera kunjungi dokter Anda supaya ia bisa memeriksa keadaan Anda. Demam tifoid diobati dapat dengan antibiotik. Belakangan ini, resistensi Salmonella terhadap beberapa antibiotik mulai meningkat. Resistensi ini membuat proses pengobatan infeksi menjadi lebih rumit. Uji kerentanan antibiotik dapat membantu memandu Anda memilih cara penyembuhan yang tepat. Pilihan pengobatan antibiotik di antaranya adalah fluoroquinolones (untuk infeksi yang rentan), ceftriaxone, dan azitromisin. Pasien yang tidak mendapatkan pengobatan dapat terus mengalami demam selama beberapa minggu atau bahkan bulan, dan sejumlah 20% mungkin dapat meninggal akibat komplikasi karena infeksi.

Kapan saya harus ke dokter?

Jika Anda mengalami demam tinggi dan merasa tidak enak badan, temui dokter Anda segera.

3. Pencegahan

Jika Anda ingin mencegah terkena demam tifoid, terutama jika Anda akan bepergian ke negara di mana Anda rentan tertular penyakit tifoid, Anda harus mempertimbangkan untuk mendapat vaksin tifoid. Kunjungi dokter untuk mendiskusikan apakah Anda perlu mendapatkan vaksin sebelum berangkat.

Ingat bahwa Anda perlu melengkapi vaksinasi Anda setidaknya 1-2 minggu sebelum Anda memulai perjalanan sehingga vaksin dapat bekerja dengan baik. Vaksin tifoid dapat kehilangan efektivitas setelah beberapa tahun. Jika dahulu Anda sudah pernah divaksinasi, periksakan ke dokter Anda untuk melihat apakah saat ini sudah waktunya untuk mendapat vaksin lagi. Minum antibiotik tidak akan dapat mencegah demam tifoid; antibiotik

hanya membantu mengobati.

Orang-orang  yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid atau harus menunda terlebih dahulu adalah orang-orang yang memiliki kriteria berikut:

Untuk vaksin tifoid yang tidak aktif (suntik):

  • Tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah 2 tahun
  • Siapapun yang pernah mengalami reaksi parah terhadap vaksin tifoid tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid lagi
  • Siapapun yang mengalami alergi parah terhadap komponen yang ada di vaksin ini tidak boleh divaksin. Katakan kepada dokter Anda jika Anda mengalami alergi parah.
  • Siapapun yang sedang sakit ringan atau sakit parah pada saat jadwal pemberian vaksin biasanya harus menunggu sampai ia sembuh sebelum mendapatkan vaksin.

Untuk vaksin tifoid hidup (diminum):

  • Tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah 6 tahun
  • Siapapun yang pernah mengalami reaksi parah terhadap vaksin tifoid tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid lagi
  • Siapapun yang mengalami alergi parah terhadap komponen yang ada di vaksin ini tidak boleh divaksin. Katakan kepada dokter Anda jika Anda mengalami alergi parah.
  • Siapapun yang sedang sakit ringan atau sakit parah pada saat jadwal pemberian vaksin biasanya harus menunggu sampai ia sembuh sebelum mendapatkan vaksin.
  • Siapapun yang sistem kekebalan tubuhnya sedang lemah tidak perlu mendapatkan vaksin tifoid.

Mereka harus mendapatkan suntikan tifoid sebagai gantinya. Ini berlaku untuk siapa saja yang:

  • Mengidap HIV/AIDS atau penyakit lain yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh
  • Yang sedang diobati dengan obat yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti steroid, selama 2 minggu atau lebih
  • Mengidap jenis kanker
  • Menggunakan pengobatan kanker dengan radiasi atau pemberian obat-obatan
  • Vaksin tifoid yang diminum sebaiknya tidak diberikan sampai setidaknya 3 hari setelah pemberian antibiotik

Tanyakan kepada dokter atau perawat untuk informasi lebih lanjut.

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca