Benarkah Lemak Jenuh Dapat Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 11/11/2017
Bagikan sekarang

Sering kali Anda diingatkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak jenuh. Pasalnya, banyak yang bilang lemak jenuh dapat menyebabkan penyakit jantung. Namun, bagaimana lemak jenuh dapat menyebabkan penyakit jantung? Atau sebenarnya hal ini cuma mitos? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apa hubungan lemak jenuh dengan kesehatan jantung?

Mengonsumsi lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL alias kolesterol jahat. Terlalu banyak kolesterol LDL dalam darah dapat menyebabkan penumpukan lemak di pembuluh darah arteri. Hal ini dapat menyebabkan terhambatnya aliran darah ke jantung dan otak sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Kadar kolesterol darah sangat dipengaruhi oleh lemak yang Anda makan. Kolesterol sebagian besar diproduksi di hati dari berbagai jenis lemak yang dimakan oleh Anda. Sehingga, jika Anda terlalu banyak makan makanan yang mengandung lemak jenuh, maka kadar kolesterol LDL Anda akan meningkat.

Oleh karena itu, Anda harus mengganti asupan lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, karbohidrat gandum, atau protein nabati. Pola makan yang direkomendasikan harus tetap mengganti total lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, atau seluruh karbohidrat gandum, untuk mencegah penyakit jantung koroner.

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam jurnal The BMJ di Inggris, tim peneliti menganalisis data dari dua studi di Amerika Serikat yang melibatkan seratus ribu orang lebih dari tahun 1984 hingga 2012.

Hasil studinya menunjukkan bahwa asam lemak jenuh utama yang paling umum dikonsumsi adalah asam laurat, asam miristat, asam palmitat, dan asam stearat. Seluruh asam lemak jenuh ini menyumbang sekitar 9-10 persen dari total energi pada peserta penelitian. Rupanya, setiap asam lemak jenuh ini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.

tanda-tanda penyakit jantung

Jadi apakah konsumsi lemak jenuh bisa meningkatkan risiko penyakit jantung?

Penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menyebutkan bahwa lemak jenuh bukanlah penyebab satu-satunya penyakit jantung. Kalau begitu kenapa banyak yang percaya lemak jenuh membahayakan jantung?

Sebetulnya, anjuran untuk mengurangi makanan dengan lemak jenuh seperti keju, mentega, atau daging merah berasal dari sebuah penelitian asal University of Minnesota pada tahun 1950-an yang dilakukan oleh Ancel Benjamin Keys.

Penelitian yang diadakan di tujuh negara ini menyimpulkan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam darah yang lantas bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. Sejak saat itu, anggapan bahwa lemak jenuh menjadi penyebab penyakit jantung pun menyebar luas di seluruh dunia.

Namun, penelitian tersebut banyak dikritik. Salah satunya, penelitian yang dilakukan tersebut tidak secara acak memilih negara yang dijadikan sasaran analisis, melainkan memilih negara-negara yang membuktikan hipotesisnya. Negara-negara tersebut yaitu Yugoslavia (sekarang pecah menjadi Serbia, Kroasia, Republik Makedonia, Boznia dan Herzegovina, dan Slovenia), Finlandia, dan Italia. Sementara negara-negara yang dikenal paling banyak mengonsumsi lemak seperti Perancis, Swiss, Swedia, dan Jerman tidak diikutsertakan. Padahal, di negara tersebut angka kejadian penyakit jantungnya relatif rendah.

lemak jenuh adalah

Jadi, apakah lemak jenuh aman untuk dikonsumsi?

Penelitian lain dalam Academy of Nutrition and Dietetics justru mengatakan bahwa saat ini bukti bahwa lemak jenuh menyebabkan penyakit jantung belum cukup kuat. Karena itu, sebaiknya Anda tetap mengonsumsi lemak jenuh.

Kebanyakan makanan yang kaya akan lemak jenuh berasal dari sumber hewani, termasuk daging dan susu. Peneliti menguji risiko lemak jenuh pada 38 pria dengan obesitas. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama melakukan diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Kelompok kedua melakukan diet rendah lemak dan tinggi karbohidrat. Penelitian ini dilakukan selama 12 minggu.

Ternyata, hasilnya adalah tidak ada perbedaan risiko penyakit jantung dari kedua kelompok, yaitu yang makan banyak lemak dan sedikit lemak.

Terlepas dari benar atau tidaknya kaitan antara konsumsi lemak jenuh dan penyakit jantung, pola makan dengan gizi seimbang merupakan hal penting. Terlalu banyak mengonsumsi lemak dapat menyebabkan Anda mengalami obesitas. Begitu pun halnya bila Anda terlalu banyak konsumsi karbohidrat.

Intinya, segala sesuatu yang berlebihan tidak baik bagi tubuh Anda. Untuk mencapai hidup sehat, biasakan untuk memiliki pola makan dengan gizi seimbang dan hidup aktif mulai dari sekarang.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Diet Turun Berat Badan yang Aman Tanpa Bahayakan Kesehatan

Mau punya berat badan ideal? Diet sehat jawabannya. Namun, agar diet yang Anda lakukan tidak sia-sia, simak dulu panduan lengkap berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri

Rutin Minum Madu Saat Sahur Bisa Memberikan 5 Kebaikan Ini

Katanya, minum madu saat sahur bisa memberikan segudang manfaat baik bagi tubuh selama menjalani puasa. Tertarik ingin coba? Simak beragam khasiatnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

Menu Wajib Saat Puasa untuk Ibu Hamil

Puasa bukan menjadi alasan untuk membatasi ibu memberikan gizi yang tepat untuk janin.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Hari Raya, Ramadan 17/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

warna rambut

Warna Rambut Sesuai Karakteristik Diri, yang Manakah Anda?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
gerimis bikin sakit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
resep membuat bakwan

4 Resep Membuat Bakwan di Rumah yang Enak Tapi Sehat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020