Pengobatan Apa yang Paling Baik dan Ampuh untuk Degenerasi Makula?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Degenerasi makula merupakan kelainan mata akibat gangguan struktur makula. Makula adalah suatu area kecil di retina yang memiliki jumlah sel penglihatan (batang dan kerucut) terbanyak di bagian tengahnya. Oleh karena itu, kerusakan di daerah makula dapat menyebabkan terjadinya kebutaan.

Saat ini salah satu penyebab utama kebutaan pada pasien usia 50 tahun ke atas di negara maju adalah degenerasi makula dan kini terjadi kecenderungan yang serupa di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Mengenal degenerasi makula lebih jauh

Saat ini, degenerasi makula dibagi menjadi dua jenis berdasarkan ciri-ciri klinisnya, yaitu:

  • Jenis dry (non-neovaskular atau non-eksudatif) mewakili 80 persen kasus degenerasi yang ditandai dengan adanya drusen lunak (penumpukkan zat sisa) pada makula disertai penyusutan retina.
  • Jenis wet (neovaskular atau eksudatif) ditandai dengan terbentuknya pembuluh darah baru yang rapuh pada lapisan koroid, disertai dengan adanya pelepasan bagian luar dari retina (RPE) yang menutrisi sel batang dan kerucut. Bisa juga ditemukan adanya jaringan parut pada retina. Jenis degenerasi ini yang paling progresif karena penglihatan bisa menghilang dalam hitungan jam atau hari. Penanganannya dilakukan menggunakan terapi anti-VEGF (anti-vascular endothelial growth factor). Contohnya yaitu bevacizumab dan aflibercept.

Serba-serbi bevacizumab

Bevacizumab adalah salah satu jenis dari anti-VEGF yang ditemukan pada tahun 1997. Obat ini dibuat dengan menggunakan antibodi imunoglobulin G yang berasal dari manusia dan berikatan dengan VEGF-A. Obat ini pertama kali dipergunakan untuk mengobati kanker paru dan kanker usus besar yang sudah menyebar.

Pada saat ini bevacizumab sering digunakan secara off-label untuk terapi degenerasi makula karena harganya yang murah dengan hasil atau keampuhan yang cukup baik.

Seberapa sering bevacizumab harus diberikan?

Pemberian obat dilakukan melalui suntikan intravitreal, yaitu suntikan yang langsung dilakukan ke dalam mata, tepatnya ke bagian badan kaca. Dosis yang digunakan adalah 1,25 mg (0,05 ml) setiap kali suntik. Penyuntikkan dilakukan sebanyak satu kali setiap bulannya selama tiga bulan dan penyuntikkan lanjutan baru diberikan setelah dokter memeriksa keadaan mata Anda lebih jauh.

Apa efek samping penggunaan bevacizumab?

Bevacizumab masih memiliki bagian Fc dari imunoglobulin G yang menyebabkan obat ini lebih lama dibersihkan dari dalam darah. Hal ini menyebabkan lebih banyak efek samping pemberian obat.

Efek samping yang paling sering ditemukan adalah peningkatan tekanan darah. Selain itu, dilaporkan juga efek samping

penyebab mata katarak

Serba-serbi aflibercept

Aflibercept juga merupakan salah satu jenis dari anti VEGF. Hanya saja, aflibercept merupakan protein rekombinan yang dapat berikatan tidak hanya dengan dengan VEGF-A tetapi juga dengan VEGF-B sehingga memiliki efek pengobatan yang lebih besar. Karena itu, harga aflibercept relatif jauh lebih mahal dibandingkan bevacizumab.

Seberapa sering aflibercept harus diberikan?

Pemberian aflibercept juga dilakukan melalui suntik intravitreal dengan dosis 2 mg (0,05 ml) setiap kali suntik. Penyuntikkan dilakukan sebanyak tiga kali berturut-turut selama tiga bulan, satu kali suntik setiap bulannya. Penyuntikkan selanjutnya hanya dilakukan apabila belum terjadi perbaikan.

Apa efek samping penggunaan aflibercept?

Dibandingkan dengan anti VEGF lainnya, aflibercept memiliki efek samping yang paling kecil. Di antaranya adalah pembuluh darah pecah di mata, mata berair, dan pandangan yang kabur.

Jadi pilih mana, bevacizumab atau aflibercept?

Penelitian terakhir yang dilakukan di Korea Selatan pada tahun 2016 menyatakan bahwa penggunaan bevacizumab dan aflibercept memberikan keampuhan pengobatan yang sama pada penderita degenerasi makula. Hanya saja, pemberian suntikkan ulangan pada pengguna aflibercept lebih sedikit dibandingkan dengan pengguna bevacizumab.

Pada akhirnya, kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Dokter mata Anda mungkin akan mencoba salah satu obat dan melihat dulu apakah Anda akan bereaksi secara negatif atau mengalami efek samping apa pun. Jika ternyata Anda mengalami efek samping atau pengobatannya tidak begitu efektif, dokter akan meresepkan pengobatan lainnya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Desember 30, 2017 | Terakhir Diedit: November 15, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca