Banyak yang Mengira Sama, Ini 4 Perbedaan Protein Hewani dan Protein Nabati

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 05/05/2018
Bagikan sekarang

Protein adalah zat gizi yang sangat penting untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Apalagi bagi anak-anak, protein adalah nutrisi yang harus dipenuhi untuk menunjang tumbuh kembangnya. Mungkin Anda sudah tahu jika ada dua sumber protein yang biasanya dikonsumsi, yaitu protein hewani dengan protein nabati. Meski sama-sama protein, apa bedanya dari keduanya? Simak perbedaan protein hewani dengan protein nabati berikut ini.

Berbagai perbedaan protein hewani dengan protein nabati

1. Punya kandungan asam amino yang berbeda

Asam amino adalah struktur terkecil dari protein yang nantinya akan diserap dalam tubuh. Pada dasarnya terdapat 20 jenis asam amino yang digunakan dalam tubuh manusia.

Jenis asam amino ini ada yang jenis esensial, maupun asam amino non esensial. Asam amino jenis esensial tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga sangat bergantung dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Sedangkan jenis asam amino non esensial ini dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, jadi tidak perlu didapatkan dari luar.

Untuk hasil yang optimal, tubuh memerlukan semua jenis asam amino ini. Protein hewani seperti daging, ikan, daging unggas, telur, susu dan produknya mengandung lebih lengkap jenis asam amino esensial dibandingkan protein nabati.

Sebaliknya, makanan protein nabati seperti kacang-kacangan termasuk tahu dan tempe tidak memiliki kelengkapan jenis asam amino seperti protein hewani, kecuali, protein nabati dari kacang kedelai.

Beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa protein dari kacang kedelai cukup lengkap. Namun ada dua jenis asam amino esensial yang hanya ditemukan dalam jumlah kecil dalam kedelai, sehingga meskipun lengkap kadarnya tidak sebanding dengan protein hewani.

2. Sumber protein hewani punya lebih banyak vitamin dan mineral

Makanan sumber protein hewani cenderung memiliki zat gizi mikro yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan sumber protein nabati. Sumber zat gizinya antara lain:

  • Vitamin B12: vitamin B12 ini terutama ditemukan pada ikan, daging, unggas dan produk susu. Orang yang tidak mengonsumsi makanan hewani biasanya cenderung kekurangan zat gizi ini.
  • Vitamin D: Vitamin D ini banyak ditemukan pada ikan berlemak, telur, dan produk susu. Beberapa tanaman mungkin ada yang mengandung vitamin D, namun jenis vitamin D pada hewanilah yang lebih mudah diserap oleh tubuh sehingga lebih mudah digunakan.
  • DHA (Deocosahexaenoic acid): adalah asam lemak omega 3 yang ditemukan pada ikan berlemak. DHA ini sangat penting untuk kesehatan otak. Sayangnya, DHA ini sulit didapatkan dari sumber nabati.
  • Zat besi jenis heme: Jenis besi ini sebagian besar ditemukannya pada daging, terutama daging merah. Jenis zat besi heme ini bersifat lebih mudah diserap tubuh daripada jenis besi lainnya yakni besi non-heme yang ditemukan dalam makanan nabati seperti bayam.
  • Zink: Zink juga sebagian besar ditemukan pada protein hewani seperti pada daging sapi atau domba.

3. Protein nabati tidak mengandung kolesterol dan asam lemak jenuh

Meskipun sumber protein hewani terlihat zat gizinya lebih lengkap, tapi Anda harus tetap berhati-hati mengonsumsinya. Pasalnya, kebanyakan sumber dari protein hewani mengandung kolesterol dan asam lemak jenuh.

Ini yang sangat bertolak belakang dengan protein nabati. Protein nabati tidak mengandung kolesterol maupun asam lemak jenuh. Mengonsumsi protein nabati justru dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah.

Tingginya kolesterol dalam protein hewani dapat menimbulkan risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, obesitas, dan diabetes melitus.

Dilansir dalam laman American Council of Science and Health, ternyata terdapat hubungan antara konsumsi daging merah terutama dalam bentuk olahan seperti sosis dan lain sebagainya dengan penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung, stroke, bahkan kanker.

Itu mengapa, Anda harus tetap berhati-hati saat mengonsumsi protein hewani, dan lebih baik mengganti asupannya yang terlalu banyak dengan protein nabati.

Meskipun protein nabati tidak mengandung kolesterol dan asam lemak jenuh, Anda juga perlu berhati-hati dengan cara pengolahannya. Jangan sampai pengolahan sumber nabati membuat makanan Anda jadi dipenuhi dengan asam lemak jenuh.

4. Protein nabati bantu menurunkan berat badan

Makan makanan tinggi protein nabati seperti yang dilakukan orang vegetarian, ternyata memberikan banyak manfaat. Penelitian menunjukan bahwa kelompok vegetarian cenderung memiliki berat badan yang lebih rendah dan memiliki tingkat tekanan darah lebih rendah.

Studi lainnya dalam JAMA Internal Medicine 2016, menunjukan bahwa dari hasil perbandingan tiap kelompok dalam penelitian, kelompok orang yang mengonsumsi protein nabati memiliki berat badan yang lebih rendah dibandingkan dengan sekelompok orang yang mengonsumsi protein hewani.

Makanan protein nabati dapat membantu mengontrol berat badan. Sebab, asupan protein nabati bisa menimbulkan rasa kenyang lebih cepat yang akan hilang lebih lama, sehingga ini sangat baik untuk mengatur jumlah makanan yang dimakan dan cegah kenaikan berat badan.

Meski memiliki keunggulan dan kekurangan, Anda tetap harus mengonsumsi keduanya dalam jumlah yang dianjurkan. Jangan sampai berlebihan ataupun kurang. Jika memang Anda bingung membagi porsi makanan sumber protein hewani dengan protein nabati, Anda bisa berkonsultasi dengan ahli gizi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Ini Berbagai Pilihan Sumber Protein yang Baik Dikonsumsi saat Sahur

Protein adalah salah satu nutrisi yang penting agar tubuh tetap sehat dan kuat, terutama saat puasa. Lantas, apa saja sumber protein yang bai saat sahur?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hari Raya, Ramadan 18/04/2020

Panduan Seputar Kebutuhan Protein untuk Balita Usia 2-5 Tahun

Memenuhi kebutuhan nutrisi balita sangat penting untuk tumbuh kembangnya, termasuk asupan protein. Berikut panduan seputar kebutuhan protein anak.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah

Susu Sapi vs Susu Kedelai, Mana yang Lebih Bernutrisi?

Susu kedelai merupakan salah satu alternatif terbaik untuk susu sapi. Namun, sebenarnya mana yang lebih unggul soal nutrisi di antara keduanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Nutrisi, Hidup Sehat 10/04/2020

Memahami Kebutuhan Protein Bayi dan Pilihan Sumbernya

Sama halnya dengan asupan karbohidrat dan lemak, peran protein di dalam tubuh juga tidak kalah penting untuk bayi. Berapa kebutuhan protein bayi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Direkomendasikan untuk Anda

protein untuk penderita kanker

4 Manfaat Penting Protein bagi Penderita Kanker

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 27/05/2020
susu formula whey protein untuk anak

Manfaat Protein Whey untuk Daya Tahan Tubuh Anak

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Dipublikasikan tanggal: 22/05/2020
manfaat dan risiko makan tahu mentah

Manfaat Makan Tahu Mentah dan Risiko yang Perlu Diketahui

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 07/05/2020
protein rendah kalori

4 Sumber Protein Rendah Kalori yang Bisa Bantu Turunkan Berat Badan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 24/04/2020